Menperin Optimistis IKM akan Jadi Kunci Net Zero Emissions 2050

AKURAT.CO Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan keyakinannya bahwa Industri Kecil Menengah (IKM) memiliki peluang besar untuk mendorong tercapainya target Net Zero Emissions (NZE) pada tahun 2050.
Menurutnya, peran strategis IKM sebagai tulang punggung perekonomian nasional menjadikannya aktor penting dalam agenda transisi menuju industri hijau.
“IKM di Indonesia mencapai 4,52 juta unit usaha atau 99,7 persen dari total keseluruhan industri nasional. Sektor ini juga menyerap sekitar 13 juta tenaga kerja, setara 65,5 persen dari tenaga kerja industri,” ujar Agus di Jakarta, Senin (7/7/2025).
Baca Juga: Daya Saing Indonesia Turun Tajam di WCR 2025, Kemenperin Soroti Tekanan Eksternal
Menperin menegaskan bahwa dengan skala dan daya jangkau sebesar itu, IKM dapat menjadi motor utama dalam pelaksanaan kebijakan dekarbonisasi industri, sekaligus tetap menjadi penggerak ekonomi daerah dan penciptaan lapangan kerja. Ia menilai transisi industri rendah karbon adalah langkah penting menuju pembangunan berkelanjutan.
“Oleh karena itu, pemerintah terus mendorong penguatan ekosistem IKM agar lebih tangguh dan adaptif, khususnya dalam menghadapi tuntutan industri masa depan yang berwawasan lingkungan,” tegasnya.
Agus juga menambahkan bahwa langkah dekarbonisasi ini merupakan bagian dari komitmen Indonesia untuk menurunkan emisi gas rumah kaca, sesuai dengan target kontribusi nasional (NDC) dan arah pembangunan global. Ia percaya, IKM bisa menjadi pilar ekonomi rakyat yang tidak hanya produktif, tetapi juga inovatif serta peduli terhadap perubahan iklim.
Baca Juga: Kemenperin Gandeng YBI Gelar Acara Bangga Berbatik pada Agustus Mendatang
Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita, menyampaikan bahwa transformasi industri rendah karbon tidak hanya menjadi tanggung jawab industri besar, namun juga membuka peluang strategis bagi IKM. Melalui kebijakan yang inklusif dan terukur, IKM diharapkan bisa menjadi bagian dari solusi.
Reni menjelaskan bahwa Direktorat Jenderal IKMA telah aktif mendorong pendekatan “green transition”, yakni penerapan prinsip industri hijau dan ekonomi sirkular yang inklusif. Hal ini ditujukan agar IKM dapat tetap kompetitif sekaligus bertanggung jawab terhadap lingkungan.
“Kami telah menetapkan target percepatan dekarbonisasi menuju NZE pada 2050, lebih cepat dari target nasional tahun 2060,” ungkap Reni.
Menurutnya, semakin banyak pelaku IKM yang sadar terhadap isu lingkungan, dan itu menjadi dasar penting dalam perumusan program-program Kemenperin ke depan.
Upaya penerapan industri hijau oleh Kemenperin juga sejalan dengan amanat Undang–Undang Nomor 3 Tahun 2024 tentang Perindustrian, yang mengatur kewajiban efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya secara berkelanjutan serta harmonisasi pembangunan industri dengan kelestarian lingkungan.
Dalam praktiknya, Kemenperin mendorong pelaku IKM untuk mulai memilih bahan baku yang ramah lingkungan, menerapkan efisiensi energi, dan mengadopsi teknologi tepat guna dalam proses produksi. Hal ini penting agar limbah yang dihasilkan lebih mudah dikelola dan tidak membebani pelaku usaha dari segi biaya.
“Dalam konteks dekarbonisasi, kami mendorong pelaku IKM untuk mengimplementasikan prinsip ekonomi sirkular seperti reuse dan recycle, serta efisiensi dalam pemakaian energi,” kata Reni.
Reni berharap IKM bisa menjadi mitra sejajar dalam mendorong ekonomi hijau dan transisi energi bersih.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










