AKURAT.CO Cacingan pada sapi meskipun tidak langsung mematikan bisa menyebabkan kerugian besar, yakni pertumbuhan tertahan, bobot menurun, kualitas daging susut, produksi susu drop, bahkan potensi zoonosis bagi manusia.
Untuk itu, penanganan secara “teknologi peternakan” sangat diperlukan, tidak sekadar pemberian obat semata.
Baca Juga: Ini 7 Alasan Produksi Susu Sapi Perah Menurun 1. Obat cacing berbasis teknologi (anthelmintik) sebagai tulang punggung
Obat cacing adalah senjata utama dalam memutus siklus hidup cacing.
Produk dalam bentuk bolus (dicekokkan), serbuk (campur pakan), dan injeksi steril (disuntik) tersedia.
Contohnya: Wormzol-B efektif terhadap cacing gilig, pita, hingga hati dosis: 1 bolus per 200 kg berat badan.
Jenis injeksi harus diberikan oleh dokter hewan atau paramedis terlatih.
Program pemberian harus terjadwal (setiap 3–4 bulan) dan dapat juga diterapkan sebagai langkah preventif.
2. Sanitasi dan manajemen lingkungan sebagai pendukung
Obat saja tidak cukup jika lingkungan tetap “bersarang” parasit.
Praktik kebersihan kandang wajib, yakni membuang kotoran, menjaga drainase, mencegah genangan becek.
Selain itu, sistem penggembalaan harus pintar: hindari pagi hari (larva biasanya di pucuk rumput basah), rotasi padang penggembalaan, atau layukan rumput sebelum diberikan.
Untuk cacing hati, kontrol populasi inang peralihan (siput air) penting misalnya dengan kehadiran bebek/itik sebagai predator biologis.
Baca Juga: Tour De France: Wabah Kulit Sapi Pangkas Etape ke-19 Jadi 90 Kilometer, Batalkan 2 Tanjakan
3. Monitoring & uji parasit sebagai “sensor pintar”
Teknologi laboratorium (seperti MediLab milik Medion) memungkinkan uji feses rutin untuk mendeteksi telur atau larva cacing setiap 2–3 bulan.
Hasil uji menjadi dasar keputusan kapan dan obat apa yang akan digunakan, sehingga penggunaan obat lebih efisien dan tidak asal.
Memadukan inovasi obat, manajemen lingkungan, dan pemantauan berbasis laboratorium, strategi pengobatan cacingan pada sapi menjadi lebih efektif, ekonomis, dan berkelanjutan.
Inilah “agritek” dalam aksi nyata di peternakan modern.
Dinda NS (Magang)