Begini Arahan Bos Unilever Pusat Usai Terdampak Boikot

AKURAT.CO Unilever (ULVR.L), membuka halaman baru usai anggota dewan Nelson Peltz sepenuhnya berada di belakang strategi yang baru-baru ini dirancang untuk menyegarkan kembali perusahaan.
CEO Unilever, Hein Schumacher mengatakan bahwa dukungan terhadap strategi baru menunjukkan bahwa ia masih mendapat dukungan dari investor aktivis yang mendukung pengangkatannya tahun lalu.
Schumacher mengatakan bahwa ia ingin Unilever, yang merek-mereknya meliputi sabun Dove, bumbu-bumbu Hellmann's dan es krim Ben & Jerry's, untuk menyusun strategi pemasaran yang sistematis untuk merek-merek unggulannya.
Baca Juga: Imbas Boikot, Laba Bersih Unilever Indonesia (UNVR) Anjlok 10,4 Persen di 2023
"Tidak akan segan-segan untuk merampingkan 127.000 tenaga kerja Unilever," ujar Pria Belanda berusia 52 tahun kepada Reuters, dikutip Kamis (15/2/2024).
Pendahulunya, Alan Jope, dikritik karena membiarkan portofolio merek grup ini berkembang menjadi sekitar 400 merek, sehingga manajemen tidak memiliki banyak waktu untuk fokus pada merek-merek yang berkinerja terbaik.
Beberapa investor juga mengatakan bahwa Unilever terlalu lambat untuk menghidupkan kembali margin setelah pandemi, sementara orang-orang seperti Terry Smith dari Fundsmith mengecam perusahaan karena terobsesi dengan keberlanjutan dengan mengorbankan kinerja.
Ketika Unilever melaporkan pendapatan kuartal keempat minggu lalu, beberapa investor dan analis mengatakan bahwa mereka masih belum mendapatkan kembali pangsa pasar yang hilang dengan cukup cepat dan perlu melakukan lebih banyak hal untuk melindungi marginnya.
Meskipun demikian, Peltz tetap mendukung rencana turnaround grup, kata Schumacher kepada Reuters.
Schumacher mengatakan bahwa pandangan Peltz sangat sejalan dengan strategi pertumbuhan Unilever. Hal ini melibatkan investasi lebih banyak pada 30 merek teratasnya yang mewakili lebih dari 70% penjualan, mendukung jalur inovasinya untuk beberapa tahun ke depan dan bekerja menuju disiplin operasi yang lebih baik.
Investor juga menyukai model Unilever dalam membagi lini bisnisnya berdasarkan kategori, bukan wilayah, kata Schumacher. Hal ini mirip dengan apa yang secara luas dianggap sebagai pengaruh dari dana investasi Trian Partners milik Peltz pada saingannya P&G, yang membuka lembaran baru dan kontras dengan struktur Nestle yang berfokus secara geografis.
Diketahui, bisnis Unilever terdampak boikot di beberapa negara, termasuk di Indonesia. Selama tahun 2023, Unilever Indonesia (UNVR) mencatatkan penurunan laba bersih menjadi Rp4,8 triliun atau turun 10,4% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp5,3 triliun.
Manajemen mengatakan perusahaan pada November 2023 lalu berupaya keras untuk memastikan konsumen memahami informasi yang beredar luas dan mengatasi isu-isu yang tidak benar. Saat itu, seruan boikot ke produk Unilever yang diisukan pro Israel sedang marak.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










