Akurat

Bagaimana Hubungan antara Takdir, Ikhtiar, Doa, dan Tawakal? Ini Penjelasan Lengkap Menurut Ajaran Islam

Idham Nur Indrajaya | 1 Februari 2026, 22:26 WIB
Bagaimana Hubungan antara Takdir, Ikhtiar, Doa, dan Tawakal? Ini Penjelasan Lengkap Menurut Ajaran Islam

Dalam kehidupan sehari-hari, umat Islam sering mendengar empat istilah penting: takdir, ikhtiar, doa, dan tawakal. Keempatnya kerap muncul saat seseorang berbicara tentang usaha, kegagalan, keberhasilan, hingga cara menyikapi hasil hidup.

Namun, bagaimana sebenarnya hubungan antara takdir, ikhtiar, doa, dan tawakal menurut ajaran Islam? Apakah manusia hanya pasrah pada ketetapan Tuhan, atau justru wajib berjuang sekuat tenaga?

Artikel ini mengulas secara lengkap makna tiap konsep serta keterkaitannya, disertai dalil Al-Qur’an dan penjelasan para ulama—dengan bahasa yang ringan, relevan, dan mudah dipahami.


Memahami Konsep Dasar Takdir, Ikhtiar, Doa, dan Tawakal

Sebelum melihat bagaimana keempatnya saling terhubung, penting untuk memahami definisi masing-masing istilah.

Pengertian Ikhtiar dalam Islam

Secara bahasa, ikhtiar berasal dari kata Arab اختيار yang berarti memilih atau bersungguh-sungguh dalam berusaha. Dalam konteks ajaran Islam, ikhtiar merujuk pada segala upaya manusia untuk meraih sesuatu melalui cara yang baik dan halal.

Al-Qur’an menegaskan bahwa perubahan tidak datang tanpa usaha:

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra’d: 11).

Ayat ini sering dijadikan dasar bahwa manusia memiliki peran aktif dalam menentukan jalan hidupnya melalui kerja keras, perencanaan, dan tindakan nyata.


Makna Doa sebagai Bentuk Ketergantungan kepada Allah

Doa merupakan permohonan seorang hamba kepada Allah SWT agar diberi pertolongan, petunjuk, dan kemudahan. Lebih dari sekadar meminta, doa juga menjadi sarana memperkuat hubungan spiritual dengan Sang Pencipta.

Allah SWT berfirman:

"Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu." (QS. Ghafir: 60).

Dalam Islam, doa menunjukkan bahwa manusia sadar akan keterbatasannya dan sepenuhnya menggantungkan hasil akhirnya kepada Allah.


Apa Itu Tawakal?

Tawakal berasal dari kata Arab توكل yang berarti menyerahkan atau mewakilkan urusan. Secara istilah, tawakal adalah sikap berserah diri kepada Allah setelah melakukan ikhtiar dan memanjatkan doa.

Tawakal bukan sikap pasif. Justru, ia muncul setelah seseorang berusaha semaksimal mungkin. Al-Qur’an menegaskan:

"Dan bertawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah sebagai pelindung." (QS. Al-Ahzab: 3).

Artinya, manusia bekerja keras, lalu menerima apa pun hasilnya dengan keyakinan bahwa keputusan Allah selalu mengandung hikmah.


Takdir dalam Perspektif Islam: Ketetapan yang Mengandung Hikmah

Dalam kajian akidah, takdir dipahami sebagai ketentuan Allah terhadap seluruh makhluk-Nya. Mengutip buku Qadha dan Qadar karya Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, Rasulullah SAW bersabda:

"Allah telah menentukan takdir bagi semua makhluk lima puluh tahun sebelum Allah ciptakan langit dan bumi." (HR. Muslim)

Para ulama kemudian menjelaskan bahwa takdir memiliki dua bentuk utama.

Takdir Mubram

Takdir mubram adalah ketentuan yang tidak bisa diubah oleh usaha manusia, seperti kematian atau waktu datangnya ajal. Allah SWT berfirman:

وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ

Artinya: "Dan setiap umat mempunyai ajal. Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun." (QS. Al-A’raf: 34).


Takdir Muallaq

Berbeda dengan mubram, takdir muallaq berkaitan dengan ketetapan yang bisa berubah melalui usaha dan doa manusia—seperti kondisi ekonomi, kesehatan, atau kesuksesan.

Dalilnya kembali pada QS. Ar-Ra’d ayat 11:

لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ

Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri."


Bagaimana Hubungan Takdir, Ikhtiar, Doa, dan Tawakal?

Dalam Islam, keempat konsep ini tidak berdiri sendiri. Justru, semuanya saling melengkapi dalam menjalani kehidupan.

Ikhtiar dan Doa: Usaha yang Disertai Permohonan

Manusia diperintahkan untuk berusaha sekuat tenaga. Namun, usaha tanpa doa berisiko menumbuhkan rasa sombong, seolah semuanya murni hasil kemampuan pribadi.

Misalnya, saat mencari pekerjaan, seseorang perlu mempersiapkan CV, melatih keterampilan, dan mengikuti wawancara. Bersamaan dengan itu, ia berdoa agar Allah memberinya pekerjaan terbaik. Di sinilah ikhtiar dan doa berjalan beriringan.


Doa dan Tawakal: Percaya pada Keputusan Allah

Setelah memohon, seorang Muslim diajarkan untuk bertawakal. Artinya, ia percaya bahwa Allah akan memberikan hasil terbaik—meski mungkin tidak sesuai dengan harapan awal.

Contohnya saat menghadapi ujian. Setelah belajar dan berdoa, seseorang menyerahkan hasilnya kepada Allah tanpa larut dalam kecemasan berlebihan.


Ikhtiar dan Tawakal: Bekerja Keras Tanpa Takut Hasil

Tawakal tidak boleh dijadikan alasan untuk bermalas-malasan. Islam justru menekankan pentingnya usaha, lalu menerima apa pun hasilnya dengan lapang dada.

Saat merintis usaha, misalnya, seseorang perlu menyusun strategi, mencari peluang, dan bekerja konsisten. Setelah itu, ia menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah dengan penuh keyakinan.


Menyatukan Empat Konsep dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam buku Mukjizat Energi Tawakal, Abdillah F. Hasan menjelaskan bahwa doa, ikhtiar, dan tawakal membantu manusia memahami kehendak Allah dalam takdir-Nya. Ketika gagal, seseorang tidak mudah putus asa. Saat berhasil, ia tidak larut dalam kesombongan.

Al-Qur’an juga mengingatkan melalui firman-Nya:

"Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh)... Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan jangan pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu." (QS. Al-Hadid: 22–23).

Ayat ini menunjukkan keseimbangan sikap: tetap berusaha, rajin berdoa, bertawakal, serta menerima takdir dengan hati yang tenang.


Kesimpulan: Jalan Hidup Muslim Ada pada Keseimbangan

Hubungan antara takdir, ikhtiar, doa, dan tawakal membentuk satu kesatuan utuh dalam Islam. Takdir adalah ketetapan Allah, ikhtiar merupakan kewajiban manusia, doa adalah bentuk penghambaan, dan tawakal menjadi sikap hati setelah berusaha.

Keempatnya mengajarkan bahwa hidup bukan soal pasrah tanpa gerak, tetapi juga bukan semata-mata mengandalkan kemampuan diri. Di sanalah letak keseimbangannya.

Kalau kamu tertarik dengan pembahasan keislaman lainnya, pantau terus update terbaru di AKURAT.CO agar tidak ketinggalan insight menarik berikutnya.

Baca Juga: Ini Sejumlah Ikhtiar yang Dilakukan Nabi Muhammad untuk Mendapatkan Rezeki

Baca Juga: Apa yang Dimaksud dengan Tawakal dalam Konteks Agama Islam?

FAQ

1. Apa hubungan antara takdir, ikhtiar, doa, dan tawakal?

Takdir adalah ketetapan Allah SWT, sementara ikhtiar merupakan usaha manusia, doa adalah bentuk permohonan kepada Allah, dan tawakal adalah sikap berserah diri setelah berusaha. Keempatnya saling melengkapi dan tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan seorang Muslim.


2. Apakah manusia masih perlu berusaha jika semuanya sudah ditakdirkan?

Ya. Islam mewajibkan manusia untuk tetap berikhtiar. Dalilnya terdapat dalam QS. Ar-Ra’d ayat 11 yang menjelaskan bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka berusaha mengubah dirinya sendiri.


3. Apakah tawakal berarti pasrah tanpa melakukan apa pun?

Tidak. Tawakal dilakukan setelah usaha maksimal. Berserah diri kepada Allah bukan berarti berhenti berjuang, melainkan menerima hasil dengan penuh keyakinan setelah bekerja keras.


4. Apa perbedaan takdir mubram dan takdir muallaq?

Takdir mubram adalah ketetapan yang tidak bisa diubah, seperti ajal. Sedangkan takdir muallaq adalah ketetapan yang dapat berubah melalui ikhtiar dan doa, misalnya rezeki atau kondisi hidup.


5. Mengapa doa penting dalam proses ikhtiar?

Doa menegaskan bahwa manusia memiliki keterbatasan dan membutuhkan pertolongan Allah. Usaha tanpa doa bisa menumbuhkan rasa sombong, sedangkan doa tanpa usaha berarti mengabaikan kewajiban untuk berikhtiar.


6. Bagaimana cara menerapkan ikhtiar, doa, dan tawakal dalam kehidupan sehari-hari?

Misalnya saat mencari pekerjaan: mempersiapkan diri dan melamar (ikhtiar), memohon kepada Allah agar diberi hasil terbaik (doa), lalu menerima keputusan dengan lapang dada (tawakal).


7. Apakah kegagalan berarti doa tidak dikabulkan?

Tidak selalu. Dalam Islam, doa bisa dikabulkan dalam bentuk yang berbeda, ditunda, atau diganti dengan sesuatu yang lebih baik menurut kehendak Allah.


8. Bagaimana sikap seorang Muslim terhadap keberhasilan?

Keberhasilan seharusnya membuat seseorang semakin bersyukur, bukan sombong. Ia menyadari bahwa hasil yang diperoleh merupakan bagian dari takdir Allah setelah melalui proses ikhtiar dan doa.


9. Apakah Islam mengajarkan untuk menyerah pada keadaan?

Tidak. Islam justru mengajarkan keseimbangan antara usaha maksimal dan keikhlasan menerima hasil akhir.


10. Mengapa memahami konsep ini penting dalam kehidupan modern?

Karena pemahaman tentang takdir, ikhtiar, doa, dan tawakal membantu seseorang tetap produktif, tidak mudah putus asa, serta lebih tenang menghadapi berbagai situasi hidup.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.