Akurat

Kadin Genjot Kemitraan Industri Tekstil RI-AS Lewat Cotton USA

Yosi Winosa | 24 April 2025, 17:12 WIB
Kadin Genjot Kemitraan Industri Tekstil RI-AS Lewat Cotton USA

AKURAT.CO Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia kembali menunjukkan langkah proaktif dalam mendorong penguatan kerja sama sektor industri tekstil nasional dengan Amerika Serikat.

Dalam agenda dialog terbuka bersama Cotton USA yang digelar di Plataran Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Kadin memfasilitasi pertemuan strategis antara pelaku industri tekstil dalam negeri dan perwakilan mitra dagang dari AS.

Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, menyampaikan bahwa forum dialog ini merupakan upaya konkret untuk menyeimbangkan neraca perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat, yang saat ini masih mencatatkan surplus signifikan di pihak Indonesia.
 
Anin menegaskan, pendekatan diplomatis melalui negosiasi tanpa retaliasi adalah langkah yang bijak dan mendukung kestabilan hubungan ekonomi bilateral.
 
“Kita melihat bahwa apa yang dilakukan pemerintah sudah benar, untuk bernegosiasi, bukan retaliasi dengan Amerika Serikat. Pemerintah sudah menjalankan cara-cara untuk membuat trade surplus kita sebesar 18 miliar dolar AS menjadi lebih seimbang,” tutur Anin dalam keterangannya, Kamis (24/4/2025). 
 
 
Menurut Anin, Indonesia memiliki potensi besar dalam ekspor komoditas seperti elektronik, garmen, dan alas kaki. Di sisi lain, Amerika Serikat memiliki kepentingan dalam ekspor produk seperti kapas, gandum, dan kedelai ke Indonesia.
 
Hal ini membuka peluang kerja sama yang saling menguntungkan bagi kedua negara. Ia juga menggarisbawahi bahwa pelaku usaha harus bersiap menghadapi fase baru hubungan dagang ketika keseimbangan perdagangan tercapai. 
 
“Begitu nanti sudah ekuilibrium dari sisi trade balance dengan Amerika Serikat, pasti akan banyak upaya dari teman-teman pelaku usaha untuk bekerja sama, termasuk merelokasikan impor dari negara lain ke Amerika Serikat,” ungkapnya.
 
Sebagai bagian dari inisiatif ini, Kadin Indonesia dijadwalkan akan melakukan kunjungan ke Amerika Serikat pada awal Mei 2025.
 
Rombongan Kadin akan menemui United States Chamber of Commerce untuk membahas lebih lanjut potensi ekspor Indonesia dan kebutuhan pasar AS terhadap produk tertentu.
 
“Kami ingin melihat langsung kebutuhan dari barang Indonesia dan bagaimana kita bisa tingkatkan. Dan sebaliknya, kebutuhan mereka untuk bekerja sama dalam produk-produk tertentu seperti kedelai, gandum, kapas, bahkan dairy dan daging,” kata Anin.
 
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Investasi, Hilirisasi, dan Lingkungan Hidup Kadin Indonesia, Bobby Gafur Umar, mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menyatakan komitmen untuk memberi perhatian lebih pada industri tekstil nasional.
 
Hal ini diungkapkan dalam pertemuan antara Presiden dan dunia usaha beberapa waktu lalu di Istana.
 
“Pak Presiden menyampaikan bahwa potensi industri tekstil ini masih besar sekali. Mulai sekarang beliau akan memberi perhatian tinggi. Jadi langkah dari Kadin ini diharapkan bisa merevitalisasi industri tekstil yang dulu pernah jadi primadona Indonesia di era 80-an,” ujar Bobby.
 
Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Jemmy Kartiwa, turut menyambut positif kerja sama dengan Cotton USA. Ia menilai, meski saat ini kapas AS baru menyumbang sekitar 17% dari total impor kapas Indonesia, potensi peningkatan sangat terbuka lebar.
 
“Kita berharap kapas dari Amerika Serikat dibikin benang, jadi kain, lalu baju dan didapat tarif yang lebih murah. Harapannya, porsi impor dari AS bisa naik hingga 50 persen,” ujar Jemmy.
 
Sebagai informasi, Cotton USA merupakan merek dagang dari Cotton Council International (CCI), yang bertugas mempromosikan serat kapas dan produk olahan kapas asal AS secara global.
 
CCI beroperasi di bawah National Cotton Council of America dan dikenal dengan keunggulan kualitas, layanan, data, serta teknologi dalam industri kapas.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa