Akurat

Apa yang Dimaksud dengan Experiential Learning Menurut David Kolb? Ini Penjelasannya

Naufal Lanten | 5 Oktober 2025, 19:23 WIB
Apa yang Dimaksud dengan Experiential Learning Menurut David Kolb? Ini Penjelasannya

AKURAT.CO Pembelajaran bukan sekadar menumpuk teori di kepala. Bagaimana kita belajar dari pengalaman sehari-hari, merefleksikannya, dan menerapkan pengetahuan tersebut ke kehidupan nyata? Inilah yang menjadi inti dari experiential learning, konsep pembelajaran yang diperkenalkan oleh David Allen Kolb, seorang psikolog pendidikan asal Amerika Serikat.

Lahir pada 12 Desember 1939 di Moline, Illinois, Kolb dikenal sebagai tokoh besar di bidang pendidikan dan psikologi sosial. Ia mengembangkan teori ini pada tahun 1984, terinspirasi dari pemikiran para pendidik sebelumnya, seperti John Dewey, Kurt Lewin, dan Jean Piaget. Teori Kolb kemudian menjadi dasar model pembelajaran berbasis pengalaman yang kini banyak diterapkan di sekolah, kampus, dan pelatihan profesional.


Pengertian Experiential Learning Menurut David Kolb

Menurut David Kolb, experiential learning adalah proses di mana pengetahuan diciptakan melalui transformasi pengalaman. Artinya, belajar bukan hanya soal menghafal teori, tetapi juga bagaimana seseorang memperoleh pemahaman melalui pengalaman langsung, refleksi, pemikiran abstrak, dan penerapan konsep dalam situasi nyata.

Kolb menjelaskan bahwa pengetahuan muncul dari kombinasi antara menangkap pengalaman dan mentransformasikannya menjadi pemahaman baru. Dengan kata lain, pengalaman menjadi sumber utama pengetahuan, bukan sekadar materi teori atau instruksi dari pengajar.

Berbeda dengan teori kognitif yang fokus pada proses mental dan teori behavioristik yang menekankan respon terhadap stimulus, experiential learning menekankan pengalaman subjektif, refleksi, dan penerapan dalam konteks nyata.


Siklus Experiential Learning: Empat Tahap Pembelajaran Kolb

Model Kolb terkenal dengan siklus belajar yang dinamis, terdiri dari empat tahap utama:

  1. Concrete Experience (Pengalaman Konkret)
    Tahap ini melibatkan pengalaman langsung. Siswa atau peserta didik mengalami suatu aktivitas atau peristiwa secara nyata. Pengalaman ini menjadi dasar untuk belajar, karena memberikan konteks yang konkret.

  2. Reflective Observation (Observasi Reflektif)
    Setelah mengalami sesuatu, langkah berikutnya adalah merefleksikan pengalaman tersebut. Di sini, peserta menganalisis apa yang terjadi, mengamati dari berbagai sudut pandang, dan mencari makna dari pengalaman yang dialami.

  3. Abstract Conceptualization (Konseptualisasi Abstrak)
    Dari refleksi, peserta belajar mengembangkan konsep atau teori baru. Tahap ini memungkinkan seseorang membuat pemahaman abstrak yang kemudian bisa diterapkan untuk situasi serupa di masa depan.

  4. Active Experimentation (Eksperimen Aktif)
    Terakhir, peserta mencoba menerapkan konsep atau teori yang telah dipelajari ke dalam situasi baru. Ini bisa berupa tindakan nyata, pengambilan risiko, atau eksperimen untuk melihat efektivitas konsep tersebut.

Kolb menekankan bahwa dua tahap pertama berfokus pada pemahaman pengalaman, sementara dua tahap terakhir berfokus pada transformasi pengalaman menjadi pengetahuan yang dapat diterapkan. Siklus ini bersifat fleksibel; peserta bisa memulai dari tahap manapun, namun pengalaman paling efektif terjadi ketika keempat tahap dijalani secara utuh.


Ciri-ciri dan Keunggulan Experiential Learning

Experiential learning memiliki beberapa karakteristik utama yang membedakannya dari pendekatan tradisional:

  • Berpusat pada peserta didik: Siswa menjadi subjek aktif dalam proses belajar, bukan sekadar objek yang menerima informasi.

  • Mengaitkan teori dan praktik: Peserta tidak hanya mempelajari konsep, tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam konteks nyata.

  • Mendorong refleksi mendalam: Proses refleksi membantu peserta memahami pengalaman dan memperbaiki cara belajar mereka.

  • Mengembangkan keterampilan berpikir kritis: Melalui pengalaman nyata, peserta belajar menganalisis situasi, mengevaluasi informasi, dan mengambil keputusan yang tepat.


Implementasi Experiential Learning dalam Pendidikan

Metode pembelajaran berbasis pengalaman ini dapat diterapkan dalam berbagai cara, seperti:

  • Praktik lapangan atau kunjungan studi

  • Simulasi dan role-playing

  • Studi kasus untuk menganalisis situasi nyata

  • Eksperimen laboratorium

  • Magang atau kerja praktik

  • Proyek kolaboratif dan pembelajaran berbasis masalah

Peran guru di sini bukan hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai fasilitator. Guru membantu siswa merefleksikan pengalaman, memahami konsep, dan mengaitkannya dengan teori atau situasi nyata. Dengan begitu, pembelajaran menjadi lebih bermakna dan tahan lama.


Kesimpulan

Experiential learning menurut David Kolb menegaskan bahwa pembelajaran terbaik terjadi melalui pengalaman langsung, refleksi mendalam, konseptualisasi, dan eksperimen aktif. Model ini membuat peserta didik bukan hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata.

Baca Juga: Bapak dan Ibu Guru, Anda Dapat Mendemonstrasikan Bagaimana Menerapkan Pembelajaran Sosial Emosional dengan Metode Experiential Learning

Baca Juga: Kunci Jawaban Latihan Pemahaman Modul 2 Topik 3: Bagaimana Menerapkan Experiential Learning dalam Pembelajaran Bersama Guru Lain?

FAQ

1. Apa itu experiential learning menurut David Kolb?
Experiential learning adalah proses belajar yang menekankan pengalaman langsung sebagai sumber utama pengetahuan. Menurut Kolb, pengetahuan muncul dari kombinasi menangkap pengalaman dan mentransformasikannya melalui refleksi, konsep abstrak, dan eksperimen aktif.

2. Siapa itu David Kolb?
David Allen Kolb adalah psikolog pendidikan asal Amerika Serikat, lahir pada 12 Desember 1939 di Moline, Illinois. Ia dikenal karena mengembangkan teori experiential learning yang menjadi dasar pembelajaran berbasis pengalaman.

3. Apa saja tahap dalam siklus experiential learning Kolb?
Siklus pembelajaran Kolb terdiri dari empat tahap:

  • Concrete Experience (Pengalaman Konkret): Mengalami aktivitas atau peristiwa secara langsung.

  • Reflective Observation (Observasi Reflektif): Merefleksikan dan menganalisis pengalaman.

  • Abstract Conceptualization (Konseptualisasi Abstrak): Mengembangkan konsep atau teori baru dari refleksi.

  • Active Experimentation (Eksperimen Aktif): Menerapkan konsep atau teori ke situasi baru.

4. Apa perbedaan experiential learning dengan pembelajaran tradisional?
Berbeda dengan metode tradisional yang fokus pada teori atau instruksi guru, experiential learning menekankan pengalaman langsung, refleksi, pengembangan konsep, dan penerapan praktis. Siswa menjadi subjek aktif dalam membangun pengetahuannya sendiri.

5. Apa keunggulan experiential learning?
Keunggulan model ini antara lain:

  • Membuat siswa lebih aktif dan terlibat dalam proses belajar.

  • Mengaitkan teori dengan praktik nyata.

  • Mendorong refleksi dan pemikiran kritis.

  • Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah.

6. Bagaimana cara menerapkan experiential learning dalam pendidikan?
Beberapa metode penerapannya meliputi: praktik lapangan, studi kasus, simulasi, eksperimen laboratorium, magang, proyek kolaboratif, dan pembelajaran berbasis masalah. Guru berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa merefleksikan pengalaman dan menghubungkannya dengan konsep yang dipelajari.

7. Mengapa experiential learning penting?
Karena pembelajaran melalui pengalaman membuat pengetahuan lebih mudah dipahami, diingat, dan diterapkan dalam kehidupan nyata, sehingga siswa lebih siap menghadapi tantangan praktis dan profesional.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.