Akurat

PMI November 2023 Capai 51,7, Sektor Manufaktur Ekspansif 27 Bulan Beruntun

Aris Rismawan | 2 Desember 2023, 17:31 WIB
PMI November 2023 Capai 51,7, Sektor Manufaktur Ekspansif 27 Bulan Beruntun

AKURAT.CO Kinerja Manufaktur Indonesia tercatat masih terjaga ekspansif dalam 27 bulan berturut-turut yang terlihat dari Purchasing Managers’ Index (PMI) pada bulan November 2023 berada pada level 51,7 atau meningkat dari bulan sebelumnya sebesar 51,5.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu menilai perekonomian Indonesia saat ini masih resilien meski dihadapkan dengan berbagai risiko perlambatan ekonomi global.

“Terjaganya kinerja sektor manufaktur menandakan resiliensi ekonomi Indonesia di tengah berbagai risiko ketidakpastian dan tren perlambatan ekonomi global,” kata Febrio dikutip dari keterangan tertulis, Sabtu (2/12/2023).

Baca Juga: Menperin: Indeks PMI Manufaktur Juli 2023 Sentuh 53,3, RI Jauh Dari Deindustrialisasi

Febrio menambahkan, capaian tersebut tidak terlepas dari peran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) guna menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi nasional dari berbagai ketidakpastian global.

Lebih merinci, sektor manufaktur Indonesia pada November 2023 masih didorong dari tingkat permintaan dalam negeri yang masih kuat dan peningkatan penyerapan tenaga kerja.

“Produsen juga meningkatkan pembelian dan persediaan input sejalan dengan meningkatnya keyakinan prospek permintaan domestik yang masih kuat. Sehingga secara keseluruhan sektor manufaktur Indonesia pada bulan November tetap positif di tengah harapan akan kondisi pasar,” imbuh Febrio.

Tidak hanya itu, Febrio juga menjelaskan bahwa laju inflasi November 2023 masih terkendali di angka 2,86% (year on year/yoy) meskipun sedikit meningkat dibandingkan inflasi Oktober 2023 sebesar 2,56% (yoy).

“Untuk itu, pemerintah terus berupaya menjaga konsistensi dalam mengantisipasi gejolak harga melalui berbagai intervensi, seperti stabilisasi harga dan pasokan, serta langkah pengendalian inflasi pangan yang salah satunya tercermin dari harga beras di berbagai kota mulai melambat,” ungkap Febrio. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.