Smart Mining di PTFI Tingkatkan Keamanan dan Efisiensi Biaya Operasional
Hefriday | 18 Februari 2025, 18:56 WIB

AKURAT.CO PT Freeport Indonesia (PTFI) kini tengah mengimplementasikan konsep smart mining guna meningkatkan keamanan, produktivitas, dan efisiensi biaya operasional di sektor pertambangan.
Teknologi digital yang diterapkan telah membawa transformasi signifikan dalam cara kerja operasional tambang.
Direktur PTFI, Tony Wenas, mengungkapkan bahwa penggunaan teknologi berbasis cloud computing telah mencapai tingkat adopsi sebesar 80%, dengan dukungan lebih dari 200 server yang mendukung sistem operasional perusahaan.
Inovasi digital ini merupakan bagian integral dari strategi smart mining yang diterapkan PTFI. Menurut Tony, penerapan smart mining memungkinkan minimnya keterlibatan manusia dalam proses berisiko tinggi seperti peledakan, hauling, dan crushing.
Hal tersebut berdampak langsung pada peningkatan tingkat keamanan, mengurangi potensi kecelakaan kerja di lingkungan tambang.
Diakuinya, dengan smart mining, kehadiran manusia dalam proses peledakan, hauling, dan crushing menjadi sangat minimal, yang pada akhirnya membuat tingkat keamanannya lebih baik.
"Dan, dengan pengoperasian secara remote dari jarak 8 kilometer maka produktivitas dapat meningkat,” kata Tony dalam sesi 'Data Driven Strategy in Mining and Mineral Resources' pada acara Indonesia Data and Economic Conference (IDE) 2025, di Jakarta, Selasa (18/2/2025).
Selain itu, operasional yang dilakukan secara remote hingga jarak 8 kilometer telah terbukti mampu meningkatkan produktivitas. Pengoperasian jarak jauh ini memungkinkan pemantauan dan pengendalian proses tambang secara real-time, sehingga efisiensi kerja pun meningkat.
Salah satu keuntungan nyata dari penerapan teknologi ini adalah penghematan waktu operasional. Tony menjelaskan bahwa sistem digital yang diterapkan berhasil memangkas waktu operasional hingga dua jam per hari, yang berdampak pada pengurangan biaya operasional secara signifikan.
Sebagai contoh, sebelumnya karyawan membutuhkan waktu hingga dua jam hanya untuk pulang dan pergi dari area tambang bawah tanah. Dengan penerapan smart mining, waktu tersebut dapat dihemat, memberikan kontribusi positif terhadap efisiensi operasional perusahaan.
Teknologi digital yang digunakan juga memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih cepat dan akurat.
Meskipun demikian, Tony menegaskan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan manusia, sementara teknologi berfungsi sebagai alat bantu dalam proses analisis dan pengolahan data.
Inisiatif smart mining di PTFI bukanlah langkah yang diambil secara tiba-tiba. Tony mengungkapkan bahwa perencanaan untuk penerapan teknologi ini telah dimulai sejak tahun 2006, sebagai bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam mengoptimalkan operasional tambang melalui inovasi digital.
Konsep smart mining sendiri mengintegrasikan berbagai teknologi canggih, seperti Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), cloud computing, dan big data analytics.
Selain diaplikasikan dalam kegiatan operasional tambang, teknologi ini juga mendukung aspek lain, seperti proses rekrutmen pegawai melalui sistem berbasis AI.
Dalam kesempatan yang sama, Tony menekankan bahwa pengembangan teknologi digital dalam industri pertambangan bukanlah sebuah pilihan, melainkan keharusan.
Dengan keterbatasan inovasi produk, perusahaan tambang perlu mengutamakan inovasi dalam proses operasional guna tetap bersaing di pasar global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










