Cegah Perubahan Iklim, Tripatra Tanam 50.000 Pohon

AKURAT.CO - PT Tripatra Engineers and Constructors atau Tripatra turut mencegah perubahan iklim dan pelestarian lingkungan dengan menyelenggarakan program Tripatra Tanam Pohon dengan melakukan penanaman 50.000 bibit pohon Mangrove dan Terestrial di berbagai daerah, salah satunya di Kawasan Mangrove Kramat, Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Banten.
Penanaman pohon ini dilakukan oleh jajaran direksi dan pimpinan TRIPATRA beserta Deputi Bidang Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Banten, Komunitas Tani Hutan Alam Lestari, dan Pemerintah setempat.
President Director & CEO PT Tripatra Engineers and Constructors, Raymond Naldi Rasfuldi, mengatakan di ulang tahun ke-50, Trpiatra terus berkomitmen untuk berkontribusi dalam memberikan dampak signifikan bagi lingkungan. Kami menyadari bahwa upaya mengurangi dampak iklim bukan hanya tanggung jawab pemerintah tetapi segenap masyarakat termasuk perusahaan. Ditambah lagi dengan kian meningkatnya polusi udara di Indonesia, khususnya di pulau Jawa.
"Untuk itu, sebagai bentuk komitmen kami untuk mendukung pemerintah dalam upaya mencegah perubahan iklim dan mencapai Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060, Tripatra melakukan inisiatif program Tripatra Tanam Pohon dengan melakukan penanaman 50.000 bibit pohon Mangrove dan Terestrial. Kami berharap, melalui inisiatif ini bukan hanya membantu mengurangi emisi karbon, namun juga meningkatkan pemahaman serta sikap peduli lingkungan kepada seluruh Insan Tripatra dan juga masyarakat,” kata Raymond dikutip Rabu (23/8/2023).
Deputi Bidang Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Prasinta Dewi M.A.P mengapresiasi dan menyambut baik aktivitas penanaman pohon yang dilakukan Tripatra. “Upaya-upaya seperti ini perlu terus ditingkatkan dan terus dilanjutkan. Karena selain dapat mengurangi risiko bencana, juga akan meningkatkan ekonomi masyarakat. Kami juga melihat, program Tripatra ini juga merupakan salah satu bentuk inisiatif kolaboratif pentahelix, dimana melibatkan berbagai pihak untuk bersama-sama mendukung kelestarian lingkungan,” kata Prasinta Dewi.
Inisiatif Tripata Tanam Pohon ini merupakan bagian dari komitmen tanggung jawab sosial perusahaan dan salah satu bentuk komitmen Tripatra dalam mengimplementasikan program Environmental, Social, and Governance (ESG) dan mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) dalam hal melakukan tindakan untuk memerangi perubahan iklim. “Ke depannya, Tripatra akan terus melakukan berbagai inisiatif dan aksi strategis dalam upaya mengimplementasikan ESG perusahaan, terutama terhadap pelestarian lingkungan di Indonesia,” kata Raymond.
Tambahan informasi, Indonesia telah menyampaikan peningkatan ambisi penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) melalui dokumen Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC), dimana target penurunan emisi GRK Indonesia dengan kemampuan sendiri pada Updated NDC (UNDC) sebesar 29% meningkat menjadi 31,89% pada ENDC, sedangkan target dengan dukungan internasional pada UNDC sebesar 41% meningkat ke 43,20%. Hal tersebut merupakan upaya untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada 2060.
Namun, untuk mencapai target tersebut, Indonesia masih menghadapi tantangan. Berdasarkan data real-time pada situs IQAir, sebagian besar wilayah di Indonesia masih memiliki indeks kualitas udara yang melebihi ambang batas WHO, yaitu sebesar 5 mikrogram per meter kubik, dengan konsentrasi tertinggi terdapat di pulau Jawa dan Sumatera, terutama di daerah Jabodetabek. Hal tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara dengan tingkat polusi udara paling buruk di Asia Tenggara.
Guna menghadapi situasi genting ini, peran “karbon biru” untuk penyerapan dan penyimpanan karbon oleh ekosistem laut sangatlah penting, salah satunya dengan memanfaatkan tanaman mangrove. Sebab, kemampuan mangrove dalam menyerap karbon merupakan jasa ekosistem yang penting pada kondisi perubahan iklim secara global. Adapun manfaat lain dari keberadaan hutan mangrove yaitu air di sekitar akan menjadi lebih bening, sebagai rantai makanan, dan menjadi habitat baru bagi ekosistem laut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









