RI Ambil Posisi Terbuka di Tengah Perang Dagang
Hefriday | 16 Oktober 2025, 17:54 WIB

AKURAT.CO Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag), Dyah Roro Esti menegaskan bahwa Indonesia tetap berkomitmen menjaga stabilitas dan hubungan perdagangan internasional di tengah meningkatnya ketegangan dagang antara negara-negara besar dunia, termasuk Amerika Serikat (AS) dan China.
Dalam pernyataannya di sela-sela penyelenggaraan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-40 di ICE BSD City, Tangerang, Banten, Kamis (16/10/2025), Dyah Roro menyebut bahwa Indonesia selalu menempatkan diri sebagai mitra dagang yang terbuka terhadap kerja sama dan dialog global.
“Tentu kami menyadari bahwa dengan berbagai macam tantangan geopolitik, Indonesia selalu memposisikan diri sebagai negara yang terbuka untuk bersinergi, berdiskusi, dan mencari solusi terbaik,” ujar Wamendag Roro.
Dyah Roro menambahkan, di tengah meningkatnya perang dagang antarnegara besar, Indonesia tetap menjalankan strategi ekspansi pasar dan memperkuat hubungan dagang dengan berbagai mitra, termasuk dengan negara-negara yang saat ini terlibat perselisihan tarif.
“Kita tetap melakukan ekspansi pasar dan menjaga hubungan baik, termasuk dengan negara-negara superpower yang sedang bersitegang. Prinsipnya, Indonesia selalu hadir sebagai mitra yang menjembatani dan menjaga stabilitas perdagangan global,” ujarnya.
Langkah ini, kata Roro, menjadi bentuk diplomasi ekonomi yang dijalankan pemerintah agar Indonesia tetap menjadi bagian penting dalam rantai pasok global, tanpa berpihak pada salah satu blok ekonomi tertentu.
Wamendag juga menyampaikan harapannya agar ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan China dapat segera mereda.
Menurutnya, konflik tarif antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia itu telah menimbulkan efek domino terhadap kestabilan perdagangan global.
“Kami berharap kondisi ini segera membaik. Dunia usaha membutuhkan kepastian agar arus perdagangan internasional dapat berjalan lancar,” kata Roro.
Meski situasi global sedang bergejolak, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa kinerja ekspor Indonesia ke sejumlah negara mitra utama tetap menunjukkan pertumbuhan yang positif.
Pada periode Januari–Agustus 2025, nilai ekspor nonmigas ke Tiongkok mencapai USD40,44 miliar, meningkat 8,68% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, ekspor ke Amerika Serikat tercatat USD20,60 miliar, dan ke India mencapai USD12,59 miliar.
BPS juga melaporkan bahwa tiga negara penyumbang terbesar terhadap surplus neraca perdagangan Indonesia selama periode yang sama adalah Amerika Serikat (USD12,20 miliar), India (USD9,43 miliar), dan Filipina (USD5,85 miliar).
Data ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat tekanan geopolitik, fundamental ekspor Indonesia masih cukup kuat, terutama dari sektor industri pengolahan dan komoditas unggulan seperti mineral, tekstil, dan produk pertanian.
Konflik dagang antara AS dan China kembali meningkat setelah Beijing mengumumkan pembatasan ekspor unsur tanah jarang pada 9 Oktober 2025.
Langkah ini memperluas kontrol China terhadap teknologi pemrosesan dan manufaktur global.
Sebagai respons, Presiden AS Donald Trump menuduh China bersikap “sangat bermusuhan” dan menilai kebijakan tersebut telah “menyandera” perdagangan dunia.
Ketegangan ini dikhawatirkan akan menekan rantai pasok industri global, termasuk bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia.
Meski demikian, Wamendag Dyah Roro tetap optimistis terhadap daya tahan ekonomi Indonesia.
Dirinya menilai, pertumbuhan investasi, terutama di sektor teknologi digital, serta peningkatan ekspor dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), menjadi bukti ketangguhan ekonomi nasional.
“Kita punya modal kuat. Ekosistem UMKM tumbuh pesat, dan banyak di antaranya telah menembus pasar ekspor. Selain itu, investasi digital juga terus meningkat, yang menunjukkan kepercayaan dunia terhadap ekonomi Indonesia,” ungkapnya.
Kementerian Perdagangan mencatat, hingga Agustus 2025, nilai transaksi penjajakan bisnis (business matching) antara pelaku UMKM dan calon pembeli luar negeri mencapai USD90,90 juta, atau setara Rp1,49 triliun.
Capaian ini menunjukkan peran UMKM sebagai motor penggerak ekspor nonmigas Indonesia di tengah perlambatan ekonomi global.
Pemerintah pun terus memperluas akses pasar dan pelatihan ekspor bagi pelaku UMKM di berbagai daerah.
Roro menegaskan, di tengah kondisi dunia yang penuh ketidakpastian, Indonesia akan tetap memegang prinsip netralitas aktif dalam menjalin kerja sama ekonomi global.
Pendekatan yang inklusif dan kolaboratif dinilai menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan perdagangan internasional.
“Indonesia selalu berusaha menjadi jembatan antara negara-negara besar. Kami percaya kolaborasi dan keterbukaan adalah kunci untuk menciptakan perdagangan dunia yang adil dan berkelanjutan,” tegasnya.
Gelaran Trade Expo Indonesia (TEI) 2025 menjadi momentum penting bagi pemerintah dalam memperkuat citra Indonesia sebagai mitra dagang yang terpercaya.
Melalui pameran berskala internasional ini, Kemendag memfasilitasi ribuan pelaku usaha dalam menjajaki pasar baru dan memperluas jaringan global.
“TEI bukan hanya ajang promosi, tetapi juga ruang untuk memperkuat hubungan dagang lintas negara dan menunjukkan ketangguhan ekonomi Indonesia,” ujar Roro.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










