Akurat

Ekonom Sarankan 4 Hal Ini Agar Program Hilirisasi Sawit Pemerintahan Prabowo Sukses

Hefriday | 11 Januari 2025, 22:01 WIB
Ekonom Sarankan 4 Hal Ini Agar Program Hilirisasi Sawit Pemerintahan Prabowo Sukses

AKURAT.CO Keputusan Presiden untuk mempercepat hilirisasi di Indonesia telah menjadi sorotan publik, terutama terkait rencana memperluas lahan sawit. Seperti diketahui, Presiden Prabowo baru saja membentuk satgas percepatan hilirisasi di sektor energi, pertanian, kehutanan, dan kelautan. 

Langkah ini juga memancing pro dan kontra dari berbagai pihak, termasuk para pakar ekonomi dan lingkungan. Hilirisasi adalah upaya mengolah hasil sumber daya alam menjadi produk bernilai tambah sebelum diekspor.
 
Dalam konteks sawit, misalnya, hilirisasi bertujuan mengubah produk mentah seperti minyak kelapa sawit (CPO) menjadi produk turunan seperti biofuel, margarin, hingga cocoa butter substitute yang memiliki nilai jual lebih tinggi.  
 
 
Namun, strategi ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada tantangan besar yang perlu diatasi agar program hilirisasi ini tidak hanya menjadi wacana semata. Di tengah gencarnya program hilirisasi, Presiden Prabowo dikabarkan juga mempertimbangkan perluasan lahan sawit sebagai bagian dari rencana besar ini.
 
Tetapi, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Esther Sri Astuti menilai bahwa perluasan lahan seharusnya menjadi opsi terakhir. Mengapa? Karena isu deforestasi adalah bom waktu yang bisa merusak citra Indonesia di pasar internasional.  
 
Menurut Esther, yang lebih mendesak adalah peremajaan pohon sawit yang sudah tua dan kebijakan intensifikasi. "Dengan peremajaan dan intensifikasi, produktivitas sawit bisa meningkat tanpa perlu merambah hutan baru," jelasnya saat dihubungi Akurat.co, Sabtu (11/1/2025). 
 
Selain itu, fokus pada inovasi produk turunan sawit seperti cocoa butter substitute, biofuel, dan produk bernilai tinggi lainnya dapat memberikan dampak ekonomi lebih besar. Selain isu lingkungan, proses hilirisasi juga menghadapi sejumlah tantangan besar. Esther menggarisbawahi empat hal utama yang harus diperhatikan pemerintah. 
 
Pertama, yaitu kemudahan pendanaan yang menjadi salah satu hambatan utama dalam proyek hilirisasi. "Kita butuh kebijakan yang mempermudah pendanaan, misalnya suku bunga rendah untuk investasi hilirisasi," ujar Esther. Dengan akses pembiayaan yang lebih terjangkau, perusahaan kecil hingga menengah dapat berpartisipasi dalam rantai hilirisasi.  
 
Lalu kedua, kepastian regulasi yang sering berubah menjadi momok bagi investor. Ketidakpastian ini membuat banyak pelaku usaha enggan berinvestasi. "Kalau aturannya berubah-ubah, siapa yang mau berinvestasi? Pemerintah harus menjamin stabilitas regulasi," tambah Esther.  
 
Ketiga, mengenai perizinan yang efisien, proses perizinan yang panjang dan kompleks sering kali menjadi penghambat utama. Penyederhanaan proses ini akan memberikan sinyal positif bagi investor sekaligus mempercepat implementasi proyek hilirisasi.  
 
Terakhir, penggunaan teknologi hijau yang menjadi elemen penting agar hilirisasi tidak membawa dampak buruk pada lingkungan. "Hilirisasi jangan sampai merusak lingkungan. Gunakan teknologi hijau untuk mengurangi dampak negatifnya," tegas Esther.  
 
Jika dikelola dengan baik, hilirisasi sawit dapat membawa manfaat besar bagi sektor pertanian, kehutanan, dan kelautan. Di sektor pertanian, petani sawit dapat menikmati harga jual yang lebih baik karena produk mereka diolah menjadi barang bernilai tinggi.
 
Sementara itu, sektor kehutanan dapat diuntungkan jika kebijakan intensifikasi diterapkan, sehingga tidak ada lagi pembukaan lahan baru yang merusak hutan.  
 
Namun, tanpa pengelolaan yang bijak, sektor kelautan bisa terdampak negatif. Limbah dari industri pengolahan sawit, jika tidak dikelola dengan benar, dapat mencemari sungai dan laut. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah untuk memastikan bahwa proses hilirisasi ini ramah lingkungan dan berkelanjutan. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa