Akurat

Sejarah Pemetaan Dunia: Asal Usul Peta dari Peradaban Kuno hingga Era Digital

Eko Krisyanto | 24 Desember 2025, 11:09 WIB
Sejarah Pemetaan Dunia: Asal Usul Peta dari Peradaban Kuno hingga Era Digital

AKURAT.CO Pemetaan merupakan seni dan ilmu menggambarkan permukaan bumi ke dalam bentuk yang lebih sederhana agar mudah dipahami dan digunakan manusia.

Mulai dari sketsa batu purba hingga peta digital berbasis satelit, perjalanan sejarah pemetaan menunjukkan bagaimana manusia memahami ruang dan lokasi sepanjang masa.

Secara umum, peta merupakan gambaran permukaan bumi yang diperkecil dalam bidang datar dengan simbol-simbol tertentu untuk menunjukkan bentuk muka bumi seperti daratan, lautan, sungai, dan pegunungan.

Simbol ini dirancang agar pembaca dapat memahami informasi geografis dengan cepat. Dengan adanya skala, peta juga bisa menunjukkan jarak antarlokasi dengan akurat.

Peta berperan penting dalam navigasi, perencanaan wilayah, perdagangan, hingga penentuan batas politik suatu daerah.

Seiring perkembangan ilmu, peta semakin canggih dan fungsinya pun semakin luas, terutama dengan adanya sistem informasi geografis masa kini.

Baca Juga: Peta Topografi dan Fungsinya: Pengertian, Manfaat Serta Cara Bacanya

Jejak Peta Tertua di Dunia

1. Sketsa Prasejarah

Menurut penelitian arkeologis, manusia sudah membuat bentuk peta sangat awal, yaitu sekitar 30.000 SM, berupa goresan dan simbol pada batu. Meskipun bentuknya masih sederhana dan tidak jelas, sketsa tersebut menunjukkan adanya kesadaran manusia untuk merekam lingkungan mereka.

2. Peta Babilonia - Clay Tablet

Map tertua yang masih bertahan hingga kini berasal dari Babilonia, berupa clay tablet yang dikenal sebagai Babylonian Map of the World yang dibuat antara abad ke-8 hingga ke-6 SM.

Peta ini menggambarkan Mesopotamia dan wilayah sekitarnya, dengan Babilonia berada di tengah dunia lalu dikelilingi oleh "Sungai Asin" sebagai batas kosmologisnya.

3. Peta Dunia Klasik oleh Anaximander

Anaximander, seorang filsuf Yunani kuno, membuat salah satu peta dunia yang pertama dengan pembagian daratan utama seperti yang dikenal oleh bangsa Yunani pada masa itu.

Meskipun versi asli tidak ada yang tersisa, catatan sejarah klasik menunjukkan bahwa karyanya menjadi inspirasi bagi perkembangan pemetaan di dunia Barat.

Pemetaan Maju: Yunani dan Romawi

Perkembangan teknik pemetaan semakin matang saat tangan-tangan ahli Yunani seperti Eratosthenes dan Ptolemy mulai memperkenalkan konsep bujur dan garis lintang untuk menentukan posisi.

Ptolemy, khususnya, menuliskan sistem koordinat dasar yang menjadi rujukan pemetaan dunia selama hampir dua milenium.

Baca Juga: Contoh Peta Konsep Sederhana: Pengertian, Tujuan, Manfaat dan Cara Membuatnya

Era Renaisans dan Penemuan Dunia Baru

1. Atlas dan Proyeksi Modern

Istilah atlas pertama kali diperkenalkan oleh Gerardus Mercator, dan karya-karya kartografer renaisans seperti Abraham Ortelius menjadi tonggak penting dalam sejarah peta modern.

2. Peta Dunia yang Lebih Akurat

Setelah era penjelajahan global oleh para navigator Eropa, peta dunia semakin akurat. Misalnya, peta karya Juan de la Cosa sekitar tahun 1500 merupakan salah satu yang pertama menggambarkan Dunia Lama dan Dunia Baru secara bersamaan.

Pemetaan Masa Kini

Dengan hadirnya teknologi seperti satelit, GPS, dan GIS, pemetaan telah berevolusi dari sekadar gambar di atas kertas menjadi sistem digital yang dapat menunjukkan data spasial secara realtime.

Peta digital kini digunakan dalam banyak bidang, mulai dari navigasi kendaraan hingga pemantauan perubahan iklim.

Perjalanan sejarah pemetaan menunjukkan lintasan panjang dari bentuk primitif hingga teknologi modern.

Peran peta dalam kehidupan manusia tidak hanya sebagai alat bantu navigasi, tetapi juga sebagai rekaman sejarah, budaya, hingga ekspansi ilmu pengetahuan.

Berkat kontribusi berbagai peradaban, mulai dari Mesir dan Babilonia hingga Yunani, dan inovasi modern, dunia menjadi lebih terpetakan, terukur, dan mudah dipahami oleh generasi masa kini.

Laporan: Marina Yeremin Sindika Sari/magang

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
W
Editor
Wahyu SK