Akurat

Kontroversi Rekrutmen Garuda Indonesia, Serikat Karyawan Minta Menteri Erick Bertindak

Hefriday | 19 Maret 2025, 11:55 WIB
Kontroversi Rekrutmen Garuda Indonesia, Serikat Karyawan Minta Menteri Erick Bertindak

AKURAT.CO Sekretariat Bersama Serikat Karyawan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk yang terdiri dari Asosiasi Pilot Garuda (APG), Serikat Karyawan Garuda Indonesia (SEKARGA), dan Ikatan Awak Kabin Garuda Indonesia (IKAGI) mengungkapkan kekhawatirannya atas berita yang beredar di media sosial.

Masyarakat mempertanyakan mengenai kebijakan direksi Garuda Indonesia yang mempekerjakan mantan karyawan Group Lion Air. 

Menurut SEKBER, hal ini sangat berpotensi mengganggu prinsip Good Corporate Governance (GCG) yang telah susah payah dibangun di perusahaan tersebut.  
 
“Kami sangat prihatin dengan berita kontroversial yang beredar di media sosial terkait rekrutmen mantan karyawan Lion Air yang kini ditempatkan dalam struktur manajemen Garuda. Ini berpotensi merusak tata kelola perusahaan yang telah dibangun dengan susah payah,” ungkap perwakilan SEKBER, dalam keterangannya, Rabu (19/3/2025). 
 
 
Sebelumnya pada tanggal 5 Maret 2025, pihak serikat karyawan sudah mengirimkan surat kepada Dirut Garuda Indonesoa, Wamildan Tsani Panjaitan mengenai kontroversi rekrutmen tersebut. Dalam surat itu, mereka menuntut agar 14 orang yang direkrut dinonaktifkan, namun hingga saat ini belum ada tanggapan resmi dari pihak terkait.  
 
Lebih lanjut, mereka menilai proses rekrutmen dan penempatan 14 mantan karyawan tersebut dilakukan secara tidak transparan. Padahal, Garuda Indonesia telah memiliki direksi yang kompeten serta SDM internal yang berkualitas, berintegritas, dan loyal, bahkan bekerja sama dengan konsultan rekrutmen profesional. 
 
“Rekrutmen seperti ini berpotensi melanggar ketentuan internal dan prinsip GCG,” tegas SEKBER. 
 
Kebijakan tersebut ternyata menimbulkan keresahan di kalangan karyawan yang saat ini tengah berjuang menjaga produktivitas dan keberlangsungan perusahaan.
 
Pasalnya, ada ketimpangan antara karyawan internal yang telah memiliki jalur karir yang jelas dengan 14 orang baru yang direkrut tanpa mengikuti aturan yang semestinya.  
 
Selain itu, serikat karyawan mengkhawatirkan potensi konflik kepentingan jika proses rekrutmen ini tidak dilakukan secara transparan dan tanpa justifikasi bisnis yang jelas. 
 
“Proses rekrutmen ini lebih bersifat politis dan mengabaikan aspek etika serta integritas perusahaan,” ungkap SEKBER. 
 
Tak hanya itu, mereka juga mengindikasikan bahwa beberapa dari 14 orang tersebut diduga akan mendapatkan jabatan strategis, bahkan hingga level direksi di Garuda Indonesia Group.
 
Hal ini semakin memicu kekhawatiran bahwa kebijakan ini bisa berdampak negatif pada struktur dan budaya perusahaan.  
 
Kondisi ini tidak hanya mengganggu lingkungan internal, tetapi juga berdampak pada kepercayaan publik dan investor. Pasar pun ikut merespons, di mana saham Garuda Indonesia atau GIAA tercatat anjlok hingga mencapai titik terendah senilai Rp33 per lembar pada tanggal 18 Maret 2025.  
 
Dalam upaya menjaga keberlanjutan Garuda Indonesia sebagai maskapai kebanggaan rakyat, serikat karyawan mendesak agar Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto, serta Menteri Badan Usaha Milik Negara, Bapak Erick Thohir, segera turun tangan mencari solusi. 
 
“Kami memohon perhatian dari Bapak Presiden dan Bapak Menteri BUMN agar masalah ini segera ditindaklanjuti untuk memulihkan kepercayaan masyarakat dan investor,” tukas SEKBER. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa