Komisi V Dukung Pendekatan Inovatif Menperkim Maruar Bangun 3 Juta Rumah

AKURAT.CO Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman atau Menperkim, Maruarar Sirait, menghadapi tugas besar dalam program pembangunan 3 juta rumah per tahun.
Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus mengatakan target ambisius ini memerlukan perencanaan dan eksekusi luar biasa, terutama dengan kondisi anggaran yang terbatas. Lasarus mengilustrasikan bahwa mencapai target ini berarti harus menyelesaikan pembangunan 8.333 rumah per hari.
"3 juta dibagi 360 hari, setiap hari harus selesai 8.333 rumah. Selamat bertugas, Pak Menteri," ujarnya dalam Rapat Kerja di Jakarta, Senin (4/11/2024).
Baca Juga: Program 3 Juta Rumah Diharapkan Genjot Penyaluran KPR Perbankan
Menanggapi tantangan tersebut, Maruarar Sirait menyadari perlunya pendekatan inovatif dalam mencapai target ambisius ini. Apalagi ada pengurangan anggaran setelah pemisahan Direktorat Jenderal (Ditjen) Perumahan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menjadi Kementerian PKP yang berdiri sendiri.
Data yang dipaparkan Maruarar juga menambah kekhawatiran. Dengan pagu anggaran sebesar Rp14 triliun pada 2024, Ditjen Perumahan hanya mampu menghasilkan sekitar 93.000 unit rumah, yang diharapkan meningkat menjadi 145.000 unit.
Gandeng Swasta
Maruarar menambahkan, bahwa program ini sangat penting, mengingat tingginya kebutuhan rumah bagi masyarakat menengah ke bawah. Menurut data Bappenas, kebutuhan rumah di Indonesia masih terus meningkat, sementara backlog atau kekurangan rumah semakin besar.
Salah satu strategi yang direncanakan Kementerian PKP adalah berkolaborasi dengan pihak swasta dan lembaga keuangan. Maruarar menyebutkan bahwa keterlibatan sektor swasta bisa menjadi solusi untuk menambah kapasitas pembangunan.
Di sisi lain, tantangan juga datang dari keterbatasan sumber daya manusia yang akan ditugaskan di lapangan. Maruarar menilai bahwa tenaga ahli dan pekerja lapangan yang berkompeten sangat dibutuhkan untuk menggenjot produksi rumah dalam jumlah besar.
Membangun rumah dalam jumlah masif juga membutuhkan ketersediaan lahan dan bahan bangunan yang memadai. Masalah harga tanah dan keterbatasan suplai bahan bangunan menjadi tantangan tambahan dalam realisasi program ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










