Akurat

RI Gandeng Kanada Kerja Sama Pengembangan Mineral Kritis

Hefriday | 28 Desember 2024, 22:08 WIB
RI Gandeng Kanada Kerja Sama Pengembangan Mineral Kritis

AKURAT.CO Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia berharap Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang baru saja ditandatangani antara Indonesia dan Kanada terkait mineral kritis dapat memainkan peran penting dalam memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat di Indonesia.

Bahlil menjelaskan bahwa kerja sama ini sangat strategis untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diproyeksikan mencapai 8 persen per tahun.

“Listrik kita saat ini sebesar 91 gigawatt dengan pertumbuhan ekonomi di bawah 6 persen. Dengan target pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan Presiden Prabowo sebesar 8 persen, kami memerlukan tambahan 61 gigawatt untuk mendukung target tersebut,” ujar Bahlil dalam keterangannya, Sabtu (28/12/2024). 

Baca Juga: RI Perkuat Kerja Sama Ekonomi dengan Kanada Lewat TCTM

Hal ini menyoroti pentingnya ketersediaan energi yang memadai untuk mencapai sasaran ekonomi yang lebih tinggi. Kebutuhan energi yang semakin besar ini, menurutnya, menuntut Indonesia untuk terus mencari sumber daya yang dapat mendukung sektor energi nasional.

Pada Desember 2024, Indonesia dan Kanada resmi menandatangani MoU terkait mineral kritis, yang bertujuan untuk memperkuat kerja sama di sektor pertambangan, energi, dan teknologi bersih. MoU ini mencakup beberapa area strategis, seperti penerapan standar lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) melalui teknologi bersih, serta penguatan perdagangan dan investasi di sektor pertambangan. 

Menurut Bahlil, kerja sama ini diharapkan dapat memberikan dampak positif tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi Kanada dalam mendukung transisi energi global.

"MoU ini adalah langkah penting untuk mempercepat transisi energi Indonesia, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi kedua negara. Kami yakin kerja sama ini akan menghasilkan manfaat jangka panjang, termasuk pemanfaatan mineral kritis yang sangat dibutuhkan dalam pengembangan energi bersih," tambah Bahlil.

Bahlil juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi dunia saat ini, yaitu pemanasan global. Menurutnya, dampak perubahan iklim yang semakin nyata menuntut negara-negara di dunia untuk melakukan upaya yang lebih besar dalam mengurangi emisi gas rumah kaca.

Indonesia, sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat, juga berkomitmen untuk mencapai emisi nol bersih pada tahun 2050, dengan target pengurangan emisi 915 juta ton CO2 pada 2030.

“Dunia saat ini menghadapi ancaman serius akibat pemanasan global yang semakin mengkhawatirkan. Oleh karena itu, kami berkomitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca, dan sektor energi memainkan peran kunci dalam pencapaian target ini,” ujar Bahlil.

Indonesia menargetkan untuk mengurangi emisi sebesar 358 juta ton CO2 dari sektor energi pada 2030. Untuk itu, transisi energi dari energi fosil ke energi bersih menjadi fokus utama pemerintah Indonesia.

Teknologi bersih, seperti energi terbarukan, sangat diperlukan untuk mencapai target pengurangan emisi yang ambisius tersebut. Dalam hal ini, Kanada sebagai negara yang memiliki pengalaman dalam pengembangan teknologi energi bersih diharapkan dapat menjadi mitra strategis bagi Indonesia.

Bahlil menyatakan bahwa kerja sama dengan Kanada, yang juga memiliki pengalaman dalam pengelolaan energi bersih dan pengurangan emisi, sangat relevan dalam upaya Indonesia untuk mempercepat transisi energi.

"Kami ingin memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak hanya berkelanjutan, tetapi juga ramah lingkungan. Oleh karena itu, teknologi bersih dan penggunaan mineral kritis dalam pengembangan energi terbarukan menjadi sangat penting," tambah Bahlil.

MoU ini juga membuka peluang besar bagi kedua negara dalam hal perdagangan dan investasi di sektor pertambangan. Indonesia memiliki berbagai sumber daya mineral yang sangat dibutuhkan dalam pengembangan teknologi energi bersih, seperti nikel dan kobalt. Kanada, di sisi lain, memiliki teknologi tinggi dalam pengelolaan mineral dan energi yang dapat mendukung pengembangan sektor pertambangan Indonesia.

“Kerja sama ini juga memberikan kesempatan untuk meningkatkan investasi, yang sangat dibutuhkan untuk mempercepat pengembangan sektor pertambangan di Indonesia. Kami berharap kerja sama ini tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga menciptakan lapangan pekerjaan baru dan meningkatkan daya saing industri pertambangan Indonesia,” ujar Bahlil.

Selain itu, MoU ini juga diharapkan dapat membantu Indonesia untuk menciptakan ekonomi yang lebih berkelanjutan. Salah satu komitmen utama dalam MoU ini adalah penerapan standar ESG, yang bertujuan untuk memastikan bahwa pengelolaan sumber daya alam dilakukan dengan cara yang ramah lingkungan dan memberikan manfaat sosial bagi masyarakat sekitar.

“Penerapan standar ESG sangat penting dalam memastikan bahwa pembangunan sektor energi dan pertambangan di Indonesia dapat berjalan dengan prinsip keberlanjutan. Kami berharap kerja sama ini dapat memperkuat sektor energi dan pertambangan yang tidak hanya menguntungkan ekonomi, tetapi juga memperhatikan aspek sosial dan lingkungan,” tambah Bahlil.

Bahlil juga menekankan bahwa kerja sama ini akan berkontribusi pada ketahanan energi nasional Indonesia. Dengan bertambahnya kapasitas energi yang dapat diproduksi dalam negeri, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada energi fosil impor, yang rentan terhadap fluktuasi harga global. Hal ini akan memberikan kestabilan pasokan energi, yang sangat penting untuk mendukung industri dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Melalui kerja sama ini, kami dapat memperkuat ketahanan energi nasional, yang pada gilirannya akan mendukung stabilitas ekonomi Indonesia. Ini adalah langkah strategis dalam menciptakan masa depan yang lebih baik bagi negara kita," ujar Bahlil.

Bahlil juga berharap kolaborasi dengan Kanada dapat mendorong inovasi dalam pengembangan teknologi bersih di Indonesia. Teknologi bersih, termasuk pengolahan energi terbarukan, dapat menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan sambil memenuhi kebutuhan energi yang terus berkembang. 

MoU Indonesia-Kanada terkait mineral kritis dan energi bersih membuka peluang besar bagi kedua negara untuk berkolaborasi dalam memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat. Bahlil menegaskan bahwa kolaborasi ini tidak hanya penting untuk memenuhi kebutuhan energi, tetapi juga untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang ramah lingkungan, sesuai dengan komitmen Indonesia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan mencapai emisi nol bersih pada tahun 2050.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa