Akurat

Penyebab, Dampak, hingga Tantangan Masa Depan dari Perubahan Iklim dan Cuaca Ekstrem

Wahyu SK | 1 Februari 2026, 10:10 WIB
Penyebab, Dampak, hingga Tantangan Masa Depan dari Perubahan Iklim dan Cuaca Ekstrem

AKURAT.CO Perubahan iklim telah menjadi kenyataan yang memengaruhi kehidupan jutaan orang di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Dampak perubahan iklim terlihat melalui peningkatan frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem seperti gelombang panas, banjir bandang, topan tropis, hingga kekeringan berkepanjangan.

Fenomena ini menimbulkan tantangan besar bagi lingkungan, ekonomi, dan masyarakat modern.

Perubahan iklim merupakan perubahan jangka panjang dalam pola suhu, hujan angin, dan fenomena cuaca lainnya yang berlangsung selama puluhan hingga ratusan tahun.

Meskipun proses ini terjadi secara alami, aktivitas manusia sejak Revolusi Industri menjadi penyebab utama percepatannya, terutama melalui pembakaran bahan bakar fosil yang menghasilkan gas rumah kaca seperti karbon dioksida dan metana.

Akibatnya, suhu rata-rata global meningkat yang berdampak pada naiknya permukaan laut, perubahan pola hujan, hingga meningkatnya intensitas kejadian cuaca ekstrem.

Cuaca Ekstrem yang Dipicu Perubahan Iklim

Cuaca ekstem merupakan kondisi meteorologi yang berada jauh di luar normal iklim suatu wilayah.

Berikut beberapa bentuk cuaca ekstrem yang sering terjadi:

Gelombang Panas

Suhu udara naik drastis selama beberapa hari hingga minggu yang menyebabkan risiko kesehatan seperti heatstroke serta meningkatkan potensi kebakaran hutan dan kekeringan.

Banjir Bandang

Curah hujan yang sangat tinggi dalam waktu singkat dapat menyebabkan sungai meluap, tanah longsor, dan kerusakan infrastruktur.

Topan dan Badai Tropis

Wilayah pesisir bisa dilanda angin kencang, gelombang tinggi, dan banjir. Intensitas badai semakin tinggi karena suhu permukaan laut yang meningkat.

Kekeringan Ekstrem

Minimnya hujan selama berbulan-bulan menyebabkan kekurangan air minum dan gagal panen, yang berimbas pada krisis pangan.

Dampak Cuaca Ekstrem di Indonesia

Indonesia mengalami berbagai fenomena cuaca ekstrem yang menunjukkan hubungan erat dengan perubahan iklim.

BMKG mencatat ribuan kejadian cuaca ekstrem, termasuk puting beliung, angin kencang, dan hujan lebat yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Beberapa dampak nyata di Indonesia, yaitu:

Banjir dan tanah longsor di berbagai provinsi saat musim hujan yang sering kali menimbulkan korban jiwa dan kerusakan fasilitas umum.

Perubahan pola musim yang membuat kemarau atau musim hujan tidak bisa diprediksi.

Risiko kesehatan masyarakat meningkat akibat gelombang panas atau banjir.

Tantangan yang Akan Terjadi

Infrastruktur Tidak Siap

Sebagian besar kota, terutama daerah perkotaan padat, belum memiliki sistem drainase dan mitigasi bencana yang cukup untuk menangani cuaca ekstrem berkepanjangan.

Kerentanan Ekonomi dan Masyarakat

Kelompok masyarakat rentan seperti urban poor atau komunitas pesisir paling merasakan dampaknya karena keterbatasan sumber daya dan kemampuan adaptasi.

Perubahan Pola Cuaca Global

Scientific forecasts memperingatkan bahwa tanpa pengurangan emisi gas rumah kaca, fenomena cuaca ekstrem akan terus meningkat dalam frekuensi dan intensitas di seluruh dunia.

Solusi dan Upaya Adaptasi

Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca

Beralih ke energi bersih seperti tenaga surya dan angin.

Peringatan Dini dan Kesiapsiagaan Masyarakat

Sistem peringatan dini bencana sangat penting untuk menyelamatkan nyawa.
Pengelolaan Sumber Daya Secara Berkelanjutan

Manajemen air, pangan, dan energi yang bijak dapat meningkatkan ketahanan masyarakat.

Perubahan iklim dan cuaca ekstrem bukan ancaman masa depan karena itu sudah terjadi saat ini. Dampaknya terlihat dari berbagai fenomena alam yang sering merugikan baik lingkungan maupun kehidupan manusia. Kesadaran, aksi kolektif, dan adaptasi strategi sebagai kunci untuk menghadapi tantangan iklim global ini.

Dengan langkah nyata dari semua orang, kita dapat memperkecil risiko perubahan iklim dan menciptakan masa depan yang lebih aman dan berkelanjutan.

Laporan: Marina Yeremin Sindika Sari/magang

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
W
Editor
Wahyu SK