Akurat

Pemulihan Sosial di Masa Transisi Darurat: Pembelajaran dari Bener Meriah

Eko Krisyanto | 9 Januari 2026, 23:32 WIB
Pemulihan Sosial di Masa Transisi Darurat: Pembelajaran dari Bener Meriah

AKURAT.CO - Masa transisi darurat menjadi fase krusial dalam penanganan bencana, karena menentukan keberhasilan pemulihan jangka panjang masyarakat terdampak. 

Tidak hanya soal perbaikan fisik dan infrastruktur, fase ini juga menuntut perhatian serius terhadap pemulihan sosial. 

Pengalaman Kabupaten Bener Meriah menunjukkan bahwa pemulihan sosial merupakan fondasi penting untuk mengembalikan fungsi kehidupan masyarakat secara utuh setelah melewati masa krisis.

Baca Juga: Sambangi Pengungsi di Kabupaten Bener Meriah, Presiden Prabowo: Jangan Khawatir, Bapak Ibu Tidak Sendirian

Pemulihan sosial adalah upaya memulihkan kembali hubungan sosial, rasa aman, aktivitas komunitas, serta kondisi psikologis masyarakat setelah bencana. Pada masa transisi darurat—fase antara tanggap darurat dan rehabilitasi—masyarakat umumnya masih berada dalam situasi rentan, baik secara emosional maupun sosial.

Seperti dilansir Surat Indonesia, pemulihan sosial di Bener Meriah menjadi agenda penting untuk memastikan warga dapat kembali menjalani kehidupan sehari-hari, membangun kepercayaan diri, serta memperkuat solidaritas sosial yang sempat terganggu akibat bencana.

Salah satu pembelajaran utama dari Bener Meriah adalah peran komunitas lokal dalam pemulihan sosial. Tokoh masyarakat, perangkat desa, serta lembaga adat memiliki posisi strategis sebagai penghubung antara pemerintah dan warga. Melalui musyawarah, gotong royong, dan aktivitas sosial bersama, masyarakat perlahan kembali membangun rasa kebersamaan.

Pendekatan berbasis komunitas ini terbukti efektif karena mampu menjangkau kebutuhan warga secara langsung, sekaligus memperkuat rasa memiliki terhadap proses pemulihan itu sendiri.

Dukungan Psikososial sebagai Kebutuhan Mendesak

Selain pemulihan hubungan sosial, aspek psikososial menjadi bagian tak terpisahkan dalam masa Transisi Darurat Bener Meriah. Warga yang terdampak bencana kerap mengalami trauma, kecemasan, hingga kehilangan rasa aman. 

Di Bener Meriah, pendampingan psikososial melalui kegiatan edukatif, ruang bermain anak, serta pendampingan keluarga menjadi langkah penting untuk memulihkan kondisi mental masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Bener Meriah sebelumnya memperpanjang masa tanggap darurat beberapa kali untuk memastikan penanganan berjalan maksimal. 

Perpanjangan terakhir berlangsung dari 31 Desember 2025 hingga 6 Januari 2026, sehingga pemerintah segera menetapkan status transisi darurat. 

Pemerintah menggunakan status ini untuk menjembatani penanganan darurat menuju pemulihan secara bertahap dan terarah.

Selama masa status transisi darurat, Pemerintah Kabupaten Bener Meriah mengaktifkan posko sistem komando penanganan bencana di berbagai titik lokasi. 

Pemerintah juga melakukan kaji cepat perkembangan situasi serta memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terdampak dan pengungsi. Langkah ini memperlihatkan komitmen pemerintah dalam menjaga kondisi masyarakat tetap stabil dan aman.

“Status transisi darurat ke pemulihan bertujuan menjembatani penanganan darurat menuju pemulihan, khususnya memperbaiki kondisi sosial, ekonomi, dan infrastruktur masyarakat terdampak,” ujar Kadis Kominfo Bener Meriah, Ilham Abdi.

Pendekatan ini menegaskan bahwa pemulihan tidak cukup hanya dengan membangun kembali rumah dan fasilitas umum, tetapi juga harus menyentuh kondisi batin warga.

Perlindungan Kelompok Rentan

Pembelajaran lain yang relevan adalah pentingnya perlindungan bagi kelompok rentan, seperti anak-anak, perempuan, lansia, dan penyandang disabilitas. Pada masa transisi darurat, kelompok ini membutuhkan perhatian khusus agar tidak tertinggal dalam proses pemulihan.

Pengalaman Bener Meriah menunjukkan bahwa program pemulihan sosial yang inklusif mampu menciptakan rasa keadilan sosial serta mempercepat pemulihan masyarakat secara keseluruhan.

Sinergi Pemerintah dan Relawan

Pemulihan sosial yang efektif tidak terlepas dari sinergi antara pemerintah, relawan, dan organisasi kemanusiaan. Pemerintah berperan dalam kebijakan dan penyediaan sumber daya, sementara relawan dan organisasi sosial hadir langsung di tengah masyarakat untuk memberikan pendampingan.

Kolaborasi ini menjadi kunci agar program pemulihan sosial berjalan berkelanjutan dan tepat sasaran, sekaligus membangun kepercayaan publik terhadap proses penanganan pascabencana.

Pemulihan sosial di masa transisi darurat merupakan elemen fundamental dalam penanganan bencana. Pembelajaran dari Bener Meriah menunjukkan bahwa keberhasilan pemulihan tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari pulihnya kehidupan sosial, mental, dan solidaritas masyarakat. 

Dengan pendekatan berbasis komunitas, dukungan psikososial, perlindungan kelompok rentan, serta sinergi lintas pihak, masa transisi darurat dapat menjadi jembatan kuat menuju pemulihan yang berkelanjutan dan tangguh bencana. []

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
A