Akurat

Termasuk Revitalisasi Mesin, Pemerintah Siapkan Insentif Khusus Padat Karya

Hefriday | 4 November 2024, 23:54 WIB
Termasuk Revitalisasi Mesin, Pemerintah Siapkan Insentif Khusus Padat Karya

AKURAT.CO Pemerintah Indonesia sedang mempersiapkan langkah-langkah strategis untuk mendukung keberlangsungan dan daya saing industri padat karya di tengah persaingan ekonomi global yang semakin ketat. 

Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto menekankan pentingnya upaya revitalisasi bagi industri padat karya. “Kami akan mengupayakan insentif khusus untuk padat karya, terutama untuk revitalisasi permesinan,” ungkap Airlangga dalam rapat koordinasi terbatas yang diselenggarakan di Jakarta, Minggu (3/11/2024) 

Langkah ini dianggap krusial untuk meningkatkan efisiensi dan memperpanjang masa pakai mesin-mesin yang berperan vital dalam operasi industri tersebut. Dengan mesin yang lebih modern, biaya produksi dapat ditekan dan kinerja industri menjadi lebih optimal.

Dengan pemberian insentif ini, pemerintah berharap industri padat karya dalam negeri bisa bersaing di pasar global yang semakin kompetitif. Insentif tersebut diharapkan dapat menurunkan biaya operasional serta meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi.

Dengan begitu, produk-produk lokal tidak hanya menjadi pilihan utama di pasar domestik tetapi juga mampu bersaing dalam ekspor. Pemerintah memandang daya saing produk lokal sebagai salah satu kunci untuk memperkuat neraca perdagangan nasional.

Baca Juga: Pemerintah Siapkan Skema Pembiayaan Baru Untuk UMKM dan Padat Karya

Beberapa sektor yang menjadi fokus utama dalam skema insentif ini antara lain adalah industri tekstil, alas kaki, dan garmen. Sektor-sektor ini dikenal sebagai industri padat karya yang sangat banyak menyerap tenaga kerja di seluruh Indonesia.

Industri-industri ini juga merupakan penyumbang signifikan dalam ekspor non-migas, sehingga revitalisasi diharapkan tidak hanya berdampak pada ekonomi dalam negeri, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan internasional.

Selain meningkatkan daya saing, insentif ini juga diharapkan dapat menciptakan lebih banyak lapangan kerja. Industri padat karya memang bergantung pada tenaga manusia dalam jumlah besar.

Dukungan pemerintah dalam bentuk insentif akan membantu sektor ini tetap kokoh, bahkan mampu menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat, terutama bagi pekerja dengan keterampilan menengah ke bawah yang sangat bergantung pada industri ini.

Revitalisasi industri padat karya juga diharapkan dapat berkontribusi pada stabilitas ekonomi nasional. Mengingat, sektor ini menjadi tulang punggung bagi jutaan pekerja yang tersebar di berbagai daerah. 

Pemberian insentif tidak hanya difokuskan pada aspek keuangan, tetapi juga pada efisiensi proses produksi. Melalui revitalisasi permesinan, industri dapat meningkatkan efisiensi tanpa harus melakukan pengurangan tenaga kerja.

Pemerintah menyadari bahwa penggunaan teknologi canggih dalam industri padat karya memerlukan penyesuaian, sehingga insentif ini disesuaikan agar mendukung kelangsungan operasional tanpa mengurangi jumlah pekerja yang ada.

Perubahan teknologi yang pesat memaksa industri padat karya untuk beradaptasi agar tetap relevan di pasar. Namun, adopsi teknologi secara langsung bisa mengancam lapangan kerja. Dengan insentif ini, pemerintah berusaha membantu industri dalam proses adaptasi tanpa harus mengorbankan tenaga kerja.

“Revitalisasi permesinan akan membantu industri tetap berdaya saing tanpa mengabaikan kebutuhan tenaga kerja manusia,” ujar Airlangga lagi.

Selain insentif permesinan, pemerintah juga memberikan perhatian pada dukungan infrastruktur yang diperlukan untuk menunjang ekspor. Infrastruktur pendukung, seperti pelabuhan dan fasilitas logistik, sangat penting untuk mendukung kelancaran distribusi produk industri padat karya ke pasar ekspor.

Dengan peningkatan efisiensi di rantai pasokan, biaya distribusi dapat ditekan, sehingga produk lokal bisa lebih kompetitif di pasar global.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa