Boikot Produk Israel Tak Goyahkan Ekonomi RI, Justru Dongkrak Produk Lokal

AKURAT.CO Gerakan boikot terhadap produk terafiliasi Israel ternyata tidak membuat ekonomi Indonesia goyah.
Sebaliknya, aksi ini justru menjadi motor penggerak bagi kebangkitan produk lokal. Kekhawatiran akan terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) massal pun terbukti tidak berdasar.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan, boikot adalah salah satu senjata moral dan ekonomi paling ampuh untuk menekan agresi Israel terhadap Palestina.
Data survei menunjukkan dampak nyata: dari 37 produk ibu dan bayi yang terafiliasi Israel, 92% mengalami penurunan penjualan drastis. Nasib serupa dialami 74% dari 29 merek produk kesehatan yang ikut diboikot.
“Target kami jelas, hentikan serangan ke Palestina. Dan kami pastikan, tidak ada efek buruk bagi ekonomi dalam negeri,” tegas Ketua MUI Bidang Dakwah, KH Cholil Nafis, di Jakarta, dikutip pada Sabtu (11/10/2025).
Menurutnya, gerakan boikot justru melahirkan “juara-juara baru”. Produk lokal kini naik kelas, menggantikan posisi merek asing multinasional yang kehilangan pasar. Dampaknya, ekonomi nasional pun ikut terkerek naik.
Wakil Sekretaris Jenderal MUI, Ikhsan Abdullah, menepis keras isu PHK massal akibat boikot. Ia menyebut isu tersebut sengaja diembuskan oleh pihak-pihak yang selama ini menikmati keuntungan besar dari produk terafiliasi Israel.
Baca Juga: MUI Bongkar Upaya Perusahaan Terafiliasi Israel ‘Cuci Citra’ Lewat Donasi Palestina
“Mereka panik karena laba mereka tergerus. Isu PHK itu hanyalah senjata untuk melemahkan gerakan boikot,” ujarnya.
Aktivis Pro-Palestina, Shafira Umm, menilai boikot justru menjadi panggung bagi produk dalam negeri untuk unjuk gigi.
Ia menyebut momentum ini sebagai kesempatan emas bagi anak bangsa untuk menunjukkan kemampuan dan kreativitasnya.
“Kita punya semua sumber daya untuk menghasilkan produk pengganti yang berkualitas,” tegas Shafira.
Senada, Wakil Ketua Umum Dewan Pakar PP Dewan Masjid Indonesia (DMI), Imam Addaruqutni, menilai gerakan boikot membuka jalan bagi penguatan ekonomi kerakyatan.
Namun, ia mengingatkan pentingnya edukasi masyarakat agar gerakan ini terus berlanjut secara berkesinambungan.
Badan Musyawarah Islam Wanita Indonesia (BMIWI) pun turut bergerak cepat. Mereka aktif menyosialisasikan Fatwa MUI Nomor 83 Tahun 2023 tentang dukungan terhadap perjuangan Palestina dan larangan membeli produk yang terafiliasi dengan Israel.
“Perempuan adalah konsumen terbesar. Karena itu kami bergerak dari tingkat provinsi hingga ke akar rumput,” ujar Ketua Presidium BMIWI, Lin Kandedes.
Gerakan boikot yang telah berjalan hampir dua tahun ini membuktikan satu hal penting: kekuatan konsumen tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.
Pilihan kita di rak-rak toko bukan sekadar soal merek, tapi juga tentang keberpihakan dan perubahan dunia.
Baca Juga: Prospek Kerja Jurusan Antropologi yang Menjanjikan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










