Cegah Bullying di Kampus: Wujudkan Lingkungan Belajar yang Aman dan Inklusif

AKURAT.CO Bullying di lingkungan kampus sering kali terjadi dalam bentuk yang halus dan terselubung, seperti ejekan, pengucilan, atau tekanan sosial terhadap mahasiswa baru.
Padahal, masa awal perkuliahan seharusnya menjadi momen adaptasi, eksplorasi diri, dan pembentukan karakter positif, bukan ajang intimidasi atau perundungan.
Karena itu, kampus memiliki tanggung jawab besar dalam menciptakan suasana yang aman, inklusif, dan bebas dari perilaku bullying.
Pencegahan tidak hanya menjadi tugas pihak rektorat, tetapi juga seluruh civitas akademika: dosen, staf, organisasi mahasiswa, dan para senior.
1. Edukasi dan Kesadaran Kolektif
Langkah pertama yang paling penting adalah meningkatkan kesadaran tentang bahaya bullying. Kampus bisa menggelar seminar, lokakarya, atau kampanye anti-bullying yang menekankan nilai saling menghormati dan menghargai perbedaan.
Melalui edukasi ini, mahasiswa baru akan memahami bahwa tidak ada tempat bagi perilaku diskriminatif atau kekerasan verbal di lingkungan kampus.
2. Sistem Pelaporan yang Aman dan Rahasia
Salah satu alasan korban enggan melapor adalah karena takut tidak dipercaya atau bahkan mendapat balasan. Oleh sebab itu, kampus perlu membangun sistem pelaporan yang aman, mudah diakses, dan bersifat rahasia.
Baca Juga: 7 Amalan Sunnah yang Paling Utama, Jalan Cepat Meraih Cinta Allah SWT
Kanal pengaduan dapat berupa layanan konseling, hotline khusus, atau platform digital anonim yang menjamin keamanan identitas pelapor. Dengan begitu, mahasiswa merasa lebih berani untuk berbicara dan mencari pertolongan.
3. Peran Senior dan Organisasi Mahasiswa
Senior dan organisasi kemahasiswaan memiliki pengaruh besar dalam membentuk budaya kampus. Mereka seharusnya menjadi panutan, bukan pelaku intimidasi.
Kegiatan seperti orientasi mahasiswa baru (ospek) perlu diubah menjadi ruang edukatif yang menumbuhkan solidaritas, empati, dan nilai-nilai kebersamaan antarangkatan, bukan ajang pembuktian kekuasaan.
4. Penguatan Dukungan Psikologis
Banyak mahasiswa baru yang menghadapi tekanan sosial saat beradaptasi dengan lingkungan kampus. Karena itu, layanan konseling harus mudah dijangkau dan bersifat proaktif.
Kampus bisa menyediakan psikolog atau konselor profesional yang siap membantu mahasiswa mengelola stres, kecemasan, dan pengalaman traumatis akibat perundungan.
5. Budaya Empati dan Keberagaman
Pencegahan bullying tidak berhenti pada aturan, tetapi harus tumbuh menjadi budaya kampus yang menghargai empati dan keberagaman.
Baca Juga: 7 Tanda Anak Sudah Siap Punya Gadget Pribadi
Ketika mahasiswa diajak untuk memahami dan menerima perbedaan—baik latar belakang, keyakinan, maupun karakter—maka lingkungan belajar akan menjadi tempat yang aman, sehat, dan menumbuhkan potensi setiap individu.
Bullying, sekecil apa pun bentuknya, tidak boleh dinormalisasi di dunia akademik.
Kampus yang sehat adalah kampus yang membentuk mahasiswa bukan hanya unggul secara intelektual, tetapi juga berkarakter kuat, berempati, dan peduli terhadap sesama.
Mewujudkan lingkungan bebas bullying bukan sekadar kampanye moral, melainkan tanggung jawab bersama untuk menjaga martabat dunia pendidikan.
Laporan: Dinda NS/magang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









