Imbas Boikot, Laba Bersih Unilever Indonesia (UNVR) Anjlok 10,4 Persen di 2023

AKURAT.CO PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mencatatkan penurunan laba bersih pada tahun 2023 karena dampak aksi boikot anti-Israel yang melanda akhir tahun sebelumnya.
Presiden Direktur UNVR, Benjie Yap, menyatakan bahwa dalam dua bulan terakhir kuartal IV-2023, perusahaan menghadapi tantangan eksternal yang tidak terduga, termasuk penyebaran informasi yang tidak akurat terkait situasi geopolitik.
"Kami terdampak oleh sentimen negatif konsumen yang berimbas pada penjualan domestik. Yang ingin saya tekankan adalah bahwa pertengahan November dan Desember adalah periode terberat yang kami hadapi," ungkap Benjie dipantau secara daring, Kamis (8/2/2024).
Ditambahkan, pihaknya telah memulai proses pemulihan sejak Januari 2024.UNVR melihat adanya peningkatan tren, hampir mencapai level baseline, dan yakin momentum tersebut akan sangat positif bahkan melampaui kinerja sebelumnya
Diketahui, selama tahun 2023 UNVR mencatatkan penurunan laba bersih menjadi Rp4,8 triliun atau turun 10,4% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp5,3 triliun.
Benjie menjelaskan bahwa pada November 2023, perusahaan berupaya keras untuk memastikan konsumen memahami informasi yang beredar luas dan mengatasi isu-isu yang tidak benar.
"Kami mengidentifikasi daerah-daerah yang paling terdampak, terutama di Padang dan Aceh yang mengalami dampak negatif yang signifikan. Ini adalah langkah penting. Kami mengidentifikasi daerah-daerah terdampak dan berkolaborasi dengan komunitas masjid serta tokoh agama untuk mengatasi sentimen negatif ini," imbuhnya.
Dijelaskan, UNVR juga aktif dalam melaporkan hoaks atau informasi yang menyesatkan untuk ditindaklanjuti. Yang paling penting adalah ini bukan upaya sekali jalan. Perusahaan telah melayani konsumen Indonesia selama 90 tahun terakhir dan berkomitmen untuk terus membangun dan berinovasi.
Untuk tahun 2024, Benjie menyatakan bahwa perusahaan masih menghadapi dampak yang mungkin terjadi dari situasi geopolitik eksternal dan imbasnya terhadap konsumen. Menangani misinformasi, memantau inflasi pada kategori tertentu, serta memperhatikan kurs mata uang asing seperti dolar AS dan Euro merupakan prioritas perusahaan.
"Kami terus memantau kondisi dan mempersiapkan berbagai strategi untuk menghadapi tantangan yang mungkin timbul," ucap Benjie.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










