Bahlil Sebut Relaksasi Ekspor Tembaga Freeport Tunggu Hasil Rapat dengan Presiden Prabowo
Yosi Winosa | 3 Januari 2025, 22:43 WIB

AKURAT.CO Perintah kembali dihadapkan pada isu strategis terkait kelanjutan relaksasi ekspor konsentrat tembaga untuk PT Freeport Indonesia (PTFI).
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa pihaknya tengah mempersiapkan rapat dengan Presiden Prabowo Subianto untuk membahas langkah berikutnya.
“Kami akan membawa ini dalam rapat dengan Bapak Presiden. Kami sedang melakukan kajian karena smelter Freeport sebenarnya sudah selesai, tetapi terjadi musibah berupa kebakaran di pabrik asam sulfatnya,” ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (3/1/2025).
Kebakaran yang melanda fasilitas pengolahan dan pemurnian tembaga milik Freeport di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik pada Oktober 2024 menjadi penyebab utama perlambatan operasional smelter.
Bahlil menjelaskan bahwa awalnya Freeport memperkirakan perbaikan smelter selesai pada Agustus 2025. Namun, pemerintah mendesak agar perbaikan dipercepat.
“Kemarin saya sudah rapat dengan Freeport. Saya minta untuk mempercepat pengerjaannya. Dari rencana awal selesai di bulan Agustus, kami tarik ke Mei atau Juni 2025,” jelas Bahlil.
Terkait perlakuan pemerintah terhadap Freeport selama masa perbaikan, Bahlil mengatakan bahwa hal tersebut akan dibahas lebih lanjut dalam rapat bersama Presiden Prabowo. “Kita akan bahas bagaimana perlakuan hingga Mei-Juni ini,” tambahnya.
Keputusan perpanjangan relaksasi ekspor konsentrat tembaga, menurut Bahlil, akan diputuskan melalui mekanisme rapat bersama para menteri terkait, termasuk Menteri Keuangan, Menteri Koordinator Perekonomian, dan Menteri Perindustrian.
Sebelumnya, pada masa pemerintahan Presiden Jokowi, relaksasi ekspor konsentrat tembaga untuk Freeport diperpanjang dari 31 Mei 2024 menjadi 31 Desember 2024. Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri ESDM No. 06/2024. Namun, insiden kebakaran smelter di Gresik membuat Freeport kembali meminta perpanjangan relaksasi ekspor.
Smelter Freeport di KEK Gresik merupakan proyek penting yang diharapkan dapat memperkuat hilirisasi industri tambang di Indonesia. Dengan kapasitas pengolahan tembaga hingga 1 juta ton konsentrat per tahun, keberadaan smelter ini menjadi tulang punggung dalam menambah nilai tambah sumber daya mineral di dalam negeri.
Namun, insiden kebakaran menjadi tantangan besar. Pemerintah berharap Freeport dapat segera menyelesaikan perbaikan agar produksi dan pengolahan tembaga dapat berjalan optimal sesuai rencana.
Bahlil juga mengindikasikan bahwa jika ada perubahan kebijakan terkait relaksasi ekspor, pemerintah akan menyesuaikan aturan yang berlaku. “Jika ada perubahan kebijakan dan sudah diputuskan, pasti akan ada penyesuaian aturan,” tegasnya.
Keputusan akhir terkait relaksasi ekspor konsentrat tembaga Freeport akan sangat bergantung pada hasil rapat dengan Presiden Prabowo. Pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memastikan kepentingan nasional tetap terlindungi, sambil memberikan solusi terhadap tantangan yang dihadapi Freeport.
Relaksasi ekspor sering kali menjadi dilema antara kepentingan nasional dan kebutuhan pelaku industri. Pemerintah dituntut untuk mengambil kebijakan yang adil, baik bagi keberlanjutan investasi asing maupun kepentingan strategis nasional di sektor tambang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










