Akurat

ESDM Targetkan Studi Kelayakan 18 Proyek Hilirisasi Rampung Akhir 2025

Dedi Hidayat | 19 September 2025, 15:59 WIB
ESDM Targetkan Studi Kelayakan 18 Proyek Hilirisasi Rampung Akhir 2025

AKURAT.CO Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) buka suara perihal kelanjutan dari 18 dokumen pra feasibility study (pra-FS) proyek hilirisasi.

Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Ahmad Erani Yustika menyampaikan bahwa dokumen tersebut sudah diserahkan ke Danantara pada Agustus lalu.

Saat ini, lanjut Erani Danantara sedang mengerjakan FS atau studi kelayakak dari 18 protek hilirisasi tersebut.

Baca Juga: ESDM: Operasional PT Gag Nikel Hanya untuk Audit Lingkungan

“Nah, sekarang sedang dalam pengerjaan FS-nya oleh Danantara. Dan secepatnya itu kan diselesaikan. Hari Senin yang lalu kan ada ratas mengenai hilirisasi,” kata Erani di Kementerian ESDM, Jumat (19/9/2025).

Lebih lanjut, Sekretaris Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional ini menyebut untuk tenggat waktu selesainya FS tersebut berada ditangan Danantara.

Sebab, masing masing proyek kata Erani berbeda tingkat kesulitan untuk menyelesaikannya.

“Mungkin yang misalnya refinery beda dengan storage, storage beda dengan yang alumina, alumina beda dengan silika, mungkin beda-beda ya,” ujarnya.

Namun, Erani menuturkan bahwa studi kelayakan 18 proyek tersebut ditarget dapat rampung pada akhir tahun ini.

“Tapi semuanya pasti akan selesai akhir tahun ini lah. Karena harus segera di-eksekusi proyeknya,” tutur Erani.

Kepala Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional, Bahlil Lahadalia, menyerahkan 18 proyek prioritas hilirisasi dan ketahanan energi nasional senilai USD38,63 miliar atau setara Rp618,13 triliun kepada CEO Danantara, Rosan Roeslani.

Baca Juga: ESDM Siapkan PLTS 100 GW di 80.000 Koperasi Merah Putih

Ia merinci, 18 proyek itu terdiri dari 8 proyek hilirisasi di sektor mineral dan batu bara, 2 proyek transisi energi, 2 proyek ketahanan energi, 3 proyek hilirisasi pertanian, dan 3 proyek hilirisasi kelautan dan perikanan.

Bahlil menekankan, dengan nilai investasi pada proyek hilirisasi tersebut akan menciptakan potensi ratusan ribu lapangan pekerjaan. Proyek hilirisasi juga akan menciptakan pemerataan pertumbuhan ekonomi nasional.

Berikut daftar lengkap 18 proyek hilirisasi tersebut:

1. Industri Smelter Aluminium (Bauksit) di Mempawah, Kalimantan Barat, dengan investasi sebesar Rp60 triliun.

2. Industri DME (batu bara) yang tersebar di enam lokasi (Bulungan, Kutai Timur, Kota Baru, Muara Enim, Palu, dan Banyuasin), dengan total investasi Rp164 triliun.

3. Industri Aspal Buton di Sulawesi Tenggara membutuhkan dukungan listrik untuk pemrosesan dan pemurnian aspal. Proyek ini bernilai Rp1,49 triliun.

4. Industri Mangan Sulfat di Kupang, Nusa Tenggara Timur, dengan nilai investasi Rp3,05 triliun
Industri Stainless Steel Slab (Nikel) di Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah dengan investasi Rp38,4 triliun.

5. Industri Copper Rod, Wire & Tube (Katoda Tembaga) di Gresik, Jawa Timur, dengan nilai investasi Rp19,2 triliun.

6. Industri Besi Baja (Pasir Besi) di Sarmi, Papua, memiliki nilai investasi Rp19 triliun
Industri Chemical Grade Alumina (Bauksit) di Kendawangan, Kalimantan Barat, berinvestasi Rp17,3 triliun.

7. Industri Oleoresin (Pala) di Fakfak, Papua Barat, memiliki nilai investasi Rp1,8 triliun

8. Industri Oleofood (Kelapa Sawit) di KEK MBTK, Kalimantan Timur, menyerap Rp3 triliun.

9. Industri Nata de Coco, Medium-Triglycerides (MCT), Coconut Flour, Activated Carbon (Kelapa) di KI Tenayan, Riau dengan nilai Rp2,3 triliun.

10. Industri Chlor Alkali Plant (Garam) yang tersebar di Aceh, Kalimantan Timur, Jawa Timur, Sumsel, Riau, Banten, dan NTT dengan nilai investasi Rp16 triliun.

11. Industri Fillet Tilapia (Ikan Tilapia) di Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur senilai investasi Rp1 triliun.

12. Industri Carrageenan (Rumput Laut) di Kupang, NTT dengan nilai investasi Rp212 miliar
Oil Refinery di 18 lokasi, termasuk Lhokseumawe, Surabaya, dan Balikpapan, menjadi salah satu proyek penting dengan investasi Rp160 triliun.

13. Oil Storage Tanks di Pontianak, Badung, Bima, Ende, Makassar, Dongala, Bitung, Ambon, Halmahera Utara, Fakfak senilai Rp72 triliun.

14. Modul Surya Terintegrasi (Bauksit dan Silika) di KI Batang, Jateng, mendukung energi terbarukan dengan nilai Rp24 triliun.

15. Industri Bioavtur (Used Cooking Oil) di KBN Marunda, KI Cikarang dan KI Karawang dengan nilai investasi Rp16 triliun.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.