Perbedaan Gempa Tektonik dan Vulkanik, Mana yang Lebih Berbahaya?

AKURAT.CO Gempa bumi merupakan salah satu fenomena alam yang sering terjadi di beberapa wilayah, baik Indonesia maupun luar negeri.
Secara umum, gempa bumi terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu gempa tektonik dan gempa vulkanik. Keduanya sama-sama menimbulkan getaran di permukaan bumi, tetapi memiliki penyebab, karakteristik, dampak yang berbeda.
Lalu apa perbedaan gempa tektonik dan gempa vulkanik? Simak penjelasan berikut.
Gempa Tektonik
Gempa tektonik adalah gempa bumi yang terjadi akibat pergerakan atau pergeseran lempeng tektonik di lapisan bumi. Pergerakan tersebut bisa berupa tabrakan, pergeseran, maupun saling menjauh antarlempeng yang kemudian melepaskan energi besar hingga menimbulkan getaran di permukaan.
Misalnya, gempa tektonik Aceh pada tahun 2004 yang berkekuatan Magnitudo 9,1-9,3 di dasar laut Samudra Hindia. Gempa tersebut memicu tsunami besar yang melanda Aceh hingga menewaskan ratusan ribu orang.
Dari contoh ini, dapat dilihat bahwa gempa tektonik biasanya berskala besar, memiliki getaran yang kuat, terasa hingga wilayah yang jauh, berdurasi cukup lama, dan berpotensi menimbulkan bencana lain.
Jenis gempa ini umumnya muncul di sepanjang batas lempeng tektonik, baik pada zona konvergen (bertabrakan), divergen (berpisah) maupun transform (saling meluncur).
Berdasarkan kedalaman hiposentrumnya, gempa tektonik terbagi menjadi tiga kategori, yaitu gempa dangkal (0-60 km), gempa sedang (60-300 km), dan gempa dalam (lebih dari 300 km).
Baca Juga: Simulasi Tanggap Bencana PIK2 di Aula Mauk, Warga Ikut Langsung Hadapi Gempa dan Api
Gempa Vulkanik
Gempa vulkanik adalah gempa bumi yang terjadi akibat aktivitas magma di dalam gunung berapi. Tekanan gas serta pergerakan magma yang berusaha keluar menimbulkan getaran pada lapisan tanah dan batuan di sekitarnya.
Misalnya, gempa vulkanik yang terjadi di Gunung Merapi menjelang erupsi tahun 2010. Getaran-getaran kecil tersebut menjadi tanda bahwa magma sedang bergerak naik ke permukaan sebelum akhirnya gunung berapi meletus.
Ciri khas gempa vulkanik adalah berskala relatif kecil, getarannya bersifat lokal, serta durasinya singkat. Meski demikian, gempa ini sering menjadi indikator awal terjadinya letusan gunung berapi. Dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat di sekitar gunung, terutama ketika erupsi menghasilkan lava, lahar, abu vulkanik, gas panas hingga lontaran material padat seperti batu dan pasir.
Jenis gempa ini terbagi menjadi dua, yaitu gempa vulkanik dalam (tipe A) dan gempa vulkanik dangkal (tipe B). Gempa tipe A biasanya bersumber pada kedalaman 1-20 kilometer di bawah gunung berapi, sedangkan gempa tipe B terjadi pada kedalaman kurang dari 1 kilometer dari kawah gunung yang masih aktif.
Baca Juga: Apa Itu Sesar Lembang? Ancaman Gempa Aktif di Jawa Barat
Perbedaan Gempa Tektonik dan Gempa Vulkanik
Perbedaan utama antara gempa tektonik dan gempa vulkanik terletak pada penyebab dan dampaknya.
Gempa tektonik disebabkan oleh pergeseran lempeng bumi dengan jangkauan getaran yang luas dan berpotensi menimbulkan kerusakan besar, sedangkan gempa vulkanik dipicu oleh aktivitas magma di sekitar gunung berapi.
Meskipun berbeda, gempa tektonik maupun gempa vulkanik sama-sama merupakan fenomena alam yang berpotensi membahayakan manusia dan lingkungan.
Pemahaman mengenai ciri serta perbedaannya sangat penting agar masyarakat dapat meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah rawan gempa dan kawasan gunung berapi aktif.
Dengan pengetahuan yang tepat tentang gempa, langkah mitigasi bencana bisa dilakukan lebih baik sehingga risiko kerugian jiwa maupun materi dapat diminimalkan.
Baca Juga: Kisah Gempa Bumi di Zaman Rasulullah SAW, Berkekuatan Berapa Skala Richter?
Laporan: Vania Tri Yuniar/magang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









