Akurat

Integrasi KBC dan PM di Kelas: 5 Contoh Praktik Pembelajaran yang Relevan, Humanis, dan Bermakna

Idham Nur Indrajaya | 10 Februari 2026, 15:32 WIB
Integrasi KBC dan PM di Kelas: 5 Contoh Praktik Pembelajaran yang Relevan, Humanis, dan Bermakna

AKURAT.CO Bagaimana praktik pembelajaran yang mencerminkan integrasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan Pembelajaran Mendalam (PM)? Di lorong-lorong madrasah, dua istilah mulai sering terdengar dan memancing diskusi hangat di kalangan guru: Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan Pembelajaran Mendalam (PM). Keduanya digadang-gadang sebagai arah baru pendidikan yang lebih manusiawi dan relevan dengan kebutuhan peserta didik.

Namun di balik gagasan ideal tersebut, muncul pertanyaan praktis yang tak jarang membuat pendidik berpikir ulang: bagaimana penerapannya di kelas? Apakah guru harus mengubah total cara mengajar, atau cukup menambahkan simbol-simbol motivasi di ruang belajar?

Dalam berbagai panduan resmi, KBC menekankan internalisasi nilai-nilai cinta melalui pengalaman nyata, sementara PM memandang belajar sebagai proses yang mindful (berkesadaran), meaningful (bermakna), dan joyful (menggembirakan). Jika dirangkum, KBC berfungsi sebagai kompas nilai—menentukan arah karakter murid—sedangkan PM menjadi kerangka proses bagaimana pembelajaran dijalankan agar benar-benar meresap.

Artikel ini membahas secara lengkap bagaimana praktik pembelajaran yang mencerminkan integrasi KBC dan PM dapat diterapkan di ruang kelas, lengkap dengan contoh konkret dan refleksi pedagogis yang relevan dengan tantangan pendidikan masa kini.


Apa Itu Integrasi KBC dan PM dalam Pembelajaran?

Integrasi KBC dan PM bukan sekadar memadukan istilah dalam dokumen kurikulum. Di level praktik, keduanya bertemu dalam aktivitas belajar yang:

  • Mengaitkan materi pelajaran dengan nilai-nilai Panca Cinta, seperti cinta kepada Tuhan, sesama, lingkungan, dan ilmu.

  • Menghadirkan proses belajar yang membuat murid sadar tujuan belajarnya.

  • Memberi pengalaman nyata, bukan hanya hafalan.

  • Menciptakan suasana kelas yang aman, positif, dan menghargai martabat peserta didik.

Dengan kata lain, nilai menjadi ruh pembelajaran, sementara metode menjadi jasad yang menggerakkannya.


Ciri Kelas yang Berhasil Mengintegrasikan KBC dan PM

Sebelum masuk ke contoh praktik, ada beberapa tanda yang biasanya tampak di kelas yang sudah menerapkan pendekatan ini secara konsisten.

Tujuan Belajar yang “Bernyawa”

Materi tidak lagi berdiri sendiri. Pelajaran Fikih tentang wudu, misalnya, tidak hanya membahas sah dan batal, tetapi juga dikaitkan dengan kepedulian terhadap lingkungan melalui penghematan air.

Murid Belajar dengan Kesadaran

Peserta didik memahami alasan mengapa mereka mempelajari suatu topik. Mereka tidak sekadar mengerjakan tugas demi nilai, tetapi menyadari manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.

Kontekstual dan Dekat dengan Realitas

Masalah yang diangkat dalam kelas berasal dari lingkungan sekitar murid, sehingga pembelajaran terasa relevan dan tidak abstrak.

Suasana Aman dan Positif

Kelas menjadi ruang yang mendorong partisipasi, bebas dari perundungan, serta menerapkan disiplin positif yang memuliakan setiap individu.


5 Contoh Praktik Pembelajaran Terintegrasi KBC dan PM

Berikut gambaran konkret bagaimana integrasi KBC dan PM bisa hadir dalam aktivitas harian di madrasah maupun sekolah.

1. Pembiasaan Ibadah dengan Pendekatan Mindful, Meaningful, Joyful

Banyak madrasah membiasakan Salat Dhuha. Dalam pendekatan terintegrasi, guru tidak sekadar mencatat kehadiran.

Sebelum salat, murid diajak menenangkan diri dan menata niat agar lebih berkesadaran. Setelahnya, guru memfasilitasi refleksi singkat tentang rasa syukur atau sikap yang bisa diterapkan kepada teman sekelas. Suasana dibangun tanpa paksaan, sehingga ibadah menjadi pengalaman spiritual yang menyenangkan, bukan rutinitas administratif.

2. Proyek IPA dan Fikih: Wudu Hemat Air

Kolaborasi lintas mata pelajaran menjadi kunci. Guru IPA dan Fikih merancang proyek sederhana: bagaimana melakukan wudu yang sah dengan hanya satu botol air.

Nilai cinta kepada Tuhan dan lingkungan ditanamkan melalui praktik nyata. Murid melakukan eksperimen, merekam prosesnya, lalu membagikan hasilnya kepada teman lain. Proyek ini melatih kesadaran tujuan belajar, memberi makna karena langsung diterapkan, serta memunculkan kegembiraan lewat aktivitas kreatif.

3. Proyek Sosial: Menumbuhkan Cinta Diri dan Sesama

Pembelajaran tidak selalu terjadi di balik meja. Dalam kerangka KBC, murid dapat diajak menjalankan aksi sosial seperti dapur berbagi atau pendampingan baca bagi adik kelas.

Guru membingkai kegiatan ini dengan tujuan pembelajaran yang jelas, misalnya penguatan empati dan tanggung jawab sosial. Penilaian dilakukan melalui observasi proses dan umpan balik berkelanjutan, bukan hanya pada hasil akhir. Murid pun merasakan bahwa ilmu yang dipelajari memiliki dampak nyata bagi orang lain.

4. Inkuiri: Dari Hafalan ke Rasa Ingin Tahu

Alih-alih menyuruh murid menghafal definisi pencemaran lingkungan, guru bisa memulai dengan pertanyaan sederhana: “Kenapa selokan depan sekolah kita bau saat hujan?”

Pertanyaan ini memicu penyelidikan lapangan, diskusi, dan pencarian solusi. Nilai cinta terhadap ilmu dan lingkungan berjalan seiring dengan proses berpikir kritis yang bermakna dan menantang.

5. Budaya Kelas Berbasis Disiplin Positif

Integrasi KBC dan PM sulit tercapai jika kelas dipenuhi ancaman dan hukuman. Guru dapat membangun kesepakatan kelas bersama murid, lalu menyelesaikan pelanggaran melalui pendekatan restitusi—memperbaiki kesalahan—bukan mempermalukan.

Praktik ini mencerminkan prinsip PM yang memuliakan martabat manusia serta nilai KBC tentang mencintai sesama.


Refleksi Guru: Gambaran Jawaban atas Pertanyaan Kunci

Dalam forum refleksi atau asesmen, guru sering diminta menjawab pertanyaan berikut:

Soal
Menurut anda, bagaimana praktik pembelajaran yang mencerminkan integrasi KBC dan PM?

Salah satu referensi jawaban yang dapat dijadikan acuan adalah:

“Menurut saya, praktik pembelajaran yang mencerminkan integrasi KBC dan PM terlihat ketika proses belajar benar-benar berpusat pada capaian kompetensi sekaligus mendorong pemahaman yang mendalam, bukan sekadar mengejar ketuntasan materi.
Dalam kelas, saya memulai dengan merancang tujuan pembelajaran yang jelas berbasis capaian, lalu menerjemahkannya ke dalam aktivitas yang menantang cara berpikir, seperti diskusi terbuka, studi kasus kontekstual, dan proyek berbasis masalah nyata.
Saya memberi ruang bagi peserta didik untuk bertanya, berpendapat, dan merefleksikan proses belajarnya, sehingga pengetahuan tidak berhenti pada hafalan, tetapi menjadi pemahaman yang bermakna.
Penilaian saya lakukan secara berkelanjutan melalui observasi, umpan balik, dan asesmen formatif yang membantu melihat perkembangan kompetensi secara utuh. Dengan cara ini, pembelajaran terasa lebih relevan, mendalam, dan selaras antara target capaian dengan proses belajar yang bermakna.”

Jawaban ini menegaskan bahwa integrasi KBC dan PM tampak pada keseimbangan antara nilai, proses, dan pencapaian kompetensi.


Kesimpulan: Menyatukan Nilai dan Metode dalam Satu Proses

Secara sederhana, praktik pembelajaran yang mencerminkan integrasi Kurikulum Berbasis Cinta dan Pembelajaran Mendalam adalah proses belajar yang:

  • Membingkai materi dengan nilai Panca Cinta.

  • Dilaksanakan melalui pendekatan mindful, meaningful, dan joyful.

  • Menghadirkan pengalaman nyata, refleksi, proyek kolaboratif, serta iklim kelas yang aman.

Dengan pendekatan ini, nilai tidak berhenti sebagai jargon, melainkan tumbuh menjadi karakter dan kebiasaan hidup murid.

Kalau kamu tertarik mengikuti perkembangan kebijakan pendidikan dan praktik pembelajaran terbaru, pantau terus update selanjutnya di AKURAT.CO.

Baca Juga: Experiential Learning, Strategi Pembelajaran Aktif untuk Hasil Belajar Lebih Optimal

FAQ

Apa yang dimaksud dengan integrasi KBC dan PM dalam pembelajaran?

Integrasi KBC dan PM adalah penerapan nilai-nilai Panca Cinta dalam proses belajar yang dijalankan melalui pendekatan mindful, meaningful, dan joyful. KBC berfungsi sebagai arah pembentukan karakter, sedangkan PM menjadi kerangka bagaimana kegiatan belajar berlangsung agar murid benar-benar memahami dan menghayati materi.


Apakah guru harus mengubah total metode mengajar saat menerapkan KBC dan PM?

Tidak selalu. Guru tidak harus mengganti seluruh strategi mengajar, tetapi menyesuaikan pendekatan agar lebih reflektif, kontekstual, dan berorientasi pada pengalaman nyata. Misalnya dengan menambahkan sesi refleksi, proyek berbasis masalah, atau diskusi terbuka yang mengaitkan materi dengan nilai kehidupan.


Bagaimana contoh praktik sederhana integrasi KBC dan PM di kelas?

Beberapa contoh praktik yang relatif mudah diterapkan antara lain:

  • Pembiasaan ibadah yang disertai refleksi makna.

  • Proyek lintas mata pelajaran seperti wudu hemat air.

  • Aksi sosial murid di lingkungan sekolah.

  • Pembelajaran inkuiri berbasis masalah sekitar.

  • Penerapan disiplin positif dalam budaya kelas.


Apa ciri utama kelas yang sudah menerapkan KBC dan PM?

Kelas yang mengintegrasikan KBC dan PM biasanya memiliki tujuan belajar yang jelas dan bermakna, suasana aman serta positif, murid yang memahami alasan belajar, dan materi yang dikaitkan langsung dengan kehidupan sehari-hari.


Bagaimana peran asesmen dalam pembelajaran terintegrasi KBC dan PM?

Asesmen dilakukan secara berkelanjutan melalui observasi, umpan balik, refleksi, dan penilaian formatif. Fokusnya bukan hanya pada nilai akhir, tetapi pada perkembangan kompetensi, sikap, serta pemahaman peserta didik sepanjang proses belajar.


Apakah integrasi KBC dan PM hanya cocok untuk madrasah?

Tidak. Meskipun banyak contoh berasal dari konteks madrasah, prinsip integrasi nilai dan pembelajaran mendalam dapat diterapkan di berbagai jenjang dan satuan pendidikan, termasuk sekolah umum, selama disesuaikan dengan karakter peserta didik dan mata pelajaran.


Mengapa pendekatan KBC dan PM dianggap relevan untuk pendidikan saat ini?

Karena pendekatan ini mendorong pembelajaran yang lebih manusiawi, menumbuhkan empati, berpikir kritis, serta keterkaitan antara ilmu dan kehidupan nyata. Hal tersebut sejalan dengan kebutuhan pembelajaran abad ke-21 yang menuntut keterlibatan aktif dan refleksi mendalam.


Bagaimana guru bisa mulai menerapkan integrasi KBC dan PM tanpa merasa terbebani?

Guru dapat memulainya dari langkah kecil, seperti:

  • Menambahkan tujuan nilai pada RPP atau modul ajar.

  • Mengajak murid melakukan refleksi singkat di akhir pelajaran.

  • Mengaitkan topik dengan isu sekitar.

  • Membangun kesepakatan kelas bersama.

Langkah-langkah ini dapat berkembang seiring pengalaman dan kebutuhan di lapangan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.