Terimbas Penurunan Harga, Laba Medco Energi (MEDC) 2023 Ambles 37 Persen

AKURAT.CO PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) mencetak penurunan laba bersih yang diatribusikan ke entitas diakibatkan tekanan harga komoditas.
Menilik laporan keuangan perseroan yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia (BEI), MEDC mencetak laba bersih 2023 sebesar USD330,67 juta setara Rp5 triliun. Raihan ini ambles 37% secara tahunan dari posisi tahun sebelumnya yang sebesar USD530,88 juta.
Searah, pendapatan MEDC yang bergerak di bidang penjualan minyak dan gas sepanjang 2023 ini menurun tipis menjadi USD2,24 miliar dari posisi tahun sebelumnya sebesar USD2,31 miliar.
Jika dirinci, pendapatan emiten yang menggunakan kode saham MEDC ini disumbang oleh dua sektor utama, yakni pendapatan dari kontrak dengan pelanggan yang mencapai USD2,20 miliar, dan pendapatan keuangan yang mencatat cuan sebesar USD44 juta.
Sementara itu EBITDA perseroan tercatat sebesar USD1,25 miliar sepanjang 2023, juga lebih rendah dibandingkan perolehan tahun sebelumnya. Manajemen MEDC menjelaskan bahwa hal ini terjadi akibat penurunan harga minyak dan gas, serta berkurangnya kontribusi dari PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN).
Baca Juga: Medco Power Groundbreaking Proyek Add On CCPP Berkapasitas 35 MW Di Batam
"Bagian MEDC atas laba bersih dari AMMN lebih rendah dari tahun sebelumnya diakibatkan curah hujan yang sangat tinggi dan keterlambatan dalam perpanjangan izin ekspor," kata manajemen dalam keterbukaan informasi BEI, Selasa (2/4/2024).
Manajemen MEDC mengungkapkan bahwa rata-rata harga minyak dan gas juga turun menjadi USD78 per barel, atau turun USD18 per barel dibandingkan dengan harga USD96 per barel sepanjang 2022.
Sementara itu, harga rata-rata gas sepanjang 2023 mencapai USD7 per mmbtu. Meskipun harga lebih rendah, keekonomian minyak dan gas kami tetap tangguh didukung oleh biaya produksi yang rendah dan penambahan cadangan.
Kerugian dari penurunan nilai aset non-tunai sebagian besar berhasil diimbangi oleh keuntungan non-tunai lainnya. Ini termasuk klasifikasi aset Libya sebagai aset yang akan dijual dan keuntungan dari dilusi IPO AMMN.
Manajemen MEDC juga menambahkan bahwa belanja modal, kecuali akuisisi di Oman, mencapai USD333 juta. Sebagian besar digunakan untuk proyek pengembangan di Natuna, Corridor, dan fasilitas panas bumi di Ijen.
"Utang konsolidasi pada akhir tahun adalah sebesar USD3,3 miliar, sementara utang Restricted Group1 mencapai USD2,8 miliar. Di luar utang yang ditarik pada akhir tahun untuk menyelesaikan akuisisi di Oman, tingkat utang saat ini telah kembali ke tingkat tahun 2018," imbuh manajemen.
CEO Medco Energi, Roberto Lorato, menyatakan bahwa tahun 2023 adalah tahun yang sibuk dan produktif. Pasalnya, perseroan berhasil mencapai seluruh target yang telah ditetapkan untuk produksi minyak dan gas, penjualan ketenagalistrikan, biaya unit produksi, belanja modal, dan pengurangan utang.
"Kami juga meningkatkan dividen tunai, melakukan amandemen PSC Corridor, menyelesaikan akuisisi di Oman, menyelesaikan IPO Amman, IPO Indonesia terbesar tahun 2023, dan memenuhi target pengurangan emisi GRK dua tahun lebih cepat dari rencana," jelasnya.
Sementara itu, Direktur Utama Medco Energi, Hilmi Panigoro, mengatakan sejak tahun 2018 MEDC telah mengalami pertumbuhan yang signifikan dalam skala dan profitabilitas. Ditambah dengan pencapaian 2023, pihaknya sangat bersemangat terhadap masa depan Medco Energi.
"Seiring dengan pertumbuhan, kami akan tetap berkomitmen pada kepemimpinan di bidang ESG, memperluas jangkauan energi terbarukan, mengembangkan portofolio gas, dan terus menjalin hubungan baik dengan para pemangku kepentingan dan investor," ujar Hilmi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










