Akurat

Studi Kasus PPG 2025 untuk Guru SD Kelas 3: Contoh Lengkap dan Tips Menyusun Jawaban

Kosim Rahman | 1 Agustus 2025, 09:45 WIB
Studi Kasus PPG 2025 untuk Guru SD Kelas 3: Contoh Lengkap dan Tips Menyusun Jawaban

AKURAT.CO Studi Kasus PPG 2025 menjadi komponen penting yang wajib dipahami oleh guru SD, khususnya yang tengah mempersiapkan diri menghadapi Uji Kompetensi Peserta Pendidikan Profesi Guru (UKPPPG).

Bagi pengajar kelas 3 SD, memahami format dan cara menyusun studi kasus berbasis pengalaman nyata di kelas sangat krusial untuk menunjang kelulusan.

Dalam konteks ini, studi kasus PPG 2025 SD harus disusun maksimal 500 kata, menjawab empat pertanyaan pemantik utama:

  • Permasalahan apa yang pernah Anda hadapi dalam pembelajaran?
  • Bagaimana cara Anda menyelesaikannya?
  • Apa hasil dari upaya yang dilakukan?
  • Pengalaman berharga apa yang Anda petik dari kejadian tersebut?

Studi kasus ini bertujuan mengevaluasi kemampuan reflektif guru dalam menghadapi dan menyelesaikan permasalahan pembelajaran secara nyata.

Baca Juga: Lolos PPG 2025? Inilah 5 Contoh Studi Kasus LKPD untuk Referensi Kamu!

Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan harus solutif, aplikatif, dan menggambarkan nilai-nilai pedagogis yang kuat.

5 Contoh Studi Kasus PPG 2025 SD Kelas 3

1. Pembelajaran Tidak Kondusif karena Renovasi Sekolah

Saat ruang kelas tidak tersedia karena renovasi, pembelajaran dialihkan ke aula. Akibatnya, siswa menjadi kurang disiplin dan suasana belajar tidak efektif.

Solusinya, guru bekerja sama menciptakan iklim belajar menyenangkan dengan pendekatan disiplin positif dan emosional.

Hasilnya, siswa mulai menunjukkan sikap disiplin meskipun dalam kondisi terbatas.

Pengalaman ini membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan hambatan mutlak dalam menciptakan pembelajaran yang bermakna.

2. Perundungan dan Diskriminasi Antar Siswa

Guru mendapati siswa saling mengejek berdasarkan suku atau logat bicara.

Untuk mengatasi ini, dilakukan diskusi kelas, pembuatan aturan anti-perundungan, dan pembentukan kelompok belajar heterogen.

Pendekatan edukatif ini membuahkan hasil positif, membuat kelas lebih inklusif.

Guru belajar bahwa penanaman nilai toleransi harus dilakukan secara eksplisit sejak dini.

3. Ketidakdisiplinan dalam Mengikuti Instruksi

Banyak siswa tidak memperhatikan instruksi guru, sehingga sering terjadi kesalahan saat mengerjakan tugas.

Solusinya adalah dengan membiasakan sinyal perhatian, memberikan instruksi bertahap, serta melibatkan siswa dalam proses pengingat.

Hasilnya, siswa lebih fokus dan efisien dalam mengikuti pembelajaran. Guru menyadari pentingnya strategi komunikasi yang konsisten dan menarik dalam mengelola kelas.

4. Siswa Sulit Bekerja Sama dalam Kelompok

Baca Juga: Contoh Studi Kasus PPG 2025 untuk Jenjang SMA: Sudah Tervalidasi dan Minimal 390 Kata

Dalam kerja kelompok, beberapa siswa mendominasi sementara yang lain pasif. Guru memberikan pelatihan kolaborasi dan menetapkan peran yang jelas dalam setiap tim.

Pendekatan ini mendorong siswa untuk memahami tanggung jawab mereka, dan kerja sama menjadi lebih efektif.

Pengalaman ini menunjukkan pentingnya membangun keterampilan sosial sejak dini.

5. Siswa Tidak Jujur Saat Mengerjakan Tugas

Beberapa siswa menyalin tugas dari teman karena takut salah. Guru tidak menghukum, melainkan mengajak diskusi dan memberikan kesempatan perbaikan melalui tugas reflektif.

Hasilnya, siswa mulai mengerjakan tugas dengan jujur dan bertanggung jawab.

Dari sini, guru menyadari bahwa kejujuran harus dibangun melalui proses, bukan paksaan.

Contoh studi kasus PPG 2025 SD ini dapat menjadi inspirasi bagi guru dalam menulis pengalaman pribadi yang mencerminkan profesionalisme, solusi kreatif, dan pembelajaran reflektif.

Studi kasus yang baik tidak hanya menggambarkan masalah, tetapi juga menunjukkan nilai-nilai pendidikan dan perubahan positif yang nyata.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.