Akurat

Jepang Siap Danai 34 Proyek Transisi Energi RI

M. Rahman | 21 Agustus 2024, 16:54 WIB
Jepang Siap Danai 34 Proyek Transisi Energi RI

AKURAT.CO Indonesia bakal menerima bantuan pendanaan dari pemerintah Jepang dalam berbagai proyek transisi energi. Untuk tahun ini ada 34 proyek yang rencananya akan dibantu.

Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangg Hartanto, mengungkapkan adalam Asia Zero Emission Community (AZEC) Ministerial Meeting tahun ini disepakati total ada tambahan 78 proyek di negara Asia yang akan didukung untuk pendanaannya dari Jepang. "Indonesia mempunyai shortlist terbesar yaitu 34 proyek. Proyek yang masuk dalam AZEC ini sebuah proyek yang diinisasi Indoneisa dan Jepang," kata Airlangga dalam peluncuran AZEC Center di sela AZEC ministerial meeting di Jakarta, Rabu (21/8/2024).

Menurut Airlangga, hal-hal yang jadi prinsip dorong transisi energi bisa jalan, sustainability bisa terjaga dan dibangun selain projek juga pilot project. "Proyek yang sudah didukung geothermal ada 15 proyek dan salah satu yang dibahas tadi adalah yang sudah kita putuskan. Jepang juga tadi mengusulkan tambah proyek Sarulla," ungkap Airlangga.

Terkait peluncuran AZEC Center yang diselenggarakan Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) sendiri, Airlangga berharap proyek-proyek ini bisa diakselerasi, mengingat ERIA merupakan top 10 think tank di dunia.

Baca Juga: Transisi Energi Topan Pertumbuhan Ekonomi

Arah AZEC Center

Negara-negara yang tergabung dalam AZEC harus bisa merumuskan kebijakan yang bisa diaplikasikan di semua negara yang memiliki karakteristik yang berbeda-beda sehingga setiap negara bisa tetap tumbuh dari sisi ekonomi tapi masih bisa secara konsisten menurunkan emisi dalam rangka transisi energi. Untuk mengatasi tantangan tersebut secara efektif, dibutuhkan platform kebijakan yang kuat yang dapat mendorong kolaborasi, berbagi praktik terbaik, dan mengembangkan solusi standar untuk kawasan Asia. Untuk itu para negara anggota AZEC sepakat untuk membentuk AZEC Center.

"Kami secara resmi meluncurkan AZEC Center, yang diselenggarakan oleh Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) di Jakarta. Saya berharap AZEC Center akan memberikan dukungan yang tak ternilai dalam mengembangkan visi, peta jalan, dan kebijakan untuk memandu dekarbonisasi kita" ungkap Airlangga.

Airlangga berharap AZEC Center akan memberikan dukungan dalam mengembangkan visi, peta jalan, dan kebijakan dekarbonisasi di kawasan regional Asia dan Asean. Menurutnya, AZEC Center ke depan akan fokus pada 3 sektor yakni energi, transportasi dan manufaktur yang mana ketiganya menjadi prioritas dalam transisi energi.

Terkait pengembangan energi bersih terintegrasi, pendekatan ganda akan membantu menyeimbangkan sumber energi terbarukan yang bersifat intermiten untuk menyediakan tenaga listrik yang stabil. "Kami akan meningkatkan konektivitas jaringan listrik regional untuk meningkatkan fleksibilitas dan ketahanan. Secara bersamaan, kami akan berinvestasi pada teknologi baru seperti hidrogen dan amonia, dengan memanfaatkan sumber daya terbarukan yang melimpah," jelas Airlangga.

Kemudian, transformasi sektor transportasi melalui revolusi mobilitas melalui promosi kendaraan generasi berikutnya dan bahan bakar berkelanjutan." Kami juga akan fokus pada pengembangan infrastruktur yang diperlukan, mendukung kebijakan yang memungkinkan transisi ini di seluruh wilayah perkotaan dan pedesaan," ujar Airlangga.

Inisiatif terakhir adalah mendorong efisiensi di semua sektor yang akan berfokus pada proses industri, sistem pembangunan dan produk yang dihasilkan. "Inisiatif ini akan melibatkan penetapan standar ambisi, pemberian insentif untuk peningkatan, dan mendorong inovasi dalam teknologi hemat energi," kata Airlangga.

Senada, Eniya Listiani Dewi, Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, berharap keberadaan ERIA dalam AZEC Center akan mampu mengakselerasi proyek-proyek yang telah dicanangkan. "Saya melihat (34 proyek) kebanyakan masih usulan atau feasibility studies. Makanya kita berharap ERIA juga bisa mereview atau tadi kata pak menko memonitor project mana yang perlu (diakselerasi). Karena pasti kan ada yang cuma pengajuan dulu tapi enggak maju-maju misalnya," ujarnya. 

Ditambahkan, selain proyek pembangkit EBT, pendanaan dari Jepang juga bakal menyasar pada pengembangan Battery Storage System (BSS) untuk bisa melistriki Indonesi bagian timur. Selain itu pendanaan untuk tiga proyek hidrogen dan amonia bagi industri pupuk. Kemudian ada juga pengembangan dua proyek CCUS. "Indonesia bagian timur masih banyak menggunakan diesel, penggunaan genset mahal. Lalu juga pengembangan smart grid system jadi kombinasi itu nanti hasilkan listrik lebih stabil," ungkap Eniya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa