GRR Tuban Jadi Prioritas, Prabowo Perkuat Komitmen RI-Rusia

AKURAT.CO Ketua Komisi XII DPR RI, Sugeng Suparwoto, menyatakan bahwa kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia beberapa waktu lalu menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia berkomitmen melanjutkan pembangunan Grass Root Refinery and Petrochemical (GRR&P) Tuban, Jawa Timur.
Proyek kerja sama antara PT Pertamina dan perusahaan minyak asal Rusia, Rosneft, ini diyakini sangat strategis karena tidak hanya memproduksi bahan bakar minyak, tetapi juga membangun industri petrokimia nasional yang dikelola negara, bukan swasta.
"GRR Tuban sangat penting bagi Indonesia. Ini bukan sekadar membangun kilang minyak, tapi sekaligus membentuk petrochemical industry complex milik bangsa sendiri," ujar Sugeng dalam pertemuan Kunjungan Kerja Spesifik Komisi XII DPR RI di Surabaya, Jawa Timur, dikutip Senin (14/7/2025).
Baca Juga: Komisi XII Bakal Panggil Perusahaan Batu Bara Abai Reklamasi
Hadir dalam pertemuan tersebut jajaran Direksi PT Pertamina (Persero), PT Kilang Pertamina Internasional, serta PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia Jawa Timur.
Sugeng menjelaskan, proyek GRR Tuban yang telah masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) sejak 2017, sempat terkendala akibat dinamika geopolitik global, terutama sejak pecahnya perang antara Rusia dan Ukraina. Situasi tersebut berdampak pada lalu lintas pembiayaan karena Rusia terkena embargo, padahal nilai investasi proyek ini mencapai sekitar USD20 miliar.
Meski begitu, Sugeng menegaskan bahwa Rosneft tidak pernah menarik diri dari proyek ini. Bahkan, menurutnya, komitmen kerja sama antara kedua negara semakin diperkuat pasca kunjungan Presiden Prabowo dan pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
"Proyek ini tidak hanya akan memproduksi BBM hingga 300 ribu barel per hari, tetapi juga menghasilkan produk petrokimia hingga 4,5 juta ton per tahun. Ini penting karena saat ini kita masih impor 64 persen kebutuhan petrokimia nasional," terangnya.
Sugeng menambahkan, Indonesia saat ini mengeluarkan lebih dari USD9 miliar setiap tahun hanya untuk impor bahan baku petrokimia, seperti plastik, PVC, dan serat sintetis. Oleh karena itu, kehadiran kilang GRR Tuban akan mengurangi ketergantungan impor sekaligus memperkuat struktur industri nasional.
Baca Juga: Izin Tambang PT Gag Nikel di Raja Ampat Tak Dicabut, Ini Penjelasan Komisi XII DPR
Lebih jauh, Sugeng menegaskan bahwa seluruh kilang di Indonesia ke depan harus bertransformasi menjadi refinery-petrochemical industry complex, bukan lagi sekadar pengolah minyak mentah menjadi BBM.
"Kalau hanya kilang BBM, marginnya kecil dan cenderung merugi. Dunia sudah beralih ke model kilang terintegrasi dengan industri petrokimia. Dan GRR Tuban sejak awal sudah dirancang dengan konsep itu," tegasnya.
Ia pun menilai bahwa keberadaan Presiden dalam mendorong penyelesaian hambatan geopolitik menjadi krusial agar proyek ini dapat kembali berjalan dan dituntaskan sesuai rencana strategis nasional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Trump Akui AS Kembali Serang Iran, Sistem Pertahanan Udara Dihancurkan dalam Hitungan Menit
- 2Moto3 Qatar, Hiroshi Aoyama Terima Penalti Veda Ega Pratama, Tegaskan 'Feeling' Pembalap Bagus
- 3Jadwal MotoGP Qatar 2026 Terbaru, Cek Jam Tayang Sprint Race dan Balapan Utama
- 4Arab Saudi Ikuti Jejak Timnas Indonesia, Batalkan Laga Melawan Yordania
- 5Kalender Jawa 6 November 2026: Weton Jumat Pahing, Wataknya Dikenal Gigih dan Ambisius
- 6KPK Sita Rp2 Miliar dari Dirut KAI Bobby Rasyidin dalam Korupsi Digitalisasi SPBU
- 7Kapten Melbourne Victory Lompat Pagar, Labrak Suporter Usai Timnya Dipermalukan Persib
- 8Ditekan Anggota Kongres, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth Tegaskan Menolak Pemakzulan
- 9Prabowo Terima Surat Kepercayaan 11 Duta Besar LBBP Negara Sahabat, Ini Daftarnya
- 10Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar







