AKURAT.CO Indonesia dan Peru memulai Perundingan Pertama Indonesia-Peru Comprehensive Economic Patnership Agreement (IP-CEPA) di Lima, Peru, pada 27-30 Mei 2024.
Menurut Direktur Perundingan Bilateral Kementerian Perdagangan (Kemendag) yang juga Ketua Tim Perunding Indonesia, Johni Martha, Peru merupakan mitra dagang nontradisional Indonesia yang memiliki potensi cukup besar.
"Peru dapat menjadi penghubung produk-produk Indonesia di kawasan Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Oleh sebab itu, perundingan IP-CEPA berperan penting sebagai pembuka jalan dan peluang bagi perdagangan yang lebih luas antara pelaku bisnis Indonesia dan Peru," ujar Johni melalui keterangan tertulis, dikutip Jumat (31/5/2024).
Johni menyampaikan, potensi perdagangan kedua negara masih cukup besar, mengingat total populasi di Peru sebesar 34 juta jiwa dengan nilai produk domestik bruto (PDB) mencapai USD239,3 miliar. Selain itu, IP-CEPA dapat membuka peluang perdagangan kedua negara yang lebih luas lagi.
Dalam putaran pertama ini, kedua pihak akan memulai perundingan dari sektor barang terlebih dahulu. Sektor barang tersebut meliputi akses pasar perdagangan barang, aturan asal barang, kepabeanan dan fasilitasi perdagangan, kerja sama ekonomi, hambatan teknis perdagangan, pengamanan perdagangan, perlindungan atas kesehatan manusia, hewan, atau tumbuhan, penyelesaian sengketa, serta kerangka hukum dan kelembagaan.
Indonesia dan Peru menargetkan penyelesaian perundingan IP-CEPA pada November 2024.
Pada periode Januari-Maret 2024, total perdagangan Indonesia dan Peru mencapai USD97,4 juta. Pada periode ini, ekspor Indonesia ke Peru tercatat sebesar USD63,9 juta, sedangkan impor Indonesia dari Peru tercatat USD33,5 juta sehingga Indonesia menikmati surplus perdagangan sebesar USD30,43 juta.
Sementara itu pada 2023, total perdagangan kedua negara mencapai USD444,4 juta dengan nilai ekspor Indonesia ke Peru sebesar USD367,4 juta dan impor Indonesia dari Peru sebesar USD77 juta.
Pada 2023, ekspor utama Indonesia ke Peru, di antaranya kendaraan bermotor dan mobil (USD144 juta), biodiesel (USD31,8 juta), alas kaki (USD44,9 juta), dan kertas (USD13,2 juta). Impor utama Indonesia dari Peru, di antaranya biji kakao (USD33,1 juta), anggur segar/kering (USD19,7 juta), pupuk mineral atau kimia fosfat (USD8,5 juta), seng tidak ditempa (USD5,3 juta), dan terak ampas logam (USD2,5 juta).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Amanda Rigby Umur Berapa? Ini Profil, Pendidikan dan Kariernya
- 2Kalender Jawa 18 September 2026: Watak Weton Jumat Pon, Bijak dan Mudah Bergaul
- 3Persija Banding Sanksi Komdis PSSI, 2 Larangan Laga Kandang Jadi Sorotan
- 4Prediksi Skor Brentford vs Chelsea 19 September 2026: Duel Ketat, Apakah Akan Berakhir Imbang?
- 5Gara-gara Kembang Api di Hotel Pemain Persib, Persija Disanksi Tak Gelar 2 Laga di Kandang
- 6FIFA ASEAN Cup: PSSI Rilis 23 Pemain Timnas Indonesia, Jay Idzes dan Beckham Putra Absen
- 7Kenapa Thailand Ingin Berantas Ikan Nila Hitam? Ini 5 Alasannya
- 8Prediksi Skor Juventus vs NEC Nijmegen 18 September 2026: Siapa yang Akan Menang?
- 9Dana Reses dari Fee Percepatan Haji, BAP Gus Alex Ungkap Permintaan Pimpinan Komisi VIII
- 10PAN Potong Gaji Anggota Dewan, Rp8 Miliar Terkumpul untuk Bantu Korban Bencana










