Jadi Motor Baru Pertumbuhan, Ekspor Ekraf RI Tembus Rp400 Triliun di 2024
Hefriday | 16 Oktober 2025, 17:12 WIB

AKURAT.CO Sektor ekonomi kreatif (ekraf) terus menunjukkan kinerja positif dan menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya menyebut, ekspor produk ekraf Indonesia pada akhir 2024 mencapai USD25 miliar atau sekitar Rp400 triliun, setara dengan lebih dari 9% dari total ekspor nasional.
“Nilai ekspor ekonomi kreatif kita terus menunjukkan tren positif. Capaian tahun 2024 menjadi bukti bahwa sektor ini memiliki daya saing tinggi di pasar global,” ujar Riefky dalam acara “1 Tahun Pemerintahan Prabowo–Gibran” di Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (16/10/2025).
Pemerintah menargetkan ekspor ekonomi kreatif meningkat menjadi USD26 miliar pada 2025, seiring dengan tumbuhnya investasi dan kolaborasi lintas sektor.
Riefky optimistis target tersebut dapat tercapai karena pada semester pertama 2025, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekspor ekraf sudah menembus 50% dari target tahunan.
“Kalau kita lihat trennya, hingga pertengahan tahun sudah tercapai separuh target. Tahun depan, 2026, kami menargetkan ekspor naik lagi menjadi 28 miliar dolar AS atau sekitar Rp450 triliun,” katanya.
Selain ekspor, sektor ekonomi kreatif juga menunjukkan peningkatan signifikan dari sisi investasi. Hingga semester I tahun 2025, nilai investasi di sektor ini telah mencapai sekitar 66% dari total Rp90,1 triliun.
Investasi terbesar berasal dari subsektor aplikasi, fashion, kuliner, dan kriya yang menjadi pilar utama industri kreatif nasional.
Sementara itu, subsektor seperti gim, musik, dan film animasi mulai memperlihatkan pertumbuhan yang menjanjikan meski belum sebesar empat subsektor unggulan tersebut.
“Investasi paling tinggi masih datang dari subsektor aplikasi. Namun subsektor lain seperti gim, musik, dan animasi juga mulai berkembang dan menarik minat investor,” ungkap Riefky.
Sektor ekraf tidak hanya berkontribusi terhadap ekspor dan investasi, tetapi juga terhadap penyerapan tenaga kerja nasional.
Berdasarkan data Kementerian Ekonomi Kreatif, jumlah tenaga kerja di sektor ini mencapai 26,5 juta orang, dengan mayoritas berasal dari kalangan anak muda dan perempuan.
Riefky menilai hal ini menunjukkan bahwa ekonomi kreatif berperan penting dalam memperkuat kelas menengah produktif sekaligus menciptakan lapangan kerja berkualitas di tengah transformasi digital.
Menurut Riefky, ada tiga modal besar yang menjadi kekuatan utama pengembangan ekonomi kreatif Indonesia.
Pertama, akar budaya yang kuat sebagai sumber inspirasi produk dan karya kreatif. Kedua, populasi generasi muda yang besar dan adaptif terhadap teknologi.
Ketiga, transformasi digital yang masif di berbagai sektor ekonomi.
“Ketiga faktor ini menjadi fondasi penting bagi kemajuan industri kreatif nasional. Kita tidak hanya bicara hilirisasi, tetapi juga memperluas pasar ekspor produk kreatif ke mancanegara,” jelasnya.
Pemerintah juga tengah memperkuat dukungan kebijakan agar pelaku ekonomi kreatif lebih mudah mendapatkan akses pembiayaan.
Salah satu langkah konkret adalah menjadikan kekayaan intelektual (Intellectual Property/IP) sebagai jaminan atau fidusia bagi pelaku industri kreatif.
Kementerian Ekonomi Kreatif saat ini berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan perbankan agar skema ini bisa diimplementasikan lebih luas.
“Sebagian besar pelaku ekraf tidak memiliki aset fisik seperti tanah atau bangunan. Karena itu, kami mendorong agar kekayaan intelektual bisa dijadikan jaminan. OJK sudah memiliki aturan pendukung, tinggal perlu sosialisasi lebih luas,” kata Riefky.
Selain dengan OJK, Kemenparekraf juga menjalin kerja sama dengan berbagai kementerian dan lembaga, seperti Kementerian Keuangan, Kementerian UMKM, Kementerian Kebudayaan, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Bank Indonesia, dan Kementerian Hukum dan HAM.
Kolaborasi lintas sektor ini bertujuan memperkuat ekosistem kreatif nasional, mulai dari pengembangan SDM, akses pembiayaan, hingga perlindungan hukum terhadap hak kekayaan intelektual pelaku industri kreatif.
Dengan kontribusi ekspor yang mencapai lebih dari Rp400 triliun, ekonomi kreatif kini menjadi salah satu penopang utama ekspor non-migas Indonesia.
Produk-produk seperti fesyen, kriya, dan kuliner khas Nusantara mendapat sambutan positif di pasar global, terutama di kawasan Asia Timur, Eropa, dan Timur Tengah.
Riefky mengatakan, pemerintah akan terus memperluas pasar ekspor dengan memperkuat branding dan promosi global melalui program seperti Indonesia Creative Hub dan Creative Economy Roadmap 2030.
Melihat tren pertumbuhan yang konsisten, sektor ekonomi kreatif kini disebut sebagai motor baru pertumbuhan nasional.
Pemerintah menilai, dengan kombinasi antara ekspor, investasi, dan penyerapan tenaga kerja, ekraf memiliki potensi untuk menyumbang pertumbuhan ekonomi di atas 1% per tahun.
“Kita ingin ekraf menjadi tulang punggung ekonomi masa depan Indonesia. Sektor ini terbukti resilien, kreatif, dan inklusif, serta mampu menciptakan lapangan kerja berkualitas,” tegas Riefky.
Menutup pernyataannya, Riefky menyampaikan optimisme terhadap masa depan ekonomi kreatif Indonesia.
Dirinya menilai, dengan dukungan pemerintah, kolaborasi lintas sektor, serta inovasi dari para pelaku kreatif muda, Indonesia berpeluang menjadi pusat ekonomi kreatif terbesar di Asia Tenggara.
“Kita punya potensi besar untuk menjadi pemain utama dalam industri kreatif global. Asal kolaborasi, inovasi, dan dukungan regulasi terus berjalan beriringan, saya yakin sektor ini akan menjadi kebanggaan nasional,” tukasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










