Akurat

Harga MinyaKita Masih di Atas HET, Mendag Siapkan Jurus Ini

Hefriday | 4 Juli 2025, 19:29 WIB
Harga MinyaKita Masih di Atas HET, Mendag Siapkan Jurus Ini

AKURAT.CO Kementerian Perdagangan (Kemendag) tengah menyusun kajian baru terkait pola distribusi minyak goreng rakyat (MGR) atau MinyaKita.

Langkah ini diambil untuk menekan harga Minyakita yang masih bertahan di atas harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan sebesar Rp15.700 per liter.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan bahwa pihaknya kini sedang membahas secara mendalam model distribusi yang tepat agar MinyaKita bisa tersedia secara merata dengan harga terjangkau di seluruh wilayah Indonesia.
 
Menurutnya, kajian tersebut sedang berlangsung dan melibatkan berbagai pihak. "Sekarang lagi dibahas, jadi sekarang ini lagi dibuat kajian. Kajian seperti apa pola distribusi yang pas,” kata Budi saat ditemui di Jakarta, Jumat (5/7/2025).
 
Meski belum dapat memberikan informasi secara rinci mengenai rancangan pola distribusi baru, Mendag menegaskan bahwa Kemendag akan segera menggelar rapat koordinasi.
 
 
Rapat tersebut akan melibatkan kementerian dan lembaga terkait, produsen, distributor, hingga asosiasi guna mencari solusi menyeluruh. "Kita cari jalan keluarnya ya, biar dia (MinyaKita) cepat turun, apalagi kan wilayah timur suka mahal ya,” tambahnya.
 
Harga MinyaKita yang masih melampaui HET menjadi sorotan publik, terutama di tengah upaya pemerintah menjaga stabilitas harga bahan pokok.
 
Berdasarkan data dari Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kemendag per 4 Juli 2025, rata-rata harga MinyaKita secara nasional mencapai Rp16.700 per liter, atau Rp1.000 lebih tinggi dari batas HET.
 
Kondisi serupa juga tercermin dalam laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat bahwa pada minggu keempat Juni 2025, harga MinyaKita cenderung stabil tinggi di sebagian besar wilayah Indonesia. Bahkan, di 104 kabupaten/kota di Pulau Jawa, harga MinyaKita masih melampaui HET.
 
Beberapa daerah di Jawa dengan harga tertinggi antara lain Kabupaten Kepulauan Seribu yang mencapai Rp18.000 per liter, Jakarta Barat Rp17.824, Tasikmalaya Rp17.794, Jakarta Pusat Rp17.694, dan Bekasi Rp17.657 per liter.
 
Situasi lebih mengkhawatirkan terjadi di luar Pulau Jawa. Tercatat ada 337 kabupaten/kota yang melaporkan harga Minyakita di atas HET, dengan disparitas harga yang sangat tinggi. 
 
Di wilayah Pegunungan Bintang, Papua misalnya, harga MinyaKita menembus angka Rp50.000 per liter. Selain itu, harga tinggi juga ditemukan di wilayah Puncak Jaya sebesar Rp45.000 per liter, Pegunungan Arfak dan Lanny Jaya masing-masing Rp35.000, serta Tolikara sebesar Rp31.500 per liter. 
 
Ketimpangan distribusi dan ongkos logistik menjadi salah satu penyebab tingginya harga di wilayah timur Indonesia.
 
Melihat fakta tersebut, Kemendag dinilai perlu melakukan perombakan menyeluruh terhadap sistem distribusi MinyaKita. Selain memastikan ketersediaan stok, efisiensi distribusi dan pengawasan rantai pasok menjadi kunci agar harga bisa ditekan sesuai dengan regulasi yang berlaku.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa