Akurat

Disebut 'Penguasa' Negara Sesungguhnya, Ini Sosok 9 Naga

Tria Sutrisna | 24 Oktober 2023, 13:45 WIB
Disebut 'Penguasa' Negara Sesungguhnya, Ini Sosok 9 Naga

AKURAT.CO  Istilah 9 naga seringkali terdengar di dunia ekonomi dan bisnis Indonesia. 9 naga merujuk pada sekelompok pengusaha yang memiliki pengaruh besar dalam perekonomian Indonesia. 

Masing-masing individu ini dikenal sebagai konglomerat, yang mengendalikan berbagai perusahaan besar di negeri ini. Istilah ini mencerminkan pengaruh dan dominasi ekonomi sekelompok individu dalam berbagai sektor usaha di Indonesia.

Namun, identitas 9 naga belum diketahui secara luas. Penasaran siapa saja 9 naga penguasa ekonomi Indonesia? Berikut ulasan lengkapnya.

1. Robert Budi Hartono 

Robert Budi Hartono adalah sosok yang sangat dikenal di Indonesia, terutama sebagai pemimpin di PT. Djarum, perusahaan rokok terbesar di negara ini, dan sebagai figur yang memainkan peran penting dalam olahraga bulu tangkis nasional. Selain itu, ia memiliki berbagai bisnis lain, seperti perusahaan elektronik Polytron, investasi di real estate, saham di startup game Razer, serta kepemilikan di Bank Central Asia. 

Robert Budi Hartono adalah salah satu dari "9 naga" ekonomi Indonesia dan bahkan menduduki peringkat ke-86 orang terkaya di dunia menurut majalah Forbes.

Baca Juga: Konglomerat Dato Sri Tahir Investasi Rp500 M Bangun Rumah Sakit Di IKN

Bersama saudaranya, Michael Hartono, ia mengambil alih kepemimpinan perusahaan dan mengembangkan strategi inovatif yang mengantarkan Djarum ke kesuksesan yang pesat. Kemampuannya dalam manajemen perusahaan dan fleksibilitasnya dalam menghadapi perubahan pasar menjadikannya salah satu pengusaha paling sukses di Indonesia. Pada tahun 2019, kekayaan pribadi Robert Budi Hartono mencapai USD18,6 miliar atau sekitar Rp267 triliun, seperti yang dicatat oleh majalah Forbes.

2. Rusdi Kirana

Rusdi Kirana, seorang konglomerat di bidang penerbangan, juga termasuk dalam pengusaha yang sering disebut sebagai salah satu dari "9 naga" ekonomi Indonesia. Ia adalah pendiri dari Lion Air Group, sebuah perusahaan layanan transportasi yang memiliki sejumlah maskapai, termasuk Lion Air, Wings Air, Batik Air, Malindo Air, serta Thai Lion Air. Perusahaan ini beroperasi di Indonesia, Malaysia, dan Thailand dengan lebih dari 120 destinasi penerbangan.

Rusdi Kirana mendirikan Lion Air pada tahun 1999 dengan visi untuk menyediakan penerbangan yang terjangkau dan lebih mudah diakses. Melalui strategi bisnis yang kuat dan ekspansi yang agresif, ia berhasil menjadikan Lion Air sebagai salah satu maskapai penerbangan terbesar di Asia Tenggara.

Keberhasilannya dapat ditemukan dalam kepemimpinan yang visioner dan dedikasinya terhadap kualitas pelayanan. Berkat usahanya, Rusdi berhasil memperoleh kekayaan yang diperkirakan mencapai setidaknya Rp11,9 triliun.

3. Sofjan Wanandi 

Sofjan Wanandi pendiri Santini Group. Sebelum menjadi Santini Group, perusahaan yang didirikan oleh Sofjan Wanandi awalnya dikenal dengan nama Gemala Group. Gemala Group merupakan hasil dari penggabungan bisnis otomotif keluarganya yang kemudian merambah ke sektor farmasi dan kimia. Pada tahun 1988, grup perusahaan ini berhasil meluaskan operasinya ke empat benua dan juga mulai mengembangkan bisnis di bidang properti.

Santini Group sendiri didirikan pada tahun 1994 dan saat ini dikelola oleh anak-anak Sofjan Wanandi. Perusahaan ini telah mengalami pertumbuhan yang signifikan di berbagai industri, termasuk perangkat otomotif, infrastruktur, sumber daya alam, pengembangan properti, serta berbagai layanan. Santini Group bahkan telah membeli saham klub sepak bola Inggris, Tranmere Rovers.

Terbaru, Santini Group kabarnya juga membeli saham dari klub sepak bola Inggris Tranmere Rovers. Hal tersebut membuat total kekayaan Sofjan Wanandi mencapai USD610 juta setara dengan Rp8,6 triliun.

4. Edward Soeryadjaya

Edward Soeryadjaya merupakan anak sulung dari William Soeryadjaya, pendiri PT Astra International. Ia memiliki sejarah bisnis yang mencakup pendirian Bank Summa pada tahun 1990 dan perannya sebagai direktur di Ortus Group, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang medikal, telematika, perawatan perangkat medis, dan sektor finansial. Dalam upayanya membangun bisnis, Edward Soeryadjaya memusatkan perhatiannya pada sektor energi, konstruksi, dan pertambangan.

Keberhasilannya terletak pada kemampuannya untuk mengidentifikasi peluang di sektor-sektor yang berkembang pesat dan mengambil keuntungan dari mereka melalui strategi bisnis yang cerdas dan inovatif. 

Selain mendirikan Bank Summa, ia juga memegang jabatan sebagai direktur di Ortus Group. Total kekayaan Edward Soeryadjaya diperkirakan mencapai Rp200,02 triliun.

5. Jacob Soetoyo

Jacob Soetoyo, yang menjabat sebagai Presiden Direktur PT Gesit Sarana Perkasa, adalah salah satu tokoh yang diakui dalam lingkaran sembilan naga ekonomi Indonesia. PT Gesit Sarana Perkasa adalah perusahaan properti yang terlibat dalam pembangunan hotel JS Luwansa. Selain bisnis properti, Jacob Soetoyo juga terlibat dalam urusan pemerintahan sebagai Dewan Pengawas di Center of Strategic and International Studies (CSIS).

Jacob Soetoyo tidak hanya sukses dalam bisnis, tetapi juga aktif dalam kegiatan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat. Menariknya, ia pernah menyediakan rumahnya di Permata Hijau untuk pertemuan Presiden Jokowi dengan perwakilan asing di Jakarta, termasuk Duta Besar Amerika Serikat Robert O’ Blacke, Dubes Myanmar, Dubes Meksiko, Dubes Turki, Dubes Norwegia, dan Dubes Vatikan.

6. James Riady

James Riady merupakan salah satu pengusaha yang sering disebut sebagai salah satu dari "9 naga." Ia merupakan anak sulung dari Mochtar Riady, pendiri Lippo Group.

Lippo Group sendiri bergerak di berbagai sektor, termasuk real estat, ritel, perhotelan dan rekreasi, kesehatan, pendidikan, media dan berita, telekomunikasi, teknologi digital, serta layanan keuangan.

Pada tahun 2018, jumlah kekayaan James Riady yang berasal dari perusahaan yang diwarisi dari sang ayah diperkirakan mencapai Rp33 triliun, menurut kabar yang beredar.

7. Tommy Winata 

Tommy Winata dikenal sebagai salah satu dari "9 naga" ekonomi Indonesia setelah mendirikan Arta Graha Group pada tahun 1990. Konglomerat ini mencakup berbagai sektor bisnis, termasuk pertambangan, ritel, media, hiburan, telekomunikasi, dan banyak lainnya. Dengan portofolio bisnis yang luas, Tommy Winata berhasil membangun sebuah empire bisnis yang signifikan di Indonesia.

8. Anthony Salim 

Anak dari Sudono Salim, pendiri Salim Group, berhasil menghidupkan kembali perusahaan keluarga yang sebelumnya mengalami kesulitan. Salim Group memiliki berbagai bisnis, termasuk produksi makanan melalui Indofood, serta perusahaan-perusahaan lain seperti Super Indo, Elshinta, Indomaret, dan Supermal Karawaci. Kesuksesan keluarga ini dalam mengelola beragam bisnis mencerminkan kemampuan mereka dalam membangun dan mempertahankan perusahaan-perusahaan besar di Indonesia.

9. Dato Sri Tahir

Dato Sri Tahir, yang merupakan menantu dari Mochtar Riady, pendiri Lippo Group, adalah pendiri dari Mayapada Group. Salah satu anak perusahaan yang berada di bawah naungan Mayapada Group adalah Bank Mayapada.

Berdasarkan data Forbes tahun 2023, kekayaan Tahir saat ini mencapai USD4,3 miliar atau setara dengan Rp651 triliun. Dato Sri Tahir telah berhasil membangun kekayaan pribadi yang signifikan melalui bisnisnya dalam Mayapada Group.

Demikian ulasan lengkap 9 naga di Indonesia. Sebenarnya masih ada beberapa nama lain, seperti misalnya Aguan atau Sugianto Kusuma (Guo Zaiyuan) pendiri Agung Sedayu Group yang juga disebut masuk dalam kelompok 9 naga atau bahkan menjadi naga ke-10. 

9 naga bukanlah kelompok yang anggotanya pasti, namun lebih kepada sebutan yang disematkan ke mereka lantaran besarnya guritas bisnisnya. Istilah ini juga pertama kali muncul di zaman orde baru yang menggambarkan betapa kuatnya hubungan antara pengusaha dan presiden di zaman itu.

Dalam buku Liem Sioe Liong's Salim Group: The Business Pillar of Suharto's Indonesia (2014), Richard Borsuk dan Nancy Chng misalnya menyebutkan Salim dan Soeharto memiliki simbiosis mutualisme yang kemudian oleh Sri Bintang Pamungkan seperti dalam bukunya Ganti Rezim Ganti Sistim (2014), disebut melahirkan istilah sembilan naga.

Salim kala itu mengawali bisnisnya di sektor impor barang dan menjadi pemasok barang tentara. Karena menjadi pemasok inilah dia berkenalan dengan Soeharto yang kemudian menjadi Presiden Kedua Indonesia. Kedekatannya dengan Soeharto membuat bisnisnya semakin makmur.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.