Sejarah Perang Teluk dan Konflik Timur Tengah

AKURAT.CO Perang Teluk merupakan salah satu konflik paling berpengaruh dalam sejarah modern Timur Tengah yang melibatkan kekuatan regional dan internasional. Konflik ini tidak hanya dipicu oleh sengketa wilayah, tetapi juga oleh kepentingan ekonomi, khususnya sumber daya minyak, serta dinamika politik global.
Hingga kini, dampak Perang Teluk masih terasa dan menjadi bagian penting dari rangkaian konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: AS Bentuk Skuadron Drone Serangan Pertama di Timur Tengah
Latar Belakang Konflik Timur Tengah
Timur Tengah menjadi pusat konflik berkepanjangan sejak runtuhnya Kekaisaran Ottoman pasca Perang Dunia I, di mana Perjanjian Sykes-Picot 1916 oleh Inggris dan Prancis membagi wilayah secara buatan, mengabaikan batas etnis dan suku lokal, sehingga memicu ketegangan seperti konflik Arab-Israel akibat Deklarasi Balfour 1917.
Kekayaan sumber daya minyak dan gas di Teluk Persia memperburuk perebutan wilayah, seperti sengketa Shatt al-Arab yang memicu Perang Iran-Irak 1980-1988, ditambah perbedaan ideologi Sunni-Syiah serta nasionalisme Arab versus Zionisme yang meletus sejak pembentukan Israel 1948.
Campur tangan kekuatan besar seperti AS dan Uni Soviet selama Perang Dingin, serta rivalitas proksi Saudi-Iran saat ini di Yaman dan Suriah, terus memperpanjang instabilitas geopolitik kawasan yang strategis ini.
Sejarah Perang Teluk
Perang Teluk bermula dari invasi Irak ke Kuwait pada 2 Agustus 1990 yang dipicu krisis ekonomi Irak setelah Perang Iran–Irak. Irak menghadapi utang besar, penurunan harga minyak akibat kelebihan produksi, serta sengketa wilayah dan ladang minyak dengan Kuwait. Kondisi ini mendorong Presiden Saddam Hussein melakukan invasi sebagai upaya memperkuat ekonomi dan posisi politik Irak di kawasan.
Invasi tersebut memicu kecaman internasional dan sanksi dari PBB, serta pembentukan koalisi militer yang dipimpin Amerika Serikat.
Setelah upaya diplomasi gagal, koalisi melancarkan Operasi Badai Gurun pada Januari 1991. Serangan ini berakhir dengan pembebasan Kuwait pada Februari 1991 dan menandai berakhirnya Perang Teluk.
Baca Juga: PIEP Evakuasi Pekerja dari Irak Imbas Konflik Timur Tengah
Konflik Timur Tengah Pasca Perang Teluk
Pasca Perang Teluk, Timur Tengah masih dilanda berbagai konflik, seperti Perang Irak 2003, konflik Palestina-Israel, perang saudara di Suriah dan Yaman, serta ketegangan antara Iran dan negara-negara Teluk. Konflik-konflik ini dipengaruhi oleh faktor politik, sektarian, ekonomi, dan campur tangan asing.
Perang Teluk menjadi salah satu pemicu perubahan dinamika politik kawasan, termasuk munculnya ketidakstabilan berkepanjangan dan meningkatnya radikalisme.
Dampak Jangka Panjang bagi Kawasan dan Dunia
Perang Teluk dan konflik Timur Tengah secara keseluruhan telah menciptakan dampak jangka panjang yang mendalam bagi kawasan dan dunia, antara lain:
1. Krisis Kemanusiaan dan Pengungsi
Konflik pasca-Perang Teluk seperti invasi Irak 2003 dan perang Suriah-Yaman menghasilkan lebih dari puluhan juta pengungsi dan pengungsi dalam negeri, memperburuk kemiskinan, kelaparan, dan penyakit di kamp-kamp seperti di Turki dan Yordania. Hal ini memicu ketegangan sosial global dan meningkatkan xenofobia di Barat.
2. Ketidakstabilan Ekonomi Global
Gangguan jalur minyak di Teluk Persia memicu lonjakan harga energi, terutama pada 1990–1991 dan konflik-konflik setelahnya. Dampaknya terasa secara global melalui inflasi, tekanan ekonomi di negara pengimpor minyak, serta kerugian besar di kawasan akibat kerusakan infrastruktur dan sanksi internasional.
3. Perubahan Hubungan Internasional
Konflik ini merestrukturisasi aliansi, dengan AS memperkuat hubungan Teluk melawan
Iran, sementara Rusia dan China mendukung rezim anti-Barat, memengaruhi kebijakan luar negeri seperti Abraham Accords 2020.
Upaya diplomasi PBB dan inisiatif seperti JCPOA 2015 menunjukkan dorongan menuju stabilitas meski sering gagal.
Sejarah Perang Teluk dan konflik Timur Tengah menunjukkan bahwa konflik bersenjata tidak pernah berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi oleh kepentingan geopolitik, ekonomi, dan kekuasaan global.
Perang Teluk menjadi titik penting dalam dinamika politik Timur Tengah modern dan meninggalkan dampak jangka panjang bagi kawasan serta dunia internasional.
Vidhia Ramadhanti (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









