Akurat

Mengapa Bahasa Indonesia yang Dipilih Menjadi Bahasa Nasional, Bukan Bahasa Penjajah Belanda? Ini Penjelasan yang Akurat

Idham Nur Indrajaya | 22 Oktober 2025, 14:03 WIB
Mengapa Bahasa Indonesia yang Dipilih Menjadi Bahasa Nasional, Bukan Bahasa Penjajah Belanda? Ini Penjelasan yang Akurat

 

AKURAT.CO Mengapa bahasa Indonesia yang dipilih menjadi bahasa nasional, bukan bahasa penjajah Belanda? Di tengah gugusan pulau Nusantara yang membentang dari Sabang hingga Merauke, hidup ratusan suku dengan bahasa dan budaya yang berbeda. Setiap daerah memiliki bahasanya sendiri — dari Jawa, Sunda, Batak, Minang, hingga Bugis. Keragaman ini menjadi kekayaan bangsa, namun sekaligus tantangan untuk menemukan satu bahasa yang dapat menyatukan semuanya.

Lalu muncul pertanyaan penting: mengapa bahasa Indonesia yang dipilih menjadi bahasa nasional, bukan bahasa dari penjajah Belanda?

Pertanyaan ini bukan sekadar tentang bahasa, tetapi juga menyangkut identitas, sejarah perjuangan, dan semangat persatuan bangsa Indonesia.


Asal-Usul Bahasa Indonesia: Dari Bahasa Melayu ke Simbol Persatuan

Sebelum bangsa Eropa datang ke Nusantara, bahasa Melayu sudah lebih dulu digunakan secara luas sebagai lingua franca, yakni bahasa penghubung antarsuku dan antardaerah. Bahasa ini menjadi alat komunikasi utama di pelabuhan, pasar, hingga dalam hubungan diplomatik antar kerajaan.

Karena sifatnya yang mudah dipelajari dan netral secara kultural, bahasa Melayu diterima luas oleh masyarakat di berbagai daerah. Itulah mengapa saat pergerakan nasional mulai tumbuh, bahasa ini dianggap paling tepat untuk menjadi dasar bahasa persatuan.

Dalam buku Bahasa Indonesia di Era Digital karya Nessie Illona, disebutkan bahwa Moh. Tabrani adalah orang pertama yang mengusulkan agar alat komunikasi antarsuku yang semula bernama bahasa Melayu diganti menjadi bahasa Indonesia. Tujuannya sederhana namun mendalam: agar Indonesia memiliki identitas sendiri sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat.


Mengapa Bukan Bahasa Belanda yang Dipilih?

Secara logika, bahasa Belanda bisa saja menjadi bahasa nasional karena Belanda menjajah Indonesia selama lebih dari tiga abad. Namun faktanya, bahasa Belanda tidak pernah benar-benar digunakan secara luas di kalangan rakyat.

Bahasa tersebut hanya digunakan oleh kalangan elite kolonial dan pegawai pemerintahan, sedangkan rakyat biasa tetap berkomunikasi dengan bahasa daerah atau bahasa Melayu.

Selain itu, bahasa Belanda lekat dengan simbol penindasan dan ketidakadilan kolonial. Mengadopsi bahasa penjajah sebagai bahasa nasional tentu bertentangan dengan semangat kemerdekaan.

Dengan memilih bahasa Indonesia, bangsa ini ingin menegaskan kemandirian dan perlawanan terhadap kolonialisme. Bahasa Indonesia menjadi bentuk afirmasi bahwa Indonesia tidak lagi berada di bawah bayang-bayang penjajahan, melainkan berdiri di atas identitas dan budaya sendiri.


Sumpah Pemuda 1928: Tonggak Lahirnya Bahasa Persatuan

Puncak pengakuan terhadap bahasa Indonesia terjadi pada Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. Dalam ikrar bersejarah itu, para pemuda dari berbagai daerah dan latar belakang berjanji:

“Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, Bahasa Indonesia.”

Kalimat sederhana itu menjadi dasar kuat yang menyatukan bangsa. Para pemuda sadar, hanya dengan satu bahasa persatuanlah semangat kebangsaan dapat tumbuh.

Bahasa Indonesia akhirnya menjadi bahasa pemersatu, bukan bahasa penindas. Keputusan ini tidak hanya strategis secara politik, tetapi juga penuh makna sosial dan budaya.


Bahasa Indonesia sebagai Identitas dan Simbol Perlawanan

Pemilihan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional bukan hanya keputusan praktis, tetapi juga keputusan ideologis.

Bahasa ini menjadi simbol dari perjuangan melawan kolonialisme, lambang kemandirian, dan alat untuk memperkuat identitas bangsa. Di tengah penjajahan yang berusaha memecah-belah rakyat, bahasa Indonesia menjadi jembatan persatuan bagi seluruh masyarakat dari Sabang sampai Merauke.

Selain itu, bahasa Indonesia mudah dipelajari, memiliki struktur yang sederhana, dan mampu menyerap kosakata dari berbagai bahasa daerah maupun bahasa asing. Fleksibilitas inilah yang membuatnya berkembang pesat tanpa kehilangan jati diri.


Peran Tokoh-Tokoh Bahasa dalam Membesarkan Bahasa Indonesia

Setelah Sumpah Pemuda, banyak cendekiawan dan sastrawan yang berperan penting dalam memperkaya dan memperkuat bahasa Indonesia.

Nama-nama seperti W.J.S. Poerwadarminta, Hoesein Djajadiningrat, dan Soetan Takdir Alisjahbana tercatat sebagai tokoh besar yang mencurahkan hidupnya untuk bahasa nasional.

Mereka menyusun kamus, tata bahasa, hingga karya sastra yang menjadikan bahasa Indonesia bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga wadah ekspresi budaya dan pemikiran bangsa.

Berkat mereka, bahasa Indonesia terus berkembang menjadi bahasa yang mumpuni dan berwibawa, mampu menampung segala bentuk pengetahuan dan karya intelektual bangsa.


Bahasa Indonesia dalam Era Modern dan Globalisasi

Kini, bahasa Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai bahasa persatuan, tetapi juga mulai mendunia. Banyak karya sastra Indonesia yang diterjemahkan ke bahasa asing, sementara lagu-lagu Indonesia dinyanyikan di berbagai belahan dunia.

Dalam konteks global, bahasa Indonesia menjadi jembatan budaya dan komunikasi internasional. Di sisi lain, kemajuan teknologi dan era digital menuntut bahasa ini terus beradaptasi tanpa kehilangan keasliannya.

Karena itu, menjaga dan melestarikan bahasa Indonesia menjadi tanggung jawab bersama. Menggunakannya dengan baik dan benar di media sosial, karya tulis, hingga percakapan sehari-hari adalah bentuk nyata kecintaan kita terhadap bahasa nasional.


Soal dan Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 6 Halaman 17

Berikut ini merupakan bagian dari pembelajaran Bahasa Indonesia kelas 6 dengan tema Bahasaku Bahasa Indonesia berdasarkan buku Kreatif Tematik Tema 5 Ekosistem karya Rusto Wibowo (2019:122).

Soal:
3. Mengapa bahasa Indonesia yang dipilih menjadi bahasa nasional, bukan bahasa dari penjajah Belanda?

Kunci Jawaban:
Karena bahasa Indonesia (yang berasal dari bahasa Melayu) sudah digunakan secara luas sebagai bahasa pergaulan antarsuku, mudah dipelajari, dan tidak terkait langsung dengan penjajahan.

Sementara itu, bahasa Belanda sulit dipelajari dan hanya digunakan oleh kalangan tertentu. Bahasa Belanda juga tidak dapat dijadikan alat pemersatu bangsa Indonesia karena latar belakang sejarahnya yang erat dengan kolonialisme.


Kesimpulan: Bahasa Indonesia adalah Identitas, Persatuan, dan Kebanggaan

Bahasa Indonesia bukan sekadar alat komunikasi, melainkan roh dari persatuan bangsa. Ia lahir dari perjuangan, tumbuh dalam semangat kemerdekaan, dan berkembang menjadi simbol identitas nasional yang membanggakan.

Memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional adalah langkah visioner para pendiri bangsa — sebuah keputusan yang mengakar pada nilai kesetaraan, persatuan, dan cinta tanah air.

Mari terus menjaga dan melestarikan bahasa Indonesia, agar tetap menjadi bahasa yang hidup, berkembang, dan menjadi kebanggaan generasi masa depan.

Kalau kamu ingin tahu lebih banyak tentang sejarah dan makna di balik bahasa Indonesia, pantau terus artikel menarik lainnya di AKURAT.CO.

Baca Juga: Wujudkan Generasi Berdaya Saing Global, Sekolah di Jakarta Diminta Wajib Ajarkan Bahasa Asing

Baca Juga: Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 8 Halaman 92: Kegiatan 4 Menemukan Fakta dan Opini!

FAQ

1. Mengapa bahasa Indonesia yang dipilih menjadi bahasa nasional, bukan bahasa Belanda?

Bahasa Indonesia dipilih karena berasal dari bahasa Melayu yang sudah lama digunakan sebagai bahasa pergaulan antarsuku di Nusantara. Bahasa ini mudah dipelajari, netral secara budaya, dan tidak terikat dengan penjajahan. Sementara bahasa Belanda hanya digunakan kalangan elite kolonial dan identik dengan simbol penindasan.


2. Siapa tokoh yang pertama kali mengusulkan nama “bahasa Indonesia”?

Tokoh yang pertama kali mengusulkan penggunaan nama bahasa Indonesia adalah Moh. Tabrani. Ia ingin agar bangsa Indonesia memiliki identitas bahasa sendiri, bukan sekadar meniru atau melanjutkan bahasa Melayu, demi mempertegas kedaulatan dan jati diri bangsa.


3. Kapan bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa persatuan?

Bahasa Indonesia secara resmi diakui sebagai bahasa persatuan pada Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. Dalam ikrar itu, para pemuda dari berbagai daerah menyatakan tekad untuk berbahasa satu, yaitu bahasa Indonesia.


4. Mengapa bahasa Melayu dipilih sebagai dasar bahasa Indonesia?

Bahasa Melayu dipilih karena sudah dikenal luas di seluruh Nusantara sebagai lingua franca (bahasa penghubung). Bahasa ini digunakan dalam perdagangan, administrasi, dan interaksi antarsuku sejak berabad-abad sebelum masa penjajahan.


5. Apa alasan bahasa Belanda tidak dijadikan bahasa nasional?

Bahasa Belanda sulit dipelajari, hanya digunakan oleh kalangan tertentu, dan memiliki konotasi negatif karena erat kaitannya dengan masa penjajahan. Menjadikan bahasa Belanda sebagai bahasa nasional akan menghidupkan kembali memori kolonial yang ingin dihapus oleh bangsa Indonesia yang merdeka.


6. Siapa saja tokoh penting dalam pengembangan bahasa Indonesia setelah kemerdekaan?

Beberapa tokoh penting dalam pengembangan bahasa Indonesia antara lain W.J.S. Poerwadarminta, Hoesein Djajadiningrat, dan Soetan Takdir Alisjahbana. Mereka berperan besar dalam penyusunan kamus, tata bahasa, dan pengembangan karya sastra berbahasa Indonesia.


7. Apa makna bahasa Indonesia bagi persatuan bangsa?

Bahasa Indonesia menjadi simbol persatuan dan identitas nasional. Ia menyatukan berbagai suku dan etnis dalam satu wadah kebangsaan, menjadi jembatan komunikasi lintas budaya, serta memperkuat rasa memiliki terhadap Tanah Air.


8. Bagaimana peran bahasa Indonesia di era globalisasi saat ini?

Di era digital dan globalisasi, bahasa Indonesia semakin mendunia. Banyak karya sastra dan musik Indonesia diterjemahkan dan diakui di mancanegara. Bahasa ini juga menjadi sarana diplomasi budaya dan identitas bangsa di kancah internasional.


9. Apa hubungan antara Sumpah Pemuda dan lahirnya bahasa Indonesia?

Sumpah Pemuda menjadi tonggak sejarah lahirnya bahasa Indonesia. Dalam peristiwa itu, para pemuda dari berbagai daerah sepakat menggunakan satu bahasa persatuan untuk memperkuat perjuangan menuju kemerdekaan.


10. Mengapa penting menjaga dan melestarikan bahasa Indonesia?

Bahasa Indonesia adalah warisan budaya sekaligus simbol identitas bangsa. Menjaganya berarti menjaga persatuan dan kedaulatan bangsa di tengah gempuran bahasa asing. Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di dunia digital juga menunjukkan kecintaan terhadap Tanah Air.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.