Menurut Konu, Faktor Apa yang Paling Memengaruhi School Well-Being Siswa di Sekolah?

AKURAT.CO School well-being atau kesejahteraan di sekolah kini menjadi salah satu topik penting dalam dunia pendidikan modern. Konsep ini tidak hanya berfokus pada prestasi akademik, tetapi juga mencakup aspek psikologis, sosial, dan emosional siswa selama mereka berada di lingkungan sekolah.
Dalam Modul 2 Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) Topik 4 School Well-Being yang dipelajari dalam Pendidikan Profesi Guru (PPG) 2025, terdapat pertanyaan menarik yang muncul: “Menurut Konu, faktor apa yang paling memengaruhi school well-being?”
Pertanyaan ini mengacu pada hasil penelitian dari Anne Konu dan Jorma Rimpelä (2002) yang menjadi dasar dalam memahami kesejahteraan siswa di sekolah.
Model School Well-Being Menurut Konu dan Rimpelä
Dalam model yang dikembangkan oleh Konu dan Rimpelä, kesejahteraan sekolah (school well-being) terdiri dari empat dimensi utama yang saling berkaitan:
-
Having (memiliki) – berkaitan dengan kondisi fisik sekolah seperti fasilitas, keamanan, dan lingkungan belajar yang mendukung.
-
Loving (dicintai) – berhubungan dengan hubungan sosial di sekolah, seperti rasa diterima, dukungan dari teman sebaya, dan interaksi positif dengan guru.
-
Being (menjadi diri sendiri) – mencakup aspek otonomi, harga diri, serta kesempatan untuk mengekspresikan diri dan berkembang sesuai minat.
-
Health (kesehatan) – mencakup kesehatan fisik dan mental, termasuk kemampuan mengelola stres yang muncul selama proses belajar di sekolah.
Dari empat dimensi tersebut, pengelolaan stres di sekolah menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan siswa.
Pengelolaan Stres di Sekolah, Faktor Paling Berpengaruh
Kunci jawaban untuk pertanyaan “Menurut Konu, faktor apa yang paling memengaruhi school well-being?” adalah B. Pengelolaan stres di sekolah.
Menurut penelitian Konu dan Rimpelä, kesejahteraan siswa sangat dipengaruhi oleh bagaimana mereka mampu mengelola tekanan emosional, akademik, maupun sosial di lingkungan sekolah.
Stres di sekolah bisa timbul dari berbagai hal, seperti:
-
Tugas dan ujian yang menumpuk.
-
Tuntutan untuk meraih nilai tinggi.
-
Tekanan sosial dari teman sebaya.
-
Rasa cemas terhadap masa depan akademik.
Jika stres tersebut tidak dikelola dengan baik, dampaknya bisa sangat luas — mulai dari menurunnya motivasi belajar, meningkatnya rasa cemas dan depresi, hingga gangguan fisik seperti kelelahan dan sulit tidur.
Sebaliknya, sekolah yang memiliki sistem pendukung untuk membantu siswa mengelola stres — misalnya melalui konseling, kegiatan ekstrakurikuler yang menyeimbangkan beban belajar, serta hubungan guru-siswa yang terbuka — akan menciptakan lingkungan belajar yang sehat, aman, dan produktif.
Mengapa Pengelolaan Stres Jadi Kunci School Well-Being
Menurut Konu, faktor pengelolaan stres tidak hanya berkaitan dengan dimensi health, tetapi juga menyentuh aspek being karena berpengaruh langsung terhadap rasa percaya diri, harga diri, dan kemampuan siswa untuk berkembang.
Siswa yang mampu mengelola stres dengan baik cenderung memiliki:
-
Motivasi belajar lebih tinggi, karena tidak merasa terbebani secara berlebihan.
-
Hubungan sosial yang sehat, karena mampu berinteraksi tanpa tekanan emosional.
-
Kesehatan mental lebih stabil, yang mendukung kemampuan kognitif dan daya tahan terhadap tekanan akademik.
Dengan kata lain, kesejahteraan di sekolah bukan hanya soal fasilitas atau kualitas pengajaran, tetapi tentang bagaimana sekolah membantu siswa mengembangkan ketahanan mental.
Faktor Lain yang Juga Mempengaruhi School Well-Being
Meskipun pengelolaan stres merupakan faktor utama, Konu juga menekankan pentingnya aspek lain yang saling melengkapi:
-
Lingkungan fisik yang nyaman dan aman akan membuat siswa merasa betah dan fokus dalam belajar.
-
Hubungan sosial positif dengan guru dan teman sebaya dapat menumbuhkan rasa memiliki dan diterima.
-
Kesempatan untuk aktualisasi diri memberikan ruang bagi siswa untuk mengenal potensi dan minat mereka.
-
Kesehatan fisik dan mental yang baik menjadi fondasi utama bagi kesejahteraan secara keseluruhan.
Namun, semua faktor tersebut tetap berpangkal pada satu hal: bagaimana sekolah mampu menciptakan sistem yang mendukung pengelolaan stres dan keseimbangan emosional siswa.
Kesimpulan
Menurut Konu dan Rimpelä (2002), faktor yang paling memengaruhi school well-being adalah pengelolaan stres di sekolah. Lingkungan sekolah yang mampu membantu siswa mengelola tekanan akademik dan sosial dengan baik akan membentuk suasana belajar yang lebih sehat, produktif, dan bahagia.
Kesejahteraan siswa bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga merupakan hasil dari budaya dan sistem sekolah yang peduli terhadap kesehatan mental. Dengan dukungan yang tepat, siswa dapat tumbuh menjadi pribadi yang kuat, mandiri, dan sejahtera secara emosional.
Baca Juga: Pentingnya Mempertimbangkan Kondisi Peserta Didik dalam Pembelajaran Sosial Emosional
FAQ
1. Apa yang dimaksud dengan school well-being?
School well-being adalah kondisi kesejahteraan siswa di lingkungan sekolah, mencakup aspek fisik, sosial, emosional, dan mental. Konsep ini menilai sejauh mana siswa merasa aman, diterima, dan nyaman selama berada di sekolah.
2. Siapa yang mengemukakan konsep school well-being?
Konsep ini dikembangkan oleh Anne Konu dan Jorma Rimpelä pada tahun 2002. Mereka memperkenalkan model kesejahteraan sekolah dengan empat dimensi utama: having, loving, being, dan health.
3. Menurut Konu, faktor apa yang paling memengaruhi school well-being?
Faktor yang paling berpengaruh menurut Konu adalah pengelolaan stres di sekolah. Stres yang tidak terkelola dengan baik dapat menurunkan motivasi belajar, memicu kecemasan, dan mengganggu kesehatan mental siswa.
4. Mengapa pengelolaan stres dianggap paling berpengaruh terhadap kesejahteraan siswa?
Karena stres berkaitan langsung dengan kondisi psikologis dan emosional siswa. Sekolah yang mampu membantu siswanya mengelola stres akan menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan optimal siswa.
5. Apa saja dimensi dalam model school well-being menurut Konu dan Rimpelä?
Model ini terdiri dari empat dimensi:
-
Having: kondisi fisik dan fasilitas sekolah.
-
Loving: hubungan sosial dan rasa diterima di sekolah.
-
Being: otonomi, harga diri, dan ekspresi diri.
-
Health: kesehatan fisik dan mental, termasuk kemampuan mengelola stres.
6. Bagaimana sekolah bisa membantu siswa mengelola stres?
Sekolah dapat menyediakan layanan konseling, menciptakan hubungan positif antara guru dan siswa, mengatur beban belajar secara proporsional, serta memberi ruang bagi kegiatan non-akademik yang menyenangkan dan menenangkan.
7. Apakah faktor lain juga berpengaruh terhadap school well-being?
Ya. Selain pengelolaan stres, faktor seperti lingkungan fisik yang aman, hubungan sosial yang positif, kesempatan aktualisasi diri, serta kesehatan fisik juga berkontribusi terhadap kesejahteraan siswa.
8. Apa dampaknya jika school well-being diabaikan oleh sekolah?
Jika kesejahteraan siswa diabaikan, mereka dapat mengalami tekanan psikologis, penurunan prestasi akademik, gangguan emosional, hingga perilaku menyimpang. Dalam jangka panjang, hal ini bisa memengaruhi perkembangan mental dan sosial mereka.
9. Bagaimana kaitan school well-being dengan prestasi akademik siswa?
Siswa yang memiliki kesejahteraan sekolah tinggi cenderung lebih fokus, bersemangat belajar, dan memiliki motivasi tinggi. Sebaliknya, siswa yang mengalami stres berat biasanya mengalami kesulitan konsentrasi dan penurunan performa akademik.
10. Mengapa penting bagi sekolah untuk memperhatikan aspek well-being siswa?
Karena kesejahteraan siswa adalah fondasi bagi terciptanya lingkungan belajar yang positif. Ketika siswa merasa nyaman, aman, dan didukung secara emosional, mereka akan lebih mudah mencapai potensi terbaiknya di bidang akademik maupun sosial.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









