Zahra, Remaja Pesisir Ternate yang Menjemput Asa Lewat Sekolah Rakyat

AKURAT.CO Jannatul Zahra Umamit (13), gadis asal pesisir Pantai Dufa-Dufa, Ternate, kini kembali menata harapan setelah melanjutkan pendidikan di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 26 Ternate.
Langkah Zahra menuju Sekolah Rakyat berangkat dari kisah pilu yang tersimpan di birunya laut Ternate.
Ayahnya, seorang nelayan, dikabarkan tenggelam setelah perahunya terjebak badai di tengah laut. Hingga kini, jasad sang ayah tak pernah ditemukan.
“Rara ingat sekali, waktu itu hari Minggu. Kami dapat kabar menjelang Subuh kalau kapal Ayah sudah terbalik,” ujar Zahra lirih.
Seperti anak-anak pesisir lainnya, Zahra dahulu gemar berenang dan menyelam di Pantai Dufa-Dufa. Namun sejak kepergian sang ayah, hari-harinya berubah.
Sepulang sekolah, ia membantu ibunya mencari dan menjual ikan ke pasar demi menopang kehidupan keluarga.
“Mama kerja jual ikan. Kalau tidak ada ikan, Mama jadi tukang cuci,” katanya.
Tinggal bersama ibu dan dua adik yang masih kecil, Zahra menyadari tanggung jawabnya sebagai anak sulung. Ia memilih bangkit dan menguatkan diri agar sang ibu tetap tegar menjalani hidup serba terbatas.
Baca Juga: Pemulihan Bencana Aceh Disorot, Bantuan dan Infrastruktur Dicek Langsung
Harapan Zahra kembali menyala ketika ia mendengar kabar tentang Sekolah Rakyat, program pendidikan gratis yang digagas Presiden RI Prabowo Subianto bersama Kementerian Sosial.
“Aku ditanya mau enggak sekolah di Sekolah Rakyat. Awalnya aku dan Mama kaget karena katanya gratis. Sekolah lain kan mahal. Aku mau meringankan beban Mama,” tuturnya.
Hari pertama melangkah ke Sekolah Rakyat menjadi momen tak terlupakan.
Zahra menggenggam erat tangan ibunya saat memasuki gerbang sekolah berasrama itu, membawa impian sederhana dari pesisir Ternate.
Kini, gadis yang terbiasa berjalan kaki puluhan kilometer itu dapat belajar dengan lebih tenang di asrama. Ia pun mulai merangkai mimpi untuk kelak menjadi tentara wanita.
Kebahagiaan Zahra bertambah saat merasakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disediakan Sekolah Rakyat. Menu makanan yang lebih beragam menjadi pengalaman baru baginya.
“Di rumah biasanya makan ikan saja atau bubur. Kalau ada uang lebih baru makan ayam. Sekarang bisa makan sayur, ikan, ayam setiap hari. Senang banget,” katanya sambil tersenyum.
Zahra juga menyampaikan terima kasih kepada para penggagas Sekolah Rakyat.
“Pak Prabowo, terima kasih sudah memasukkan kami ke Sekolah Rakyat. Kami sangat bersyukur karena semuanya gratis. Semoga Pak Prabowo dan Menteri Sosial selalu sehat,” ucapnya.
Sang ibu, Titi Finarti, mengaku bangga pada keteguhan putri sulungnya.
“Penghasilan saya tidak menentu sejak ditinggal Ayah Rara. Saya tahu dia mengerti kondisi di rumah meski jarang bicara,” tutur Titi.
Baca Juga: TIS Perluas Jaringan Digital Nasional Lewat Kabel Laut TGCS-2 Jakarta–Manado
Menurutnya, Sekolah Rakyat benar-benar menjadi jalan bagi Zahra untuk tetap melanjutkan pendidikan di tengah keterbatasan.
Ia mengaku sempat ingin menyekolahkan Zahra ke pesantren, namun biaya asrama dan seragam tak sanggup ia penuhi.
“Mama, terima kasih sudah izinkan Zahra belajar di Sekolah Rakyat. Sekarang Mama enggak perlu khawatir soal biaya,” kata Zahra sambil memeluk ibunya erat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










