Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengatakan, ada tiga wilayah yang berpotensi memiliki kandungan LTJ tinggi. Tiga daerah tersebut berada satu di Sumatera dan dua lainnya di Sulawesi.
“Di beberapa by-product atau produk samping dari pengolahan mineral yang saat ini ada Seperti di Bangka Belitung, di Mamuju, kemudian masuk di Sulawesi itu cukup banyak (kandungan LTJ),” kata Brian dalam konferensi pers RAPBN dan Nota Keuangan 2026 dikutip, Sabtu (16/8/2025).
Brian menyampaikan, saat ini penelitian terus dilakukan guna mengitung berapa banyak kandungan LTJ tersebut. Selain itu, penelitian dilakukan guna memproses pemurnian logam tanah jarang.
Baca Juga: Alasan AS Ngebet Akuisisi 50 Persen Mineral Tanah Jarang Ukraina
“Namun memang proses pemurnian ini yang membutuhkan teknologi yang tinggi,” tambahnya.
Brian menuturkan LTJ saat kini menjadi komoditas strategis global. Bahkan, China diketahui menjadikan mineral ini sebagai salah satu instrumen negosiasi dalam perdagangan internasional, khususnya terkait tarif.
Indonesia diperkirakan memiliki cadangan logam tanah jarang dalam jumlah cukup besar. Hal ini membuka peluang bagi negara untuk meningkatkan nilai tambah dan sumber pendapatan baru melalui hilirisasi dan industrialisasi.
“Kita berharap bisa melakukan percepatan untuk hilirisasi sehingga logam tanpa jarang tersebut bisa kita murnikan. Dan kemudian menjadi satu komoditas yang bisa menaikkan pendapatan di Indonesia,” tutur Brian.
Sebelumnya, Direktur Utama PT Timah Tbk (TINS), Restu Widyantoro blak-blakan menjelaskan alasan lambannya perkembangan proyek logam tanah jarang (LTJ) yang dilakukan oleh perusahaan.
Restu menuturkan, meskipun TINS telah menerima penugasan untuk mengembangkan pengolahan mineral tanah jarang ini sudah sejak 10 tahun yang lalu namun keterbatasan teknologi memang menjadi hambatan yang utama.
Restu menambahkan, yang paling banyak itu justru pihak yang siap untuk menyediakan peralatan. Oleh sebab itu, TINS mengharapkan dukungan dari berbagai pihak agar teknologi tersebut bisa didapatkan Timah agar dapat mengolah LTJ.
"Tapi yang kita butuhkan ilmunya sehingga katanya, mohon maaf, informasinya itu yang memiliki kemampuan untuk mengolah logam tanah jarang ini bahkan nanti sampai menjadi bahan campuran untuk nuklir power itu sampai sekarang hanya China atau mohon maaf katanya Khazastan dan sebagainya," papar Restu.