Akurat

Kandungan Etanol Bikin SPBU Swasta Urung Serap BBM dari Pertamina

Andi Syafriadi | 4 Oktober 2025, 13:15 WIB
Kandungan Etanol Bikin SPBU Swasta Urung Serap BBM dari Pertamina

AKURAT.CO Kesepakatan antara Pertamina Patra Niaga (PPN) dan badan usaha swasta pengelola SPBU terkait dengan penambahan pasokan bahan bakar minyak (BBM) batal terealisasi.

Adapun, dalam kesepakatan ini Pertamina akan menyediakan base fuel atau bahan bakar dengan kadar oktan murni tanpa campuran aditif bagi pihak SPBU swasta

Akan tetapi, ada beberapa kendala yang membuat pembelian BBM dari Pertamina oleh SPBU swasta belum juga terlaksana.

Masalah Etanol Dalam BBM

Salah satu alasan belum terlaksananya kesepakatan ini dibeberkan oleh Wakil Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Achmad Muchtasyar.

Achmad menjelaskan SPBU swasta yaitu PT Vivo Energy Indonesia (Vivo) tidak jadi mengambil BBM hasil impor Pertamina dikarenakan konten etanol yang melekat dalam base fuel yang didatangkan Pertamina.

Baca Juga: Pertamina Patra Niaga JBB Gelar Latihan Darurat Bersama Stakeholders di Bandara Soekarno-Hatta

Dari 100 ribu barel BBM yang diangkut Pertamina lewast MT Sakura, terdapat kandungan 3,5% etanol setelah diperiksa di laboratorium.

Padahal, Achmad menilai kandungan etanol bukanlah suatu hal yang layak menjadi alasan bagi SPBU swasta enggan menyerap base fuel dari PT Pertamina Patra Niaga.

“Nah ini yang membuat kondisi teman-teman SPBU swasta (Vivo) untuk tidak melanjutkan pembelian karena ada konten etanol tersebut. Dimana konten itu sebetulnya masih masuk ambang yang diperkenankan oleh pemerintah,” kata Achmad saat rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, Rabu (1/10/2025).

Sama dengan Vivo, Presiden Direktur BP-AKR, Vanda Laura, mengungkapkan alasan pihaknya belum mengambil BBM dari Pertamina dikarenakan adanya kandungan etanol dalam BBM tersebut.

Sebab, dalam formulasi BBM yang diproduksi oleh BP sampai saat ini belum ada yang mengandung bahan etanol.

Baca Juga: Dipakai Secara Global, Kementerian ESDM: BBM Shell di AS Mengandung Etanol

“Salah satu concern-nya karena etanol. Memang diformulasi kami sampai saat ini belum mengandung etanol. Betul tadi seperti yang dikatakan oleh rekan dari Shell, ya masing-masing perusahaan kan ada spesifikasi,” ucap Vandra.

Masih Lakukan Negosiasi

Berbeda dengan BP dan Vivo, alasan Shell belum membeli BBM dari Pertamina dikarenakan masih berjalannya negosiasi antar kedua perusahaan.

President Director & Managing Director Mobility Shell Indonesia Ingrid Siburian mengatakan bahwa pembicaraan antara pihaknya dan Pertamina masih berada di tahap awal dan belum masuk ke fase negosiasi resmi.

Dirinya menjelaskan bahwa saat ini kedua belah pihak baru bertukar precondition atau syarat awal sebelum negosiasi dilanjutkan.

“Bahkan kita belum sampai masuk tahap negosiasi. Kita baru menyampaikan precondition. Pertamina juga boleh menyampaikan kepada kami precondition,” tutur Ingrid.

Ingrid melanjutkan, setelah kedua belah pihak mencapai kesepakatan pada tahap precondition, barulah pembahasan dapat berlanjut ke aspek kontraktual.

Salah satu hal yang akan ditentukan adalah penggunaan draf kontrak dari masing-masing pihak.

“Nah, selanjutnya setelah itu sudah oke, maka kita juga membahas mau pakai draft kontrak punyanya siapa? Punyanya Pertamina Patraniaga atau punyanya Shell,” ujar Ingrid.

Base Fuel Tak Boleh Ada Etanol

Sementara itu, Praktisi migas, Hadi Ismoyo menegaskan bahwa isu etanol dalam base fuel Pertamina sebenarnya masih dalam koridor regulasi, namun tidak sesuai dengan kebutuhan swasta.

Menurutnya, kehadiran etanol dalam BBM berperan sebagai zat aditif untuk meningkatkan angka oktan suatu produk. Hal ini juga sejalan dengan regulasi yang berlaku.

“Sesuai regulasi dalam Permen ESDM No 12 Tahun 2015, kandungan Etanol diperbolehkan dalam base fuel maksimal sampai dengan 20%,” ucap Hadi..

Meski demikian, Hadi menjelaskan bahwa Pertamina menambahkan etanol ke dalam base fuel untuk mencapai spesifikasi produk akhir BBM non-subsidi miliknya.

Di sisi lain, badan usaha swasta seperti BP dan Vivo menolak karena menginginkan base oil dengan kandungan etanol lebih rendah atau bahkan nol persen.

“Kenapa Swasta Menolak? Karena Swasta mempunyai request spec base oil dengan etanol yg lebih kecil dari 3.5% atau Nol%. Karena spec tidak sesuai ya batal. Kedua pihak tidak jadi deal walau sudah di jembatanin KESDM,” pungkas Hadi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.