Akurat

Sejarah Adolf Hitler dan Kebangkitan Nazi Jerman

Ratu Tiara | 23 Desember 2025, 19:31 WIB
Sejarah Adolf Hitler dan Kebangkitan Nazi Jerman

AKURAT.CO Adolf Hitler dan Partai Nazi merupakan salah satu fenomena paling berpengaruh dan kontroversial dalam sejarah dunia abad ke-20.

Dalam waktu relatif singkat, Nazi Jerman berhasil bangkit dari kekalahan Perang Dunia I menjadi kekuatan politik dan militer yang dominan di Eropa. Kebangkitan ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang yang dipengaruhi krisis ekonomi, ketidakstabilan politik, dan propaganda ideologis.

Artikel ini membahas sejarah Adolf Hitler, latar belakang munculnya Partai Nazi, serta faktor-faktor yang mendorong kebangkitan Nazi Jerman.

 Baca Juga: Geger Menlu Rusia Sebut Adolf Hitler Berdarah Yahudi, Putin Minta Maaf pada PM Israel

Latar Belakang Jerman Pasca Perang Dunia I

Setelah kekalahan dalam Perang Dunia I, Jerman berada dalam kondisi krisis. Perjanjian Versailles (1919) memaksa Jerman menerima kerugian besar, termasuk kehilangan wilayah, pembatasan militer, dan kewajiban membayar reparasi perang.

Kondisi ini memicu:

  • Krisis ekonomi dan inflasi ekstrem
  • Pengangguran massal
  • Ketidakpuasan rakyat terhadap pemerintah Republik Weimar

Situasi tersebut menciptakan ruang bagi munculnya gerakan politik radikal, termasuk Partai Nazi.

Awal Kehidupan Adolf Hitler

Adolf Hitler lahir pada 20 April 1889 di Braunau am Inn, Austria. Setelah gagal meniti karier sebagai seniman, Hitler pindah ke Jerman dan bergabung dengan militer selama Perang Dunia I.

Pengalaman perang dan kekalahan Jerman membentuk pandangan politiknya yang ekstrem, termasuk nasionalisme radikal, anti-Semitisme, dan penolakan terhadap demokrasi liberal.

Munculnya Partai Nazi

Hitler bergabung dengan Partai Buruh Jerman (DAP) pada tahun 1919, yang kemudian berubah menjadi Partai Buruh Nasional Sosialis Jerman (NSDAP) atau Partai Nazi.

Dengan kemampuan orasi dan propaganda yang kuat, Hitler dengan cepat menjadi tokoh sentral partai. Ideologi Nazi menekankan:

  • Nasionalisme ekstrem
  • Supremasi ras Arya
  • Anti-Semitisme
  • Anti-komunisme

Baca Juga: Aktor Bruno Ganz Pemeran Adolf Hitler Tutup Usia

Kudeta Beer Hall dan Penjara

Pada tahun 1923, Hitler memimpin Beer Hall Putsch, upaya kudeta yang gagal di Munich. Akibatnya, ia dipenjara selama beberapa bulan.

Di penjara, Hitler menulis Mein Kampf, buku yang memuat ideologi Nazi dan visi Jerman di bawah kepemimpinannya. Kegagalan kudeta ini justru menjadi titik refleksi bagi strategi politik Nazi ke depan.

Kebangkitan Nazi Melalui Jalur Politik

Setelah keluar dari penjara, Hitler mengubah strategi dengan mengikuti jalur politik legal. Krisis ekonomi global akibat Great Depression (1929) memperburuk kondisi Jerman dan meningkatkan dukungan publik terhadap Partai Nazi.

Pada awal 1930-an, Nazi berhasil menjadi partai terbesar di parlemen Jerman. Pada tahun 1933, Hitler diangkat sebagai Kanselir Jerman.

Konsolidasi Kekuasaan Nazi

Setelah berkuasa, Hitler dengan cepat menghapus sistem demokrasi. Melalui Undang-Undang Pemberian Kuasa (Enabling Act), dia memperoleh kekuasaan penuh untuk memerintah tanpa persetujuan parlemen.

Langkah-langkah konsolidasi meliputi:

  • Pembubaran partai oposisi
  • Penindasan kebebasan pers
  • Penguatan propaganda negara
  • Pembentukan negara totaliter

Ideologi Nazi dan Dampaknya

Ideologi Nazi berdampak luas, baik di dalam maupun luar Jerman. Kebijakan anti-Semit dan rasisme sistemik berujung pada Holocaust, genosida terhadap sekitar enam juta orang Yahudi.

Secara eksternal, ambisi ekspansionis Nazi memicu Perang Dunia II, membawa kehancuran besar bagi Eropa dan dunia.

Runtuhnya Nazi Jerman

Kekalahan militer dalam Perang Dunia II, tekanan dari Sekutu, dan kehancuran internal menyebabkan runtuhnya rezim Nazi pada tahun 1945.

Adolf Hitler bunuh diri di Berlin, menandai berakhirnya kekuasaannya.

Sejarah Adolf Hitler dan kebangkitan Nazi Jerman menjadi pengingat penting bahwa krisis sosial dan ekonomi dapat membuka jalan bagi ideologi ekstrem jika tidak diimbangi dengan pendidikan kritis, demokrasi yang kuat, dan kesadaran sejarah.

Arika Yafi Fawazzain (Magang) 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
R