Akurat

Indef Ingin Debat Cawapres Perdana Singgung Solusi Mengurai Hambatan Non Tarif Perdagangan Global

M. Rahman | 22 Desember 2023, 16:45 WIB
Indef Ingin Debat Cawapres Perdana Singgung Solusi Mengurai Hambatan Non Tarif Perdagangan Global

AKURAT.CO KPU bakal menggelar debat cawapres perdana tiga paslon pada Jumat, 22 Desember 2023 pukul 19.00 WIB di JCC, Jakarta. 

Tema yang dibahas kali ini adalah ekonomi (kerakyatan dan digital), keuangan, investasi, pajak, perdagangan, pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)-Anggaran Pengelolaan Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan perkotaan.

Peneliti Center of Industry, Trade and Investment INDEF, Ahmad Heri Firdaus mengatakan salah satu isu perdagangan yang ahrus diadress tiga cawapres adalah hambatan non tarif. Pasalnya saat ini banyak negara mitra dagang RI menerapkan hambatan tersebut.

Baca Juga: Debat Cawapres Perdana, Indef Ingin Peserta Paparkan Jurus Tekan Utang Pemerintah

Dijelaskan, saat ini Indonesia banyak menerima tawaran kerja sama perdagangan internasional dari negara lain. Tercatat lebih dari 35 tawaran per Mei 2023 diterima dan 16 di antaranya masih on going proses ratifikasi.

Tawaran yang dimaksud adalah kemudahan dua arah akses masuk ke pasar negara masing-masing, pembebasan tarif impor, bantuan distribusi atau logistik barang hingga sosialiasi atau pemasaran produk. Untuk itu perlu keterampilan komunikasi dan negosiasi yang apik dalam forum perdagangan global agar Indonesia tetap bisa mendapat nilai tambah terbesar.

Dicontohkan, Uni Eropa adalah contoh kasus hambatan non tarif yang paling anyar. Seiring berkurangnya tarif impor yang mereka nikmati, mereka semakin kerap menerapkan hambatan non tarif yang semakin beragam dan menyulitkan negara berkembang termasuk Indonesia.

Misalnya untuk produk yang masuk ke Uni Eropa harus terbebas dari unsur deforestasi. Lalu mulai 2026 nanti mereka juga akan memajaki produk yang dihasilkan dengan energi kotor (emisi CO2) seperti pupuk dan baju buatan Indonesia. Untuk itu penting bagi pemerintah selanjutnya untuk tidak hanya memperbaiki kualitas produk dan melakukan transisi energi semata. Strategi diplomasi dan komunikasi dengan pasar luar juga sangat penting.

"Tapi perlu diingat tawaran kerja sama ini sifatnya kan dua arah. Saat kita mempermudah produk asing masuk ke Indonesia, perlu dipikirkan lantas bagaimana kebijakan dalam negeri agar tetap bisa melindungi pelaku industri yang cukup banyak dan tak hanya menjadi pasar dengan jumlah penduduk 270 jutaan?," kata Ahmad dipantau secara daring, Jumat (22/12/2023).

Isu perdagangan global berikutnya adalah meningkatkan nilai tambah ekonomi di pasar global karena Indonesia masih dipandang sebagai negara pengekspor bahan mentah sehingga lemah posisinya dalam global value chain atau rantai nilai global. Saat ini tren global bukanlah satu negara ingin menguasai semua komoditas atau barang melainkan memiliki spesialisasi tertentu. Misalnya Indonesia bisa fokus di baterai kendaraan listrik.

"Yang harus ditingkatkan spesialisainya, barang yang punya nilai tambah tinggi. Selama ini kita diangkap suplier bahan mentah saja untuk itu ke depan kita perlu meningkatkan posisi di global value chain dan ini tentu perlu kemajuan teknologi, kebijakan, biaya logitsik dan transportasi yang lebih kompetitif dan investasi ke sektor industri strategis karena sebenarnya kinerja perdagangan sangat erat dengan capaian sektor industri," imbuh Ahmad.

Ahmad menilai, tantangan lain di sektor perdagangan yang harus diperhatikan tiga cawapres dalah bagaimana mempertahankan surplus neraca perdagangan yang sudah berjalan 43 bulan berturut-turut dengan meningkatkan ekspor produk bernilai tambah tinggi. Pasalnya nilai ekspor Indonesia kerap turun meski secara volume tetap tumbuh, lantaran volatilitas harga komoditas global dan minimnya produk bernilai tambah tinggi yang dijual (mayoritas raw material).

"Tiga cawapres perlu berbicara mengenai strategi apa untuk mengakselerasi ekspor dan memperkuat neraca perdagangan. Secara fundamental isunya masih minim produk yang punya nilai tambah optimal di Indonesia. Kalau kita lihat saat ini sektor industri termasuk manufaktur pertumbuhan kontribusi ke PDB nya lebih rendah dari sektor perdagangan. Jadi ini barang siapa yang diperdagangkan lebih banyak? Strategi yang tepat bukan kita menghindar tapi perkuat produk lokal ketika dihadapkan dengan persaingan produk negara lain paling tidak sama kuat. Termasuk juga untuk pasar global (ekspor)," urai Ahmad.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa