Sejarah Genosida Dunia yang Jarang Dibahas: Luka Kemanusiaan yang Terpinggirkan

AKURAT.CO Dalam narasi sejarah global, istilah genosida sering kali langsung dikaitkan dengan Holocaust atau Genosida Rwanda.
Padahal, sejarah dunia menyimpan banyak tragedi kemanusiaan lain yang skalanya besar, dampaknya mendalam, namun kurang mendapat perhatian luas.
Genosida-genosida ini kerap terpinggirkan karena faktor politik, minimnya dokumentasi, atau karena terjadi di wilayah yang tidak menjadi pusat perhatian media internasional pada masanya.
Akibatnya, penderitaan jutaan korban seolah tenggelam dalam ingatan kolektif dunia.
Baca Juga: Meski Gaza Tenang, Afrika Selatan Ingatkan Lagi Israel Tetap Harus Diadili karena Kejahatan Genosida
Genosida Herero dan Namaqua (1904–1908)
Salah satu genosida paling awal di abad ke-20 adalah Genosida Herero dan Namaqua, yang terjadi di Afrika Barat Daya Jerman (sekarang Namibia).
Pada periode ini, Kekaisaran Jerman melancarkan operasi militer brutal terhadap suku Herero dan Namaqua yang melakukan perlawanan terhadap kolonialisme.
Ribuan orang dibunuh secara langsung, sementara puluhan ribu lainnya tewas akibat kelaparan, penyakit, dan kondisi tidak manusiawi di kamp konsentrasi.
Kebijakan pengusiran ke wilayah gurun serta perintah pemusnahan yang dikeluarkan pejabat militer Jerman menjadikan peristiwa ini diakui banyak sejarawan sebagai genosida pertama abad ke-20, meski pengakuan internasionalnya datang sangat terlambat.
Genosida Sirkasia (1864)
Genosida Sirkasia terjadi setelah berakhirnya Perang Kaukasus antara Kekaisaran Rusia dan penduduk asli Kaukasus Utara.
Dalam proses penaklukan tersebut, pasukan Rusia melakukan pembantaian dan pengusiran massal terhadap etnis Sirkasia dari tanah leluhur mereka.
Ratusan ribu hingga jutaan orang dipaksa melakukan migrasi besar-besaran ke wilayah Kekaisaran Ottoman.
Banyak yang meninggal dalam perjalanan akibat kelaparan, penyakit, dan kelelahan ekstrem. Hingga kini, tragedi ini masih jarang diakui secara resmi sebagai genosida di tingkat global, meskipun dampaknya menghancurkan struktur sosial dan budaya masyarakat Sirkasia.
Holodomor di Ukraina (1932–1933)
Holodomor merupakan kelaparan besar yang melanda Ukraina pada awal 1930-an di bawah pemerintahan Uni Soviet.
Kelaparan ini tidak terjadi secara alami, melainkan dipicu oleh kebijakan kolektivisasi pertanian dan perampasan hasil panen oleh rezim Stalin.
Sekitar empat juta warga Ukraina meninggal dunia akibat kelaparan. Banyak negara dan sejarawan menilai Holodomor sebagai genosida yang disengaja untuk menghancurkan perlawanan nasionalisme Ukraina.
Meskipun status hukumnya masih diperdebatkan secara politis hingga kini. Minimnya pemberitaan internasional pada masa itu membuat tragedi ini lama tersembunyi dari kesadaran dunia.
Genosida Timor Timur (1975–1999)
Selama pendudukan Indonesia di Timor Timur, kekerasan berskala besar terjadi dalam bentuk operasi militer, kelaparan sistematis, dan pelanggaran HAM.
Diperkirakan sekitar sepertiga populasi Timor Timur meninggal akibat konflik tersebut.
Konteks Perang Dingin dan kepentingan geopolitik membuat tragedi ini tidak banyak disorot media internasional pada awalnya.
Baru setelah tekanan global dan referendum 1999, perhatian dunia mulai tertuju pada penderitaan panjang masyarakat Timor Timur.
Baca Juga: Paus Desak Gencatan Senjata Gaza, PBB Tuding Israel Lakukan Genosida
Mengapa Genosida-genosida Ini Jarang Dibahas?
Ada beberapa faktor utama yang membuat peristiwa genosida tertentu kurang dikenal secara luas:
- Kepentingan politik global, yang menutup atau meredam narasi tertentu.
- Minimnya dokumentasi dan akses media, terutama pada era kolonial atau rezim otoriter.
- Dominasi narasi sejarah Barat, yang sering memusatkan perhatian pada tragedi di Eropa atau wilayah strategis tertentu.
Akibatnya, banyak tragedi kemanusiaan tidak mendapat tempat yang layak dalam buku sejarah maupun diskursus publik.
Genosida-genosida yang jarang dibahas ini menunjukkan bahwa kekerasan sistematis terhadap kelompok tertentu telah terjadi berulang kali di berbagai belahan dunia.
Mengingat dan membahasnya bukan sekadar soal masa lalu, tetapi juga upaya membangun kesadaran kritis agar tragedi serupa tidak terulang.
Sejarah yang lengkap adalah sejarah yang berani mengakui semua luka, termasuk yang selama ini terpinggirkan.
Amalia Febriyani (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









