Akurat

Konflik Etnis dan Perang Saudara Terbesar dalam Sejarah Dunia

Eko Krisyanto | 28 Desember 2025, 16:42 WIB
Konflik Etnis dan Perang Saudara Terbesar dalam Sejarah Dunia

AKURAT.CO Konflik etnis menjadi salah satu bab paling kelam dalam sejarah umat manusia.

Di berbagai belahan dunia, perbedaan identitas kerap berubah menjadi sumber pertikaian bersenjata yang berkepanjangan. Konflik semacam ini tidak hanya menelan korban jiwa dalam jumlah besar, tetapi juga meninggalkan trauma kolektif, menghancurkan tatanan sosial, serta membentuk ulang peta politik suatu kawasan hingga puluhan tahun kemudian.

Sejarah mencatat, konflik etnis jarang lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh dari akumulasi ketidakadilan, perebutan kekuasaan, diskriminasi sistematis, dan kegagalan negara mengelola keberagaman.

Ketika ketegangan itu meledak, masyarakat sipil hampir selalu menjadi pihak yang paling menderita.

Baca Juga: Tanggapi Konflik Wamena, Wakil Gubernur Sumbar: Ini Bukan Konflik Etnis

Apa yang Dimaksud Konflik Etnis?

Konflik etnis adalah pertikaian yang melibatkan kelompok-kelompok masyarakat berdasarkan identitas etnis atau agama yang berbeda. Konflik ini bisa terjadi dalam satu negara maupun lintas batas, dan sering kali beririsan dengan kepentingan politik, ekonomi, serta intervensi kekuatan asing.

Dalam banyak kasus, konflik etnis berubah menjadi perang saudara, genosida, atau pembersihan etnis, dengan dampak kemanusiaan yang luas dan berkepanjangan.

Konflik Etnis Terbesar yang Mengubah Sejarah Dunia

1. Perang Saudara Tiongkok (Perebutan Identitas dan Ideologi)

Perang Saudara Tiongkok pada pertengahan abad ke-20 bukan sekadar konflik politik antara dua kekuatan bersenjata, melainkan juga benturan identitas dan visi tentang masa depan bangsa.

Ketegangan antara kelompok nasionalis dan komunis memecah masyarakat Tiongkok selama bertahun-tahun. Konflik ini menelan jutaan korban, menyebabkan perpindahan penduduk besar-besaran, serta memaksa sebagian warga mengungsi ke wilayah lain seperti Taiwan.

Dampaknya terasa hingga kini, terutama dalam hubungan lintas Selat Taiwan dan posisi Tiongkok di panggung global.

2. Perang Saudara Amerika (Konflik Ras dan Warisan Perbudakan)

Perang Saudara Amerika pada abad ke-19 sering dipahami sebagai konflik politik, tetapi di dalamnya terkandung persoalan etnis dan ras yang sangat mendalam.

Perbudakan dan ketimpangan hak antara warga kulit putih dan kulit hitam menjadi api utama konflik. Perang ini mengakhiri perbudakan secara hukum, namun meninggalkan luka sosial yang panjang.

Ketegangan rasial di Amerika Serikat tidak berakhir bersama meriam dan senapan, melainkan bertransformasi dalam bentuk diskriminasi struktural yang dampaknya masih terasa hingga hari ini.

3. Perang Saudara Rusia (Identitas, Ideologi, dan Perpecahan Nasional)

Setelah runtuhnya kekaisaran Rusia, negara itu terjerumus ke dalam konflik berdarah yang melibatkan berbagai kelompok etnis dan ideologi.

Perang Saudara Rusia mempertemukan kaum revolusioner, loyalis kekaisaran, kelompok nasionalis, hingga intervensi asing. Konflik ini bukan hanya menentukan lahirnya Uni Soviet, tetapi juga mengubah wajah Eropa Timur dan Asia Tengah.

Banyak wilayah mengalami kekerasan etnis, kelaparan massal, serta represi politik yang berlangsung lama setelah perang usai.

4. Konflik Sudan (Agama, Etnis, dan Perebutan Sumber Daya)

Perang panjang di Sudan mencerminkan kompleksitas konflik etnis modern.

Ketegangan antara wilayah utara dan selatan tidak hanya dipicu oleh perbedaan agama, tetapi juga ketimpangan pembangunan dan penguasaan sumber daya alam. Konflik ini menewaskan jutaan orang dan memaksa jutaan lainnya mengungsi.

Akhir dari perang tersebut melahirkan negara baru, Sudan Selatan, namun tidak serta-merta mengakhiri kekerasan.

Fragmentasi etnis justru terus memicu konflik lanjutan di kawasan tersebut.

5. Genosida Rwanda

Pada 1994, dunia dikejutkan oleh genosida di Rwanda yang berlangsung hanya dalam hitungan bulan, namun menewaskan ratusan ribu jiwa.

Konflik antara kelompok Hutu dan Tutsi menunjukkan bagaimana propaganda kebencian dan kegagalan negara dapat mendorong kekerasan ekstrem.

Genosida Rwanda menjadi pengingat pahit bahwa konflik etnis dapat berubah menjadi pembantaian massal dalam waktu singkat, terutama ketika institusi negara runtuh dan masyarakat terpolarisasi secara tajam.

Baca Juga: Rwanda Kembali Buka Perbatasan dengan Kongo di Tengah Krisis Ebola

Mengapa Konflik Etnis Sulit Diselesaikan?

Konflik etnis kerap berakar pada identitas yang melekat kuat pada individu dan kelompok.

Tidak seperti konflik ekonomi atau politik yang bisa dinegosiasikan, identitas sering kali dianggap tidak bisa dikompromikan.

Trauma masa lalu, ingatan kolektif tentang kekerasan, serta rasa ketidakadilan yang diwariskan lintas generasi membuat konflik semacam ini sulit dipadamkan.

Selain itu, campur tangan aktor eksternal sering memperpanjang konflik dengan dukungan senjata, dana, atau kepentingan geopolitik.

Dalam hampir semua konflik etnis, warga sipil menjadi korban utama. Perempuan, anak-anak, dan kelompok rentan lainnya menghadapi kehilangan tempat tinggal, akses pendidikan, layanan kesehatan, dan rasa aman.

Krisis kemanusiaan yang muncul sering kali berlangsung jauh lebih lama dibanding konflik bersenjatanya sendiri.

Bagaimana Dunia Belajar dari Konflik Etnis?

Sejarah konflik etnis terbesar di dunia menunjukkan satu pelajaran penting bahwa keberagaman tanpa keadilan adalah bom waktu.

Negara yang gagal mengelola pluralitas secara inklusif berisiko terjerumus ke dalam konflik berkepanjangan.

Upaya rekonsiliasi, keadilan transisional, dan pembangunan yang merata menjadi kunci untuk mencegah konflik serupa terulang.

Meski tidak ada solusi instan, pengalaman pahit dari berbagai negara menjadi pengingat bahwa perdamaian harus dirawat sejak dini.

Mutiara MY (Magang)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
R