Akurat

Membaca Geliat Sandiwara Anies Airin di Pilkada Serentak

Editor Jatim | 29 Agustus 2024, 08:38 WIB
Membaca Geliat Sandiwara Anies Airin di Pilkada Serentak

PERUBAHAN dinamika politik seringkali menghadirkan kejutan yang tak terduga. Hal tersebut terlihat di pentas Pilkada Serentak 2024, di mana putusan Mahkamah Konstitusi (MK) mengenai ambang batas perolehan suara telah menciptakan peristiwa politik yang menggelikan, mendebarkan, dan penuh sandiwara.

Salah satu contoh yang mencolok adalah dinamika hubungan Anies Baswedan bersama PDI Perjuangan. Mendebarkan, penuh tanda tanya, dan berakhir tanpa ijab kabul.

Contoh mencolok lainnya adalah keputusan mendadak DPP Golkar mendukung Airin Rachmi Diany dalam Pilgub Banten, padahal sehari sebelumnya partai beringin telah memberikan rekomendasi kepada Andra Soni-Dimyati.

Baca Juga: 61 Calon Kepala Daerah Independen Lolos Pilkada Serentak 2024

Ketika saya bertanya kepada beberapa pengurus Golkar mengenai perubahan mendadak tersebut, banyak dari mereka memberikan jawaban seperti ini. "Kader Golkar, petinggi Golkar, terluka melihat Airin ditunjuk-tunjuk begitu oleh Ibu Mega."

Pernyataan ini merujuk pada momen ketika Airin menghadiri acara pengumuman bakal calon kepala daerah tahap ketiga oleh DPP PDI Perjuangan (26/08/2024). Pada saat memberikan sambutan, dalam satu momen, Megawati Soekarnoputri mengarahkan telunjuknya kepada Airin, menyampaikan pesan dengan nada menggelegar.

"Airin, ngomong yang keras. Iya dong. Kalau Lu udah masuk PDI lho. Awas lu ye," kata Megawati.

Perlakuan tersebut besar kemungkinan mengejutkan Airin. Juga kader Golkar lainnya. Namun, bagi kader PDI Perjuangan, hal semacam itu adalah bagian dari dinamika internal yang sudah biasa terjadi. Seperti terlihat dalam forum yang sama, Yasonna Laoly, mantan Menteri Hukum dan HAM, juga mendapat perlakuan serupa dari Ibu Mega. Lain lubuk lain ikan, lain padang lain belalang.

Baca Juga: Mewaspadai Upaya Manipulatif di Pilkada Serentak

Kisah Anies dan Airin adalah bagian dari sandiwara dalam pentas politik pasca putusan MK tentang ambang batas perolehan suara di Pilkada Serentak 2024. Putusan MK ini telah mengubah lanskap politik secara signifikan, memungkinkan partai seperti PDIP untuk mencalonkan kandidat sendiri tanpa harus bergantung pada koalisi dengan partai lain.

Sebelumnya, ada indikasi kuat bahwa koalisi besar akan mendominasi calon di Pilkada, terutama di daerah-daerah strategis seperti Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Situasi ini berpotensi mengancam demokrasi dengan dominasi elit dan oligarki, serta kemungkinan terjadinya situasi lawan kotak kosong.

Namun, PDI Perjuangan, yang sebelumnya terancam tidak berdaya di wilayah-wilayah strategis, mendapatkan kekuatan untuk mencalonkan kandidat mereka sendiri berkat putusan MK.

Proses demokrasi semakin kaya dan beragam, tidak lagi dikendalikan oleh sekelompok elit karena putusan MK.

Putusan MK telah memberikan kontribusi besar terhadap penyegaran Pilkada. Peta koalisi yang sebelumnya stagnan kini menjadi lebih fleksibel, dan partai-partai serta calon independen memiliki peluang yang lebih besar. Partai-partai non-parlemen juga lebih menggeliat sehingga membuat peta koalisi menjadi lebih dinamis.

Putusan MK juga memberikan kesempatan bagi calon-calon yang awalnya terpinggirkan oleh koalisi besar atau terhambat oleh ambang batas suara. Banyak kandidat yang sebelumnya dianggap tidak memiliki peluang, mencoba memanfaatkan situasi dengan mencari dukungan tambahan. Mereka menggali potensi koalisi baru dan menjalin komunikasi intensif dengan berbagai partai politik untuk memperbesar peluang mereka.

Kondisi ini menciptakan dinamika politik yang lebih kompleks dan beragam, di mana calon-calon yang tadinya dianggap kurang berpeluang akhirnya mendapatkan sorotan. Dengan munculnya peluang baru, mereka berusaha memanfaatkan kesempatan ini untuk menggalang dukungan politik yang diperlukan untuk maju dalam Pilkada.

Dinamika pengusungan calon di pilkada serentak 2024 menunjukkan bagaimana putusan MK tidak hanya mempengaruhi peta politik di tingkat partai, tetapi juga memberikan dampak langsung pada calon tertentu. Dukungan dari partai-partai yang sebelumnya tidak tertarik atau tidak memberikan perhatian kepada calon tertentu kini menjadi faktor kunci dalam menentukan arah dan hasil Pilkada.

Sekarang adalah hari terakhir pendaftaran calon di Pilkada Serentak. Kita menantikan apakah akan ada kejutan baru.

Waktu akan menjawab bagaimana dinamika politik ini akan berkembang lebih lanjut.[]

----

AFRIADI, M.I.Kom
Dewan Kebijakan Redaksi AKURAT.CO

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
Reporter
Editor Jatim
A