20 Sifat Wajib dan Mustahil bagi Allah: Penjelasan Lengkap dan Mudah Dipahami

AKURAT.CO Sebagai umat Islam, memahami sifat-sifat Allah bukan hanya pelajaran di sekolah atau madrasah, tapi bagian penting dari akidah kita. Ilmu ini menguatkan iman, membantu kita mengenal Allah lebih dekat, dan menjauhkan dari keyakinan yang salah.
Dalam tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah—yang banyak diikuti umat Islam di Indonesia—ulama telah merumuskan daftar sifat yang pasti ada pada Allah (sifat wajib) dan sifat yang mustahil ada pada-Nya (sifat mustahil). Pemahaman ini disusun berdasarkan dalil Al-Qur’an, hadis, dan penjelasan para ulama.
Apa Itu Sifat Wajib Allah?
Sifat wajib adalah sifat yang pasti dimiliki oleh Allah. Mustahil sifat ini tidak ada pada-Nya. Para ulama membaginya menjadi 20 sifat wajib yang dikelompokkan dalam empat kategori: Nafsiyah, Salbiyah, Ma’ani, dan Ma’nawiyah.
Mari kita bahas satu per satu dengan bahasa sederhana.
Sifat Wajib bagi Allah
Sifat wajib adalah sifat yang pasti dimiliki oleh Allah, dan ketiadaannya mustahil.
Ulama membagi sifat wajib Allah menjadi 20 sifat, terbagi dalam 4 kelompok besar:
A. Sifat Nafsiyah (1 sifat)
-
Wujud — Ada-Nya Allah itu pasti, tidak berasal dari sesuatu dan tidak akan berakhir.
Dalil: "Allah adalah Tuhan yang kekal." (QS. Al-Ikhlas: 2)
B. Sifat Salbiyah (5 sifat)
-
Qidam — Dahulu, tanpa permulaan.
-
Baqa’ — Kekal, tanpa akhir.
-
Mukhalafatu lil-hawadits — Berbeda dari makhluk.
-
Qiyamuhu binafsih — Berdiri sendiri, tidak butuh sesuatu.
-
Wahdaniyah — Esa, tunggal dalam dzat, sifat, dan perbuatan.
C. Sifat Ma’ani (7 sifat)
-
Qudrat — Maha kuasa.
-
Iradah — Maha berkehendak.
-
Ilmu — Maha mengetahui.
-
Hayat — Maha hidup.
-
Sama’ — Maha mendengar.
-
Basar — Maha melihat.
-
Kalam — Maha berfirman/berkata sesuai keagungan-Nya.
D. Sifat Ma’nawiyah (7 sifat)
Ini adalah keadaan Allah yang menunjukkan kesempurnaan sifat Ma’ani-Nya:
-
Kaunuhu Qadiran (dalam keadaan berkuasa)
-
Kaunuhu Muridan (dalam keadaan berkehendak)
-
Kaunuhu ‘Aliman (dalam keadaan mengetahui)
-
Kaunuhu Hayyan (dalam keadaan hidup)
-
Kaunuhu Sami’an (dalam keadaan mendengar)
-
Kaunuhu Basiran (dalam keadaan melihat)
-
Kaunuhu Mutakalliman (dalam keadaan berfirman)
Sifat Mustahil bagi Allah
Sifat mustahil adalah kebalikan dari sifat wajib. Jumlahnya juga 20 sifat, yaitu:
Kebalikan dari Sifat Wajib:
-
‘Adam — Tidak ada (mustahil Allah tidak ada).
-
Huduts — Baru (mustahil Allah ada permulaannya).
-
Fana’ — Binasa (mustahil Allah akan berakhir).
-
Mumatsalatuhu lil-hawadits — Menyerupai makhluk.
-
Ihtiyaj ila ghairih — Butuh pada sesuatu.
-
Ta’addud — Berbilang (ada lebih dari satu tuhan).
-
‘Ajz — Lemah.
-
Karahah — Terpaksa.
-
Jahl — Bodoh.
-
Maut — Mati.
-
Shamam — Tuli.
-
‘Umyun — Buta.
-
Bukmun — Bisu.
-
Kaunuhu ‘Ajizan — Dalam keadaan lemah.
-
Kaunuhu Mukrahan — Dalam keadaan terpaksa.
-
Kaunuhu Jahilan — Dalam keadaan bodoh.
-
Kaunuhu Mayyitan — Dalam keadaan mati.
-
Kaunuhu Asamma — Dalam keadaan tuli.
-
Kaunuhu A’ma — Dalam keadaan buta.
-
Kaunuhu Abkama — Dalam keadaan bisu.
Sifat Jaiz bagi Allah
Selain sifat wajib dan mustahil, ada juga sifat jaiz:
-
Fi’lu kulli mumkinin aw tarkuhu — Allah berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu sesuai kehendak-Nya.
Contoh: Allah menciptakan atau tidak menciptakan, memberi rezeki atau menahannya, semua sesuai kehendak-Nya.
Sumber Rujukan
-
Al-Qur’an: QS. Al-Ikhlas, QS. Asy-Syura:11, QS. Al-Baqarah:255 (Ayat Kursi)
-
Hadis: HR. Bukhari & Muslim tentang keagungan Allah dan perbedaan-Nya dengan makhluk.
-
Kitab Klasik: Aqidah al-‘Awam (Syaikh Ahmad al-Marzuqi), Al-Jawharat at-Tauhid (Imam al-Laqani), Umm al-Barahin (Imam As-Sanusi).
Kesimpulan
Memahami sifat wajib dan mustahil bagi Allah adalah fondasi penting dalam akidah Islam. Ilmu ini membantu kita mengenal Sang Pencipta dengan benar, menguatkan iman, dan menjaga diri dari keyakinan yang menyimpang.
Kalau kamu ingin lebih dalam mempelajari akidah, pelajari juga sifat jaiz dan dalil-dalilnya, lalu kaitkan dengan kehidupan sehari-hari.
Pantau terus artikel seputar akidah dan pengetahuan Islam lainnya di Akurat.co agar wawasanmu semakin bertambah.
Baca Juga: Perbedaan Pajak, Zakat, Wakaf, dan Infak dalam Islam
Baca Juga: Amalan Ayat Seribu Dinar: Hadis Pendukung dan Waktu yang Tepat Membacanya
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









