Akurat

Kemendag: RI Pilih Netral di Tengah Tensi AS-China

Hefriday | 21 April 2025, 17:59 WIB
Kemendag: RI Pilih Netral di Tengah Tensi AS-China

AKURAT.CO Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan China kembali meningkat setelah rencana kebijakan tarif baru yang diusung Presiden AS Donald Trump menuai reaksi keras dari Beijing.

Di tengah dinamika global tersebut, Indonesia mengambil sikap hati-hati dan menegaskan komitmen pada prinsip perdagangan yang adil dan multilateral.

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan RI, Djatmiko Bris Witjaksono, menyatakan bahwa Indonesia tidak akan terpancing untuk mengambil langkah balasan terhadap salah satu pihak.
 
Pemerintah, kata dia, memilih untuk tetap fokus menjaga stabilitas hubungan perdagangan dengan seluruh mitra dagangnya, termasuk AS dan China.
 
“Kita tetap melakukan kegiatan perdagangan seperti biasa. Tidak ada tindakan balasan karena kita menjunjung tinggi prinsip-prinsip perdagangan multilateral,” kata Djatmiko di sela media breafing di Jakarta, Senin (21/4/2025).
 
 
Sikap tersebut diambil menyusul peringatan dari pemerintah China yang menyatakan akan mengambil tindakan tegas terhadap negara-negara yang dianggap merugikan kepentingannya dalam konteks negosiasi tarif dengan AS.
 
China secara terbuka menyebut bahwa pihaknya menentang segala bentuk kesepakatan yang mengorbankan kepentingan nasional mereka.
 
Dalam lain hal, Djatmiko menegaskan bahwa Indonesia menghormati hak dan kewajiban masing-masing negara dalam sistem perdagangan internasional.
 
Ia juga menilai bahwa relasi dagang antara Indonesia dan China tetap berada dalam kerangka kerja sama yang saling menguntungkan dan berdasarkan prinsip saling menghormati.
 
"Kalau pun ada isu-isu yang muncul di lapangan, kami akan selesaikan lewat jalur diplomasi. Itu prinsip kami dalam menjaga hubungan perdagangan," tambahnya.
 
Pernyataan China sebelumnya memang menjadi sorotan tajam di tingkat global. Beijing menuduh AS menyalahgunakan kebijakan tarif untuk menekan mitra dagangnya.
 
Sebagai balasan, China memberlakukan tarif tinggi hingga 125% untuk barang-barang impor dari Amerika dan membatasi ekspor komoditas strategis, seperti mineral langka.
 
Presiden China Xi Jinping pun melakukan kunjungan diplomatik ke beberapa negara Asia Tenggara seperti Vietnam, Malaysia, dan Kamboja.
 
Dalam lawatannya, Xi menyerukan perlunya solidaritas kawasan menghadapi tekanan ekonomi sepihak dari negara-negara besar.
 
Kunjungan tersebut dinilai sebagai bagian dari strategi China mempererat hubungan dagang di kawasan ASEAN, menyusul memburuknya relasi dagang dengan AS.
 
Meski begitu, AS tetap menjadi mitra dagang terbesar China secara bilateral, sementara kawasan Asia Tenggara menjadi mitra regional terbesarnya.
 
Sementara itu, AS terus menggalang dukungan dari negara-negara mitra untuk meninjau ulang hubungan dagang mereka dengan China.
 
Upaya ini disinyalir menjadi bagian dari strategi "tarif resiprokal" yang digaungkan oleh Presiden Trump sejak masa jabatannya pertama kali.
 
Menanggapi dinamika tersebut, Indonesia memilih jalan tengah yakni tidak berpihak, tidak turut dalam konflik tarif, dan tetap membuka ruang kerja sama dengan seluruh pihak. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa