Survei LPEM UI Tidak Ilmiah, Menebar Pesimisme Soal Situasi Ekonomi Nasional

AKURAT.CO Economic Experts Survey yang digelar Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) menjurus pada penggiringan opini publik dengan maksud tertentu.
Senin (17/3/2025), LPEM FEB UI merilis survei terhadap 42 orang yang hasilnya menggambarkan betapa pesimis para responden. yang diklaim terdiri dari para ahli ekonomi, terhadap kondisi perekonomian nasional.
Tercatat 23 dari 42 orang atau 55 persen responden setuju bahwa kondisi ekonomi saat ini telah memburuk dibandingkan dengan tiga bulan yang lalu.
Selain itu, 23 responden juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada periode berikutnya akan lebih rendah. Hanya minoritas yang terdiri dari enam ahli memperkirakan masih ada pertumbuhan pada periode berikutnya.
Baca Juga: Kendala Investasi dan Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Survei LPEM FEB UI itu mendapat tanggapan dari Ketua Umum DPP Persaudaraan 98, Wahab Talaohu. Ia mengatakan, survei tersebut sangat jauh dari hasil kajian ilmiah.
“Survei ini mengklaim melibatkan 42 ahli atau ekonomi. Tetapi setelah kita cek ternyata mayoritas para ahli yang dijadikan sebagai responden bukan ekonom murni. Penentuan ahli hanya mengunakan 'like or dislike' dari LPEM UI itu sendiri. Artinya, sudah ada kesimpulan sejak awal yang disiapkan oleh LPEM UI dan survei hanya alat justifikasi untuk membenarkan opini LPEM UI,” ujar Wahab Talaohu kepada pers di Jakarta, Kamis (20/3/25).
Wahab juga menilai metodologi survei dilakukan di luar standar akademik penelitian ilmiah pada umumnya. Terutama pada penentuan sampel, jumlah sampel dan indikator-indikator yang digunakan. Sebab itu, hasil dari survei tersebut tidak dapat menjadi barometer yang mencerminkan situasi terkini atau memprediksi situasi ekonomi Indonesia ke depan.
“Lewat survei ini maka kita bisa membaca pesimisme dari LPEM UI itu sendiri, yang tercermin dari orang-orang yang mereka klaim sebagai ekonom, yang memiliki kedekatan atau berada dalam lingkaran LPEM UI saja. Ini survei menyesuaikan selera,” kata Wahab.
“Untuk sampel survei di level kabupaten saja minimal mengunakan 400 responden sampai dengan 440 responden dan untuk skala nasional dengan 1.200 responden. Sementara ini cuma 42 responden. Padahal para ahli atau ekonomi yang berasal dari organisasi, asosiasi, ikatan atau perkumpulan yang berbasis pada disiplin ilmu itu jumlahnya puluhan ribu. Ini sebuah pertnyaan besar,” tambahnya.
Wahab berpandapat, situasi ekonomi dunia yang sedang terkoreksi ditambah dengan ketegangan geopolitik yang belum kunjung reda, berdampak kepada seluruh negara di dunia dan salah satunya Indonesia.
“Seluruh ekonomi di dunia sedang terkoreksi. Kita sudah punya pengalaman yang cukup dan telah teruji dalam menghadapi resesi, krisis dan berbagai dinamika global lainnya. Mulai dari krisis ekonomi 98, resesi ekonomi Amerika 2008, dan bahkan pandemi COVID 19. Maka dengan postur ekonomi yang dimiliki Indonesia saat ini, ditambah dengan kepemimpinan dari Presiden Prabowo, maka kita optimis Indonesia akan terus dapat bertumbuh,” ucap Wahab.
Wahab menyayangkan sikap dari LPEM UI yang justru menebar pesimisme kepada publik dan lebih mengedepankan hasrat popularitas lembaga dibandingkan kepentingan nasional yang lebih besar.
“LPEM UI lebih mengejar popularitas dan sudah keluar dari tri dharma perguruan tinggi yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Sebab, mereka telah menggiring opini publik lewat hasil survei yang prematur dan tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” ucapnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










