Akurat

Apa Itu Literasi? Ini Pengertian dan Jenis-jenisnya!

Idham Nur Indrajaya | 16 Februari 2026, 15:21 WIB
Apa Itu Literasi? Ini Pengertian dan Jenis-jenisnya!

AKURAT.CO Kita hidup di zaman di mana hampir semua orang memegang smartphone. Setiap hari kita membaca chat, headline, thread panjang, dan caption viral. Namun menurut data global dari UNESCO, masih ada sekitar 739 juta orang dewasa di dunia yang belum memiliki kemampuan literasi dasar. Bahkan lebih banyak lagi yang bisa membaca, tetapi kesulitan memahami informasi kompleks.

Jadi masalahnya bukan lagi sekadar bisa membaca atau tidak.
Masalahnya: apakah kita benar-benar memahami apa yang kita baca?

Di tengah banjir informasi, hoaks, investasi bodong, dan manipulasi opini publik, memahami apa itu literasi menjadi jauh lebih penting daripada sekadar mengeja huruf. Literasi hari ini adalah soal bertahan—dan bersaing.


Apa Itu Literasi?

Literasi adalah kemampuan membaca, menulis, memahami, dan menggunakan informasi secara efektif dalam berbagai konteks kehidupan.

Menurut UNESCO Institute for Statistics, literasi mencakup kemampuan untuk:

  • Mengenali dan memahami teks

  • Menginterpretasikan informasi

  • Berkomunikasi secara tertulis

  • Menggunakan angka (numerasi)

  • Menerapkan pemahaman dalam kehidupan nyata

Artinya, literasi bukan hanya soal bisa membaca, tetapi juga berpikir kritis dan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang dipahami.


Evolusi Literasi: Dari Baca-Tulis ke Literasi Digital

Dulu, literasi hanya berarti mampu membaca dan menulis.

Kini konsepnya berkembang.

1. Literasi Tradisional

Fokus pada:

  • Membaca teks

  • Menulis sederhana

  • Berhitung dasar

2. Literasi Modern

Meluas ke:

  • Literasi numerik

  • Kemampuan komunikasi

  • Pemahaman konteks sosial

3. Literasi Lanjutan

Muncul bentuk baru seperti:

  • Literasi digital

  • Literasi media

  • Literasi data

Perubahan ini terjadi karena dunia kerja dan ekonomi modern menuntut keterampilan analisis, bukan sekadar hafalan.


Sejarah dan Peran Global Literasi

Sejak 1946, UNESCO mendorong literasi sebagai hak dasar manusia. Setiap 8 September diperingati sebagai Hari Literasi Sedunia untuk menegaskan pentingnya akses pendidikan dan kemampuan membaca di seluruh dunia.

Lebih dari 87% populasi dunia usia 15 tahun ke atas sudah bisa membaca dan menulis. Namun angka itu menyisakan jutaan orang yang tertinggal—dan mayoritas adalah perempuan.

Artinya, literasi bukan hanya isu pendidikan, tetapi juga isu kesetaraan.


Mengapa Literasi Penting di Era Informasi?

Literasi berdampak langsung pada:

Ekonomi

  • Meningkatkan peluang kerja

  • Mendorong produktivitas

  • Berpotensi menaikkan pendapatan

Kesehatan

  • Memahami informasi medis

  • Mengurangi risiko kesalahan pengobatan

  • Meningkatkan kualitas hidup keluarga

Partisipasi Sosial

  • Keterlibatan dalam demokrasi

  • Ketahanan terhadap hoaks

  • Kemampuan menilai informasi politik

Di era digital, kemampuan menyaring informasi sama pentingnya dengan kemampuan membacanya.


Literasi dan Ketimpangan Sosial-Ekonomi

Literasi bukan sekadar kemampuan akademik. Ia adalah penentu mobilitas sosial.

Negara dengan tingkat literasi tinggi cenderung memiliki produktivitas lebih baik dan daya saing ekonomi yang lebih kuat. Sebaliknya, rendahnya literasi menciptakan lingkaran setan:

Pendidikan lemah → keterampilan rendah → upah stagnan → akses pendidikan berikutnya makin terbatas.

Di level individu, literasi menentukan:

  • Apakah seseorang memahami kontrak kerja sebelum tanda tangan

  • Apakah ia bisa membaca skema bunga pinjaman

  • Apakah ia mampu membedakan peluang investasi dan penipuan

Ketika literasi rendah, risiko eksploitasi meningkat.

Paradoks abad ke-21 terlihat jelas: akses internet makin luas, tetapi kualitas pemahaman belum tentu meningkat. Mereka yang memiliki literasi digital dan literasi data bisa mengakses peluang global. Mereka yang tidak, terjebak dalam informasi dangkal.

Literasi dasar adalah pintu masuk. Literasi digital adalah tiket naik kelas.


Tantangan Literasi Abad ke-21

Meski angka melek huruf meningkat, tantangan baru muncul:

  • Learning poverty (anak sekolah belum memahami bacaan sederhana)

  • Kesenjangan gender

  • Ketimpangan akses pendidikan berkualitas

  • Rendahnya literasi digital

Bisa membaca bukan berarti mampu menganalisis, dan di dunia yang penuh manipulasi informasi, itu adalah kelemahan serius.


Contoh Nyata: Perbedaan Literasi dalam Keputusan

Bayangkan dua orang menerima pesan investasi dengan janji keuntungan besar.

Orang pertama langsung percaya.

Orang kedua:

  • Mengecek sumber

  • Membaca ulasan

  • Memahami risiko

  • Menganalisis logika penawaran

Perbedaannya bukan kecerdasan.
Perbedaannya adalah literasi informasi.

Keputusan finansial seperti itu bisa menentukan masa depan ekonomi seseorang.


Implikasi untuk Generasi Milenial & Gen Z

Bagi usia 12–40 tahun, literasi menentukan:

  • Daya saing di dunia kerja

  • Kemampuan adaptasi teknologi

  • Peluang karier global

  • Ketahanan terhadap manipulasi digital

Tanpa literasi yang kuat, seseorang bisa aktif di media sosial tetapi pasif dalam berpikir kritis.


Baca Juga: Gandeng OJK, KrediOne Tingkatkan Literasi Keuangan Digital

Baca Juga: Setlary Indonesia dan Indonesia Futura Teknologi Group Kerja Sama Tingkatkan Literasi dan Pengelolaan Keuangan Karyawan

FAQ

Apa itu literasi secara sederhana?

Literasi adalah kemampuan membaca, menulis, memahami, dan menggunakan informasi secara efektif. Bukan sekadar mengenali huruf, tetapi mampu menginterpretasikan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.


Apa saja jenis-jenis literasi?

Jenis literasi meliputi literasi dasar, numerasi, literasi digital, literasi media, dan literasi data. Di era informasi, literasi digital menjadi sangat penting.


Mengapa literasi digital penting?

Karena sebagian besar informasi berada di internet. Tanpa literasi digital, seseorang lebih rentan terhadap hoaks, penipuan online, dan manipulasi opini.


Apa dampak rendahnya literasi?

Dampaknya bisa berupa keterbatasan kerja, rendahnya pendapatan, hingga kerentanan terhadap eksploitasi ekonomi dan informasi.


Apa itu learning poverty?

Learning poverty adalah kondisi ketika anak sekolah belum mampu membaca dan memahami teks sederhana sesuai usianya, meski sudah mengenyam pendidikan formal.


Penutup: Literasi adalah Daya Tahan Masa Depan

Literasi bukan sekadar nilai rapor. Ia adalah alat bertahan hidup di dunia yang penuh algoritma, persuasi, dan informasi instan.

Di masa depan, mungkin bukan yang paling cepat yang unggul, melainkan yang paling mampu memahami informasi dengan jernih.

Maka sebelum bertanya apakah kita sudah sukses secara finansial, ada pertanyaan yang lebih mendasar:

Seberapa literat kita dalam mengambil keputusan penting dalam hidup?

Karena di era informasi, ketertinggalan sering kali bukan karena kurang akses—melainkan kurang pemahaman.

Dan perbedaan kecil dalam pemahaman hari ini, bisa menjadi jurang besar dalam kesempatan esok hari.

 

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.