Akurat

Begini Antisipasi Kemendag Hadapi Tantangan Ekonomi Global

Silvia Nur Fajri | 15 Juni 2024, 17:28 WIB
Begini Antisipasi Kemendag Hadapi Tantangan Ekonomi Global

AKURAT.CO Menghadapi tantangan perekonomian global yang semakin kompleks, Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengajak pemangku kepentingan di sektor perdagangan untuk bersama-sama menyiapkan langkah antisipatif. Hal ini disampaikan oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan, Suhanto, dalam pembukaan acara Strategic Issue Talk (Statistalk) Series #1 yang berlangsung di Hotel Tentrem, Yogyakarta pada Jumat (14/6/2024).

"Diskusi ini bertujuan menghimpun masukan terkait langkah dan kebijakan Kementerian Perdagangan untuk sektor perdagangan di masa depan. Diharapkan diskusi ini tidak terhenti pada seri pertama, tapi berlanjut ke seri berikutnya. Pasalnya, perekonomian global masih diwarnai ketidakpastian dengan laju pertumbuhan yang belum optimal karena lemahnya ekonomi di beberapa negara," jelas Suhanto dalam keterangan tertulis, Sabtu (15/6/2024). 

Menurut Suhanto, berdasarkan proyeksi IMF dan WTO, pertumbuhan ekonomi dunia akan melambat dan relatif stagnan, berkisar di angka 3% pada 2024 dan 2025. Dampak dari stagnansi ini terutama terasa di sektor perdagangan internasional. "Kita patut bersyukur, Indonesia masih mengalami tren surplus perdagangan yang sangat panjang di tengah perlambatan ekonomi global," ujarnya.

Baca Juga: Bank Dunia Kerek Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global 2024 ke 2,6 Persen

Selanjutnya, Suhanto menjelaskan bahwa sejak Mei 2020 hingga saat ini, Indonesia terus mencatatkan surplus neraca perdagangan. Data dari Kementerian Perdagangan menunjukkan bahwa pada periode Januari hingga April 2024, Indonesia mencatatkan surplus perdagangan di sektor nonmigas sebesar USD17,68 miliar.

Namun, angka ini mengalami penurunan 19,85% dibandingkan periode yang sama pada 2023. Selain itu, ekspor nonmigas Indonesia pada 2023 mencapai USD242,9 miliar, turun 11,97% dibandingkan 2022 yang mencapai USD275,9 miliar.

"Indonesia tidak boleh terlena dengan raihan surplus perdagangan ini," tegas Suhanto. Ia menambahkan bahwa tantangan dan tekanan eksternal terus bermunculan, termasuk peningkatan fragmentasi geopolitik-ekonomi akibat perang Rusia di Ukraina, serta ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok. "Ketegangan ini berdampak tidak hanya pada penurunan ekspor-impor kedua negara, tetapi juga volume perdagangan dunia," ungkapnya.

Kepala Pusat Penanganan Isu Strategis, Deden Muhammad, menyatakan bahwa penyelenggaraan Statistalk dapat memperluas pemahaman bersama dan menjaring informasi serta masukan yang bermanfaat untuk penyusunan kebijakan. "Hal ini juga mendukung dan mempertajam analisis serta memperkuat penyusunan posisi dan rekomendasi yang dapat disampaikan kepada pemangku kepentingan masing-masing," ujar Deden.

Sementara itu, seorang praktisi dan pengamat ekonomi Arum Kusumaningtyas, menguraikan sejumlah isu global dan pergeseran ekonomi dunia yang memunculkan kutub-kutub baru di timur. Ia menekankan perlunya Kementerian Perdagangan mempertajam perjanjian perdagangan internasional yang ada untuk merumuskan rencana strategis dan kebijakan perdagangan lainnya.

“Kementerian Perdagangan juga diharapkan membantu pemerintah daerah untuk membaca potensi riil perdagangan di daerah masing-masing," kata Arum.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.