ESDM: Penutupan Kilang Global Dipicu Lonjakan Kendaraan Listrik

AKURAT.CO Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menilai adanya penutupan kilang minyak di sejumlah negara dipengaruhi oleh percepatan transisi energi, khususnya penggunaan kendaraan listrik (EV).
Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, mencontohkan kondisi yang terjadi di China, di mana penetrasi kendaraan berbasis baterai telah mencakup berbagai moda transportasi, mulai dari kendaraan pribadi, angkutan umum, kendaraan berat, hingga kapal.
“Jadi untuk kilang global, ya mungkin itu karena ada transisi energi. Itu kan seperti di China. Itu kan mereka, populasi kendaraan listrik, ya termasuk kendaraan pribadi, angkutan umum, sampai dengan angkutan berat, juga shipping,” kata Yuliot di Kementerian ESDM, Jumat (12/9/2025).
Baca Juga: ESDM Siapkan Impor BBM 1,4 Juta KL dari AS Lewat Pertamina
Apalagi, kata Yuliot saat ini di China 50% masyarakat sudah beralih dari bahan bakar minya ke kendaraan berbaterai.
Akibat pergeseran masif ini, Yuliot menyebut banyak SPBU di Tiongkok sudah tutup lebih dari 60 persen. Kondisi tersebut juga berdampak langsung terhadap keberlangsungan kilang minyak di tingkat global.
“Jadi kan kita melihat ini karena ada perubahan penggunaan energi juga, ya ini mungkin itu dampaknya ada terhadap ini kilang-kilang secara global,” ujarnya.
Kilang Indonesia Masih Aman
Lebih lanjut, Yuliot memastikan industri kilang minyak dalam negeri masih aman ditengah dinamika global terkait penutupan sejumlah kilang minyak.
Yuliot menjelaskan bahwa kebutuhan BBM Indonesia saat ini mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari. Pasokan tersebut dipenuhi melalui kombinasi hasil pengolahan kilang dalam negeri dan impor.
“Kalau ini perkiraan kita, untuk kebutuhan BBM itu satu hari, itu kan masih sekitar 1,5 juta barrel per hari. Ini kan ada yang diolah di dalam kilang dalam negeri, ada yang berasal dari impor,” ucap Yuliot.
Baca Juga: ESDM Turunkan Tim Pantau Kebocoran Pipa Minyak PT Vale di Luwu Timur
Menurutnya, pemerintah terus mengoptimalkan kapasitas kilang domestik agar pasokan dalam negeri tetap stabil.
Namun, apabila produksi kilang belum mampu memenuhi kebutuhan, maka impor menjadi langkah yang tidak terhindarkan.
“Jadi ini kita lihat, ini bagaimana optimalisasi kilang yang ada dalam negeri. Kemudian itu berapa, kalau tidak tercukupi dari kilang dalam negeri, berarti kita harus melakukan impor dari luar negeri,” ujarnya.
Adapun, PT Pertamina (Persero) menyoroti tantangan signifikan yang tengah dihadapi sektor midstream dan downstream industri energi global. Salah satunya akan ada penutupan 26 kilang minyak sampai tahun 2030.
Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Oki Muraza mengatakan kondisi oversupply tidak hanya terjadi pada minyak mentah (crude), tetapi juga pada produk kilang.
Hal ini menekan margin keuntungan atau spread kilang atau selisih harga minyak mentah yang masuk dengan harga produk hasil kilang.
Oki menambahkan, rendahnya harga minyak dunia ditambah meningkatnya produksi kilang baru memperparah kondisi oversupply. Dampaknya, sejumlah kilang dunia memilih berhenti beroperasi.
“Di Eropa, Amerika, hingga Australia, sudah banyak kilang yang tutup. Diperkirakan ada sekitar 17 kilang yang akan berhenti beroperasi menjelang tahun 2030,” kata Oki saat rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR, Kamis (11/9/2025).
Berdasarkan bahan paparan Pertamina, pada 2027, diperkirakan akan ada sembilan kilang yang tutup di AS, Eropa, Asia, Australia, dan Selandia Baru.
Lalu, sebanyak 17 kilang di Afrika, Uni Eropa, dan Asia diperkirakan tutup pada 2030. Sehingga, akan ada 26 kilang yang akan tutup sampai dengan 2030.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










